Bab 20 — Istana Hitam

626 Kata
Bau tanah basah dan aroma dingin yang tajam menyambut kesadaran A-Ning. Ia tidak mencium bau asap Desa Liang yang terbakar, tidak juga mendengar raungan Shen Wei atau amukan ombak Lan Zhao. Yang ada hanyalah keheningan yang lembap. Ia membuka mata. Langit-langit ruangan itu tinggi, melengkung, dan gelap, dihiasi ukiran ular yang melilit tiang-tiang penyangga. "Kau bangun lebih cepat dari dugaanku," sebuah suara halus dan dingin menyapa. Yan Xiu berdiri di sudut remang, iris matanya yang vertikal berkilat pelan. Dia adalah variabel yang tidak ada dalam rencana A-Ning. Rencana awal A-Ning sederhana: membiarkan kekacauan memuncak, memalsukan kematiannya di tengah api, dan menghilang bersama Mo Yu dan Ling’er. Namun, luka perut itu nyata, dan jika Yan Xiu tidak menariknya keluar dari tumpukan mayat bandit sebelum para pahlawan Tang menemukannya, A-Ning mungkin benar-benar sudah menjadi abu. "Di mana mereka?" tanya A-Ning datar. Suaranya serak. "Pelayan cerewetmu sedang menangis di dapur, dan si Gagak itu sedang mengasah pedang di aula depan," jawab Yan Xiu, mendekat dengan gerakan halus tanpa suara. "Kau berhutang nyawa padaku, Jiang A-Ning. Seluruh dunia mengira kau sudah mati terbakar. Chang'an sedang berkabung, dan para siluman itu... yah, mereka sedang saling membantai karena gagal menjagamu." A-Ning hanya mengangguk pelan. Ia tidak merasa sedih atas duka mereka. Ia justru merasa lega. Sunyi. Akhirnya. Perjalanan Baru Beberapa hari kemudian, luka A-Ning belum pulih benar, tapi ia sudah tidak betah diam. Ia keluar dari kamar bawah tanah milik Yan Xiu, mengenakan pakaian sederhana yang jauh dari sutra istana. Di gerbang belakang kediaman rahasia sang pangeran ular, Mo Yu dan Ling’er sudah menunggu. "Nona!" Ling’er langsung memeluk kaki A-Ning, menangis sesenggukan. "Jangan mati lagi, hamba tidak kuat kalau harus pura-pura menyiapkan pemakaman!" Mo Yu hanya diam, namun matanya yang tajam mengamati setiap inci tubuh A-Ning, memastikan tidak ada lagi darah yang merembes. "Kita akan pergi," ujar A-Ning. "Mau ke mana kita?" tanya Ling’er sambil mengusap ingusnya, menatap jalan setapak yang membentang menuju hutan perbatasan. Yan Xiu, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka, menyela dengan nada santai namun penuh ambisi. "Bagaimana kalau kita bikin istana sendiri? Di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh si Serigala bodoh atau si Duyung posesif itu." "Melelahkan," sahut Mo Yu seketika. A-Ning mengangguk, berpikir dengan ekspresi yang sama datarnya. "Terlalu banyak tiang yang harus dibersihkan." Yan Xiu mendengus, merasa tawarannya yang megah baru saja dihancurkan oleh kepraktisan seorang pelayan dan kejujuran seorang gadis kosong. "Baiklah, jadi apa rencana besarnya? Menyelamatkan dunia lagi? Memperbaiki atap gubuk?" A-Ning diam sebentar. Perutnya berbunyi pelan. "Aku lapar," jawabnya singkat. "Sate gagak sepertinya enak," asal jawab Yan Xiu sambil melirik Mo Yu dengan seringai tipis. Ling’er langsung menjerit dan memeluk Mo Yu pelan, seolah ingin melindungi sang siluman gagak dari pemangsa di depannya. Mo Yu hanya menatap Yan Xiu dengan pandangan membunuh. A-Ning, dengan wajah tanpa dosa, melangkah mendekat dan menutup telinga Mo Yu dengan kedua tangannya yang masih dibalut perban. "Jangan dengarkan dia, Mo Yu. Ular memang suka bicara sembarangan." Yan Xiu tertawa pelan, tawanya dingin tapi kali ini tidak terdengar seperti racun. "Ups... sepertinya aku harus mengganti makanan kesukaanku," gumamnya, memperhatikan A-Ning yang masih serius menutup telinga Mo Yu. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan di bawah napasnya, "Tapi sate gagak itu memang enak." A-Ning menurunkan tangannya, menatap ke arah matahari yang mulai terbit. Ia tidak memiliki tujuan, tidak memiliki cinta yang ia pahami, dan tidak memiliki rumah yang utuh. Namun, saat ia mulai melangkah diikuti oleh seorang pelayan cerewet, seorang siluman gagak yang setia, dan seorang pangeran ular yang terobsesi, ia merasa "kebisingan" di kepalanya sedikit mereda. Mereka berjalan menjauh dari Tembok Tang yang runtuh, meninggalkan kepingan zirah yang tertinggal di debu masa lalu, menyongsong dunia yang luas dan liar—tempat di mana A-Ning tidak perlu menjadi siapa-siapa, kecuali dirinya sendiri yang kosong dan bebas. TAMAT
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN