"Coba siapa yang gak kesal! Mas tahu sendiri di antara kita yang bermasalah Mas, bukan aku. Tapi keluarga Mas selalu memojokkanku. Apa harus hasil tes itu aku tunjukkan pada mereka? Biar mereka berhenti membully." Telapak tangan mengusap kasar air mata yang turun. Untung saja saat kami sampai rumah, orang-orang menjengkelkan itu sedang pergi.
Tidak bisa membayangkan jika mama Mas Dales dan keluarganya masih ada dan mendengar keributan kami, pasti akan ada perang yang lebih besar. Apa lagi jika mereka tahu kalau suamiku yang bermasalah.
"Jangan! Oke ... oke. Mas akan suruh pulang Mama dan yang lainnya, tapi kamu jangan mengatakan hasil tes itu!" Mas Dales mengusap gusar wajahnya. Tampak sekali ketakutan di sana.
Dalam kemarahan, aku tersenyum senang.
Memang susah hidup dengan keluarga yang dari akarnya sudah toxic. Bikin sakit hati, dan lama-lama bikin stres. Untung aku tidak masuk dalam golongan gangguan jiwa berat, meski setiap hari makan hati.
"Kita harus buat perjanjian," lanjutku.
Mas Dales mengangguk lemah, dia terpaksa setuju, karena jika tidak, maka aibnya akan aku sebar.
Lelaki mana yang tidak malu ketika mengetahui dirinya bermasalah? Begitu juga dengan Mas Dales.
"Lakukan apa pun yang kamu mau lakukan, asal jangan membocorkan rahasia kita." Lelaki itu mengusap kasara wajahnya lagi.
"Ya udah! Kalau mereka sudah pergi baru aku kembali ke rumah, tapi jika mereka masih di sini, jangan harap aku pulang!" Aku beranjak dari kursi dan masuk ke kamar untuk membereskan beberapa barang-barang. Untuk sementara mungkin menginap di tempat Sany adalah opsi paling aman yang kupilih.
Mas Dales tidak mengejarku masuk ke kamar, entah apa yang dilakukan lelaki itu di ruang tamu. Mungkin sibuk mencari alasan yang tepat untuk mengusir keluarganya, atau mungkin juga sedang memberi pengertian kepada selingkuhannya tentang absennya dia malam ini.
Sejak kami datang dan beradu argumen, ponsel Mas Dales tidak berhenti berdering. Panggilan dari orang yang sama aku rasa, karena ketika matanya melirik ke layar, tidak ada ekspresi berarti yang dia tunjukkan.
Semoga saja Mas Dales sudah bosan dengan wanita itu dan kembali padaku.
"Dek, kamu mau nginap di rumah siapa?" Akhirnya lelaki itu menyusulku ke kamar juga.
"Entah. Yang jelas bukan di tempat laki-laki." Aku memasukkan lipatan pakaian terakhir ke dalam koper kecil. Setelah selesai, segera menariknya ke luar dari kamar.
"Hati-hati di sana! Kalau Mama sudah pergi nanti aku kasih kabar." Dia ingin memelukku, tapi dengan lembut, aku menghindar.
Enak saja, setelah tadi pagi mempermalukanku di depan banyak orang, sekarang mau memelukku? Tak sudi!
Kaki melangkah menjauh dari rumah yang biasa tempat aku menghabiskan waktu. Sempat berhenti sejenak, untuk melihat ke arah samping kiri, di mana ada taman kecil dengan pohon bunga tulip yang tumbuh di beberapa di sana.
Setelah beberapa menit mengucapkan selamat tinggal pada kursi taman yang biasa aku duduki, langkah kaki kembali bergerak meninggalkan pekarangan.
Kamu tunggu sebentar di depan kalau aku belum pulang. Lagi ada janji sama pacar, nih!
Pesan dari Sany masuk ke ponselku. Oke, karena jika langsung ke sana juga nantinya hanya akan sendirian, aku memutuskan untuk terlebih dahulu ke rumah sakit menjenguk Adios.
Sekarang ada suster khusus yang dia sewa untuk melayani kebutuhannya. Dan itu meringankan aku yang biasanya menghabiskan waktu di sana sepulang kerja. Meski tetap saja ketika di butuh sesuatu pasti merengek padaku.
Benar saja, ketika sampai di rumah sakit, Adios sudah menunggu dengan wajah ditekuk. Jelek sekali. Persis anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan permen.
"Lama banget, sih lo! Tahu gak gue pengen banget disuapin makan sama lo." Dia memberi isyarat dengan matanya ke makanan yang belum tersentuh sama sekali.
"Kan ada suster, kenapa harus nunggu gue?" Setelah meletakkan ponsel dan tas di atas meja, aku mengambil makanan tersebut.
"Kan lo Kakak gue, ya tanggung jawab ngurus adiknya lah!"
Aku melempar tatapan jengah. Sejak kapan aku mengiyakan untuk menjadi kakak lelaki itu? Dari pada kakak kenapa tidak kekasih?
Terus kalau Mas Dales sudah putus sama selingkuhannya, aku akan kembali pada suamiku dan memutuskan Adios.
Harapan yang jelek. Pantas saja tidak terkabul.
"Nanti mau nginep di sini?" tanya Adios.
"Gak. Aku di rumah teman." Suapan terakhir masuk ke mulut anak itu. "Lagian buat apa bayar suster kalau lo masih
bergantung padaku?"
Adios meneguk air putih, lalu kembali merebahkan badannya. "Lo bisa diajak ngobrol, dia gak ngomong kalau gak ditanya."
"Itu namanya profesional, Adios!"
"Tapi gue bosan gak ada teman bicara," keluhnya.
"Gadis suster yang kemarin emang ke mana?"
"Masuk shift pagi!" Dia menutup mulutnya seolah kelepasan mengatakan sesuatu. Dan memang benar adanya.
"Jadi gue dibutuhkan saat dia gak ada? Buaya lo!" Aku berdiri dari tempat duduk dan mengambil tas serta dompet. "Gue mau tidur, besok kerja!"
"Jangan marah, Kak! Bukan itu maksudnya!"
"Bodo amat! Gue ke sini kalau pas luang, kalau gak suruh gadis itu ngurusin kamu!"
"Kak, tidur sini aja kenapa?" Adios masih berusaha menahanku.
"Males. Sana tidur sendiri, atau undang tuh suster yang kemarin untuk nemenin lo!" Selesai mengatakan itu, aku benar-benar pergi meninggalkan Adios.
Memang aku semurah itu? Dijadikan cadangan saat yang lain tidak bisa datang.
Beranjak dari rumah sakit, aku pergi ke kosan Sany. Ternyata gadis itu sudah menungguku di depan kamarnya.
"Kamu ke mana aja? Katanya hampir sampai, kok aku nunggu sejam gak muncul-muncul." Dia mengambil koperku dan menariknya masuk ke kamar.
"Mampir bentar tadi. Eh, kamu udah makan?"
Sany mengangguk. "Ditraktir Mas Pacar tadi." Dia meringis bahagia.
"Aku mungkin di sini beberapa hari, ya! Kamu gak apa-apa?" Kosan Sany tidak luas, kalau tambah aku yang tinggal di sana terasa sempitnya.
"Malah senang, tahu! Aku jadi ada teman begadang nonton drakor!" Sany tertawa.
Ruangan ini berukuran panjang lima meter dan lebar empat meter. Di sudut sebelah pintu, ada kamar mandi kecil. Lalu di sudut lainnya dipasang jendela untuk sirkulasi udara, di bawah jendela, Sany membuat dapur mini dengan perabotan seadanya. Juga kulkas di dekat dapur dan mesin cuci.
Di tengah ruangan, dia pasang karpet rasfur warna gold dan kasur yang hanya muat dua orang. Televisi dan dispenser terletak di depan kasur, menempel tembok.
"Sudah pergi mertua kamu?" tanya Sany. Dia mengambil remote televisi dan menekan tombol on.
"Belum. Makanya aku nginep di sini." Aku mulai menceritakan tentang kejadian kemarin yang membuat Mas Dales marah. Juga perjanjian hari ini dengan suamiku kepada Sany.
Hanya tentang Adios yang belum bisa aku ceritakan pada dua teman baruku tersebut.
"Jadi berapa lama kamu di sini? Atau pindah aja sekalian ngekos bareng aku. Dari pada tinggal sama suami kamu yang kasar itu!"
"Mas Dales gak kasar, San. Dia hanya takut kehilangan aku!"
"Ya Tuhan, kamu bucin banget, sih! Jelas-jelas dia selingkuh, main tangan, jelekin kamu di muka umum, masih juga dibelain." Dia menggeleng kesal.
Aku tersenyum. Bagaimana lagi, dia suamiku. Sebisa mungkin aku tetap membelanya, meski cukup tahu kalau pembelaan itu merasa tak dihargai.
Malam itu, aku tidur dengan nyenyak di tempat Sany. Ponsel sengaja kumatikan dari jam delapan. Biar dua lelaki itu tidak terus saja mengganggu.
Namun, ternyata mereka tidak mengizinkanku menikmati nyenyaknya tidur lebih lama.
Dalam mimpiku, Mas Dales dan Adios tengah berantem memperebutkan seorang wanita.
Dan wanita itu, Ganesh, mamanya Adios.
"Sialan!" Aku terbangun dan mencari pasokan udara sebanyak-banyaknya. Mimpi itu seolah nyata. Mereka mengabaikanku dan berusaha menarik perhatian Ganesh. Apa memang ke depannya hubungan kami akan seperti dalam mimpiku?
Di mana aku tidak berarti apa-apa bagi dua lelaki tersebut. Mungkin saja iya, atau sebaliknya.
Yang jelas, di saat ini, aku kembali merasa tidak berharga.