Bab 6 — Tembok

640 Kata
Aula Hukum Istana Daming tidak dibangun untuk kenyamanan; ia dibangun untuk mengintimidasi. Langit-langitnya yang tinggi menelan suara, menyisakan gema langkah kaki yang terasa seperti ketukan vonis. Di tengah aula, Li Jian duduk di balik meja cendana yang dipenuhi gulungan laporan militer dan titah kekaisaran. Di usianya yang ke-22, Putra Mahkota Tang itu adalah definisi dari presisi. Tidak ada sehelai rambut pun yang keluar dari tatanannya, dan tidak ada satu pun emosi yang lolos dari wajahnya yang terpahat kaku. Baginya, manusia hanyalah variabel dalam persamaan negara. "Berdiri di sana," suara Li Jian datar, bahkan tidak mengangkat wajah dari gulungan kertas di tangannya. A-Ning, yang kini telah menetap beberapa bulan di istana, berdiri tiga meter di depannya. Pakaiannya sudah diganti dengan sutra yang pantas, namun rambutnya tetap diikat asal, kontras dengan keteraturan di ruangan itu. Ia diam, matanya yang tajam tidak menatap lantai seperti gadis lain, melainkan "mengukur" Li Jian—menghitung berapa detik pria itu berkedip, memperhatikan ritme napasnya yang stabil. "Kau melanggar protokol keamanan. Memanjat atap Paviliun Anggrek hanya untuk mengambil layang-layang pelayan?" Li Jian akhirnya mendongak. Matanya gelap dan lelah, namun tetap tajam. "Identitasmu sebagai anak Jenderal Jiang melindungimu dari hukuman fisik, tapi tidak dari hukum logika. Kau bisa jatuh dan mati." A-Ning memiringkan kepalanya sedikit. "Kalau aku mati, bukankah variabel pengganggu di istanamu berkurang, Taizi-gege?" Pena bulu di tangan Li Jian berhenti bergerak. Istilah Taizi-gege—panggilan akrab yang jahil—terasa seperti duri yang menusuk kesunyian aula. Tidak ada yang berani memanggilnya begitu selama sepuluh tahun terakhir. Itu adalah panggilan yang "kotor" bagi telinga seorang birokrat kaku sepertinya. "Panggil aku dengan gelarku," balas Li Jian tanpa riak. "Dan jangan gunakan nada menggoda itu padaku. Itu tidak berfungsi pada orang yang menghabiskan seluruh hidupnya membaca hukum." "Hukum tidak punya suara, gege," A-Ning melangkah maju satu tindak, mengabaikan garis batas yang tak terlihat. "Ayahku bilang, tembok istana ini terlalu tebal sehingga orang di dalamnya lupa bagaimana rasanya angin. Aku hanya ingin tahu, apakah kau juga terbuat dari batu seperti meja ini?" Li Jian meletakkan penanya. Ia berdiri, tubuhnya yang tinggi tegap seketika membayangi A-Ning, menciptakan tekanan udara yang berat. Ia adalah pemimpin yang tidak peduli pada air mata, hanya pada hasil. Namun, ada sesuatu pada tatapan kosong A-Ning yang membuatnya merasa seperti sedang melihat cermin yang retak. "Aku terbuat dari tanggung jawab yang tidak akan pernah kau mengerti," ujar Li Jian dingin. Ia berjalan mengitari meja, mendekati A-Ning hingga jarak mereka hanya sejangkauan tangan. "Kau ditahan di sini bukan karena keinginanmu, dan aku menjagamu bukan karena kasih sayang. Kau adalah utang darah yang harus dibayar oleh kekaisaran." A-Ning tidak mundur. Ia justru sedikit mendongak, menatap lekat-lekat jakun Li Jian yang bergerak saat bicara. "Utang darah ya? Kalau begitu, bayar aku dengan sedikit kebebasan. Jangan biarkan pelayanmu mengikutiku seperti lalat." Li Jian menatapnya lama—sebuah tatapan yang menguliti, mencari celah ketakutan yang biasanya ada pada anak seusianya. Namun, ia hanya menemukan kekosongan yang liar. "Kau akan tetap diawasi," putus Li Jian, kembali ke mode kerjanya yang efisien. "Bukan karena aku peduli padamu, tapi karena kehilanganmu akan menjadi catatan kegagalan dalam administrasiku. Keluar." A-Ning tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai mata, namun cukup untuk membuat suasana aula terasa sedikit lebih panas. Sebelum berbalik, ia berbisik pelan, "Kau sangat membosankan, Taizi-gege. Tapi detak jantungmu... barusan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hukum tidak bisa menyembunyikan itu." Li Jian tidak menjawab. Ia segera mengambil gulungan berikutnya, memaksa matanya fokus pada angka-angka logistik barak militer. Namun, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menyadari bahwa tembok aulanya terasa terlalu sempit, dan bau asap yang samar dari pakaian A-Ning mulai mengganggu keteraturan dunianya. Di luar aula, A-Ning menyentuh dinding batu yang dingin. Ia tahu, di balik tembok kaku Li Jian, ada retakan yang bisa ia masuki. Ia tidak takut ditahan; ia hanya sedang mengukur berapa lama "batu" itu bisa bertahan sebelum hancur oleh kekacauannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN