"Oh, jadi perang sama mertua?" Adios menyodorkan tisu, dengan cepat aku menyambarnya dan mengeluarkan ingus.
Terlihat lelaki itu bergidik jijik, dan itu cukup bagiku untuk lebih semangat lagi untuk menguras semua isi hidung.
Sroooot!
"Dih, jorok banget sih lo!" Adios memalingkan wajahnya.
Aku terkekeh. Lalu mencolek pinggangnya.
"Ya elah, malah gue. dijadikan lap." Dia mengusap bagian yang baru saja kena jariku dengan ekspresi lucu.
Aih, manisnya, ingin sekali rasanya mencubit pipinya yang menggemaskan dan bibirnya yang menggoda. Seandainya saja ....
Duh, mikir apa sih aku ini? Terlalu jauh ngelantur.
"Aku butuh hiburan!" ujarku akhirnya. Memang benar, satu-satunya yang kubutuhkan sekarang bukan nasihat atau masukan, tapi hiburan yang bisa membuat kebencian di hati sedikit hilang.
Menahan benci sama capeknya dengan menahan rindu.
"Gue bukan badut!" Adios mengambil ponsslnya, lalu mengetik sesuatu di atas layar.
"Ya, hibur gue atau gimana kek."
"Bisa, sih. Tapi nunggu gue sembuh."
"Keburu gak sedih lagi, Adios!" Kembali lagi aku menangis, teringat dengan perkataan pedas dari mertua dan adik ipar tadi.
Setelah puas menangis, aku masuk ke kamar mandi dan mencuci wajah. Tidak lupa mengeringkannya dengan tisu dan menaburkan bedak tabur tipis untuk menutupi sembab. Selesai semua, aku keluar dan duduk di kursi samping ranjang Adios.
Lega. Ada yang bisa kujadikan tempat sampah saat dibutuhkan. Agar sampah-sampah di dalam hati hilang seiring redanya tangisanku.
"Lain kali kalau mau ketemu mertua bawa sianida," ujar Adios yang masih sibuk mengganti saluran televisi.
"Kalau membunuh gak masuk penjara, udah gue cekik dari lama." Aku memeriksa ponsel lagi. Pesan dari Mas Dales masuk. Isinya tentu saja tentang keributan yang baru saja terjadi.
Kalau tidak pulang dan meminta maaf pada Mama, jangan salahkan kalau aku menceraikanmu.
Bagus. Ini yang aku tunggu. Meski tidak pernah bercita-cita menjadi janda, tapi aku menanti saat Mas Dales menceraikanku.
Memang apa lagi yang harus dipertahankan? Jika bukan karena balas budi, aku mana sudi bersama dengan lelaki kasar macam dia. Membuang tenaga, waktu dan yang jelas membuang kewarasan.
Bohong kalau aku tidak mencintainya, tapi semua lebur terkikis seiring waktu karena. sikap Mas Dales.
Cinta ini masih ada, tapi rasa sayangku padanya sudah habis tak bersisa.
"Mas Dales mau menceraikanku kalau aku gak pulang!" Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan masalah sendiri. Dengan menceritakan pada Adios, beban di hati berkurang sedikit.
"Bagus, dong! Lagian lelaki modal janji kek dia buat apa dipertahanin."
"Tapi apa keputusanku ini benar?"
Adios mengangguk. "Tentu saja sangat benar!"
Aku menatap langit-langit menerawang kembali kilas perjalanan rumah tangga yang kulewati bersama Mas Dales. Meski tidak manis melulu, tapi ada kenangan di sana.
"Sana tidur! Besok kerja, kan?" Adios melempar satu bantal ke arahku. "Jangan lupa berdoa, supaya di dalam mimpi, mertua lo gak datang juga."
Vangke! Aku melempar kembali bantal tersebut ke arahnya. "Gue sumpahin lo dapat mertua yang lebih kejam."
"Oh tidak bisa. Gue mau nyari yang orang tuanya sudah meninggal." Dia mengedipkan sebelah matanya. "Kalau lo mau sih, lebih enak gue gak usah nyari."
Aku mencibir. Lalu beranjak dari kursi dan menuju ke ranjang khusus untuk orang yang jaga.
Pagi harinya.
Sudah kuduga Mas Dales pasti menunggu kedatanganku di kantor. Ya memang sengaja aku tidak membalas pesan atau mengangkat panggilan telefonnya. Peduli amat dengan ancaman yang di kirimkan semalam.
Begitu turun dari taksi, terlihat lelaki itu berkacak pinggang di depan lobi. Napasnya naik turun seiring langkah kakiku yang semakin mendekat.
"Tidak pulang tidur di mana kamu? Dasar istri gak tahu diri, sudah untung aku mau menampungmu. Suami lembur malah kamu membuat onar. Lihat, sekarang Mama sakit hati karena ulah kamu!" Dia menunjuk tepat di mukaku saat mengatakan kalimat tersebut.
Lembur katanya? Oh, aku lupa. Dia memang lembur di hotel dengan wanita itu.
Malu dan kesal kurasakan, tapi sebisa mungkin ditahan agar suasana tidak semakin memanas. Apa lagi kami menjadi objek pandangan para pegawai yang akan masuk ke dalam kantor.
"Mas harus dengar penjelasan dari aku juga, biar adil." Aku mencoba membelas diri, meski tahu itu percuma.
"Gak usah bikin alasan! Mama sudah menceritakan semua."
Menceritakan keburukkanku iya. Tapi kalau bercerita tentang kejadian sesunggungnya, aku tidak yakin.
"Nanti pulang kerja kita bicara! Awas kamu kabur!" Dia meninggalkanku yang masih berdiri tak berdaya di hadapannya.
Hanya diam dan melihat punggung suamiku menjauh. Bagaimanapun, ini tempat umum, tidak baik membuat keributan. Apa lagi hanya masalah keluarga.
Belum waktunya aku memberontak. Jika saatnya, jangan salahkan kalau dia tidak akan punya muka lagi. Orang diam bukan berarti dia kalah, tapi bisa jadi mengalah.
Kaki melangkah pelan meninggalkan lobi. Bisik-bisik masih terdengar, tapi peduli amat aku dengan semuanya. Biar saja mereka tahu yang sebenarnya, tanpa aku mengeluarkan tenaga untuk membela diri.
Namun tetap saja ada mulut-mulut jahat yang perkataannya pedas bukan main.
"Eh, gak nyangka, ya. Ternyata Pak Dales mempunyai istri yang suka kelayapan."
Aku memejamkan mata, menarik napas dan menarik kedua ujung bibir. Sabar.
"Padahal kalau dilihat sekilas, Hera wanita polos loh! Ternyata lon*e."
Kali ini kesabaranku habis sudah, muka terasa panas karena menahan marah, tangan mengepal siap menghantam orang yang baru saja menggosipkanku. Namun belum sempat aku maju, dari pintu lobi terdengar teriakan.
"Mulut kalian pernah dijejelin cabe gak?" Sany datang dengan wajah garangnya. Orang-orang yang semula melihat sinis ke arahku kini membubarkan diri.
"Awas saja kalau aku lihat lagi kalian bergosip!" lanjutnya dengan suara keras. Lengan kemeja dilipat ke atas dan berkacak pinggang, membuat mereka kabur. Mukanya yang memang sudah disetel judes tambah terlihat galak, karena sambil mengacungkan telunjuknya.
"Sabar, Beb. Sabar!" Di sampingnya Dena menggelus pundaknya. "Ingat muka keriput kalau marah-marah terus. Kamu gak bisa perawatan mahal, ingat, ya!"
Rasanya ingin menyemburkan tawa ketika melihat tatapan jengah Sany pada Dena. Pakai acara diperjelas kalimat "tidak bisa perawatan mahal" lagi.
"Tenang, Hera. Kalau mereka gosipin kamu, aku akan pasang badan. Biar kita tunjukkan siapa yang salah siapa yang benar. Enak saja asal bicara gak mikir." Masih berlanjut omelan Sany.
Aku memeluk mereka dan mengucapkan terima kasih atas pembelaannya.
"Tapi ingat, ada bayarannya!" Sany kembali melanjutkan kalimatnya. "Dan kasih tahu kami, siapa laki-laki yang membayarkan perawatan kemarin."
Aku mengangguk. "Nanti aku ceritakan semuanya."
"Ngomong-ngomong, dia ganteng, gak? Kalau gak mending cari yang lain aja deh!" Dena menunggu jawabanku, dia sampai mengabaikan sapaan dari gebetannya yang merupakan anak devisi sebelah.
"Banget. Vino G. Bastian aja lewat!" ujarku.