"Ya udah, sana suruh nemenin perawat yang waktu itu lagi!" Aku menyambar tas dan menghentakkan kaki kesal.
"Lah, kok lo sewot sih, Kak." Adios menggaruk belakang kepalanya. "Kan gue cuma bilang, lo bisa pulang malam ini, gak usah nemenin gue. Karena udah ada yang nemenin. Lagian gue kasihan sama lo karena berhari-hari tidur di rumah sakit. Emang laki lo gak nyariin?"
"Paham gue. Lo mau ditemenin sama perawat yang kancing seragamnya lo buka itu, kan? Ya udah sih, bilang aja langsung, gak usah pakai acara ngusir gue!"
"Duh serba salah. Lo lagi bulanan apa? Sensi amat."
"Emang kenapa? Mau bilang gue emosian? Suka marah? Iya, kan?"
"Ya Tuhan, kenapa ada wanita seperti dia sih? Menuh-menuhin Bumi aja." Adios mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
Kemudian, dengan lembut ditariknya tanganku agar semakin dekat.
"Kak, lo cemburu?"
Mampus. Ya, memang aku cemburu. Tapi tidak menyangka kalau dia akan bisa menebak penyebab uring-uringanku hari ini. Sebenernya dia tahu apa tidak sih perasaanku ini?
"Bilang aja!" Dia lebih menatapku lembut. Senyumnya mampu membuat lututku melemas.
"Gak!" Aku melepas tangannya. "Bodo amat, lo mau sama siapa, mau ngapain, gua gak peduli!"
Lalu, tanpa menoleh lagi, aku keluar dari ruangan Adios. Sebodo amat dengan dia yang sendirian, palingan juga nanti ditemenin suster atau wanita lain.
Beranjak dari rumah sakit, aku melihat arloji di pergelangan tangan. Sudah pukul sepuluh malam. Mau ke mana setelah ini?
Pulang? Malas bertemu Mas Dales. Tapi kalau tidak pulang mau ke mana lagi?
Setelah setengah jam pusing untuk menentukan tempat di mana yang harus kutuju, akhirnya rumah menjadi pilihan satu-satunya. Masalah Mas Dales, biarkan nanti aku pikir belakangan.
Taksi melaju meninggalkan jalanan depan rumah sakit. Aku selalu memakai kendaraan umum ketika bepergian, bukan berarti tidak bisa mengendarai, tapi karena uang yang lebih penting untuk hal yang lain, maka hanya Mas Dales saja yang memakai mobil. Sedangkan aku, cukup nebeng jika boleh, kalau tidak, ya, memakai taksi.
Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di rumah. Setelah membayar ongkos taksi, kaki melangkah ragu ke dalam pekarangan.
"Tuh orangnya baru datang!" Salah seorang adik ipar suamiku menunjuk kedatanganku.
"Dari mana saja kamu? Kami sudah menunggu di sini lima jam!" Ibu mertua terlihat kesal dan emosi.
Lah, salah siapa tidak memberi kabar jika mau datang? Biasanya sebelum ke sini mereka bilang terlebih dahulu. Ini, tidak ada angin tidak ada hujan langsung datang.
Jadi, salahku? Kalau mereka menunggu lima jam?
Lagian bisa menghubungi Mas Dales untuk membukakan pintu, kenapa harus nunggu aku?
"Cepat buka pintunya! Sudah ditunggu lama malah bengong!" Kali ini istri adik ipar yang angkat bicara.
"Tahu tuh! Suami kerja, meeting lembur malah istrinya kelayapan!" Ibu mertua mencibir.
Ya Tuhan, jika mereka tahu kelakuan Mas Dales di luar, masihkah terus menyalahkanku?
Dari pada mereka semakin ngomel panjang, aku mengeluarkan kunci dari tas dan membuka pintunya. Dengan segera tanpa kupersilahkan, mereka menerobos masuk ke dalam.
"Makanya, punya hape diaktifin. Percuma kalau dimatiin, orang mau menghubungi juga susah!" Ibu mertua masuk dan melirik sinis terhadapku.
Tarik napas, hembuskan pelan, ambil palu, lalu pukul kepala mereka bertiga. Eh.
Sabar, Hera. Kamu harus sabar!
Sengaja tidak kuhidupkan ponsel sejak sore, karena malas dengan teror pertanyaan Mas Dales setiap jam. Dia sudah berada dipelukan wanita lain, masih saja sok perhatian kepadaku. Yang tanya sudah makan belum, di mana sekarang, lagi apa, dan masih banyak lagi pertanyaan tak penting.
Kalau dulu, aku menganggap itu sebuah perhatian, jadi tidak berpikir untuk mencari teman lain untuk bercerita. Tapi sekarang, aku merasa bosan dan ah, begitulah!
"Mbak, kok gak ada makanan? Kamu gak masak, ya?"
Aku menghela napas lagi. Selamat datang para penyihir! Oke, untuk beberapa hari ke depan, sepertinya aku harus membeli stok sabar yang banyak.
"Gak ada. Gak sempat. Lagian Mas Dales jarang pulang!" Aku menjawab dengan sesantai mungkin. Meski hati dongkol.
"Ya pantas gak pulang, punya istri gak becus masak, gak bisa ngapa-ngapain, cuma habisin uang suami aja bisanya!" Ibu Mertua keluar dari kamar dan langsung menumpahkan kalimat pedasnya.
Dan sebentar lagi pasti ....
"Gak bisa beranak juga. Masa sepuluh tahun masih gak jadi."
Nah, kan! Sudah aku duga. Pasti masalah anak akan kembali dibawa. Memang itu tujuan mereka ke sini sebenarnya. Mencecarku dan memojokkanku atas tidak terisinya rahim ini selama sepuluh tahun bersama Mas Dales.
"Jangan-jangan mandul, Mbak!" Wanita julid yang berlipstik merah menyala itu keluar dari dapur dan bergabung bersama ibu mertua untuk menghinaku.
Well, memang kalau keluarga julid tidak bisa sedikit saja diam tanpa mengeluarkan kata yang menyakitkan hati.
"Sudah pasti, nyatanya gak punya anak sampai sekarang." Ibu mertua menetertawakanku.
"Oh, lalu kenapa kamu juga gak punya anak? Mandul juga?" Aku menatap tajam pada wanita di samping ibunya Mas Dales.
Pembalasan. Dan kini, terlihat wajahnya memerah menahan marah dan malu. Hanya karena dia berasal dari keluarga kaya, dan aku dari orang miskin, seenaknya saja menghinaku seperti itu.
"Mbak, kamu lancang sekali!" Suaminya keluar dan memeluk istri julidnya.
"Kenapa? Aku hanya bertanya. Dia tadi juga menanyakan hal yang sama, apa dia gak kamu anggap lancang?"
Ibu mertua maju hingga kami saling bertatapan, tatapannya terlihat marah. sangat marah. "Jangan sekali-kali menghina Aurel!" Ia mengancam.
Aku mengendikkan bahu. "Dan jangan sekali-kali menindasku di rumahku sendiri."
"Ini rumah anakku!"
"Masa? Bukannya hampir semua uang yang untuk membeli rumah ini adalah hasil penjualan tanah orang tuaku? Anak Mama itu tidak memberikan apa-apa saat menikahiku."
Masa bodo dengan sopan santun. Kini hancur sudah kesopanan yang selama ini kujaga untuk keluarga Mas Dales. Karena nyatanya, mereka tambah keterlaluan semakin ke sini.
Kalau bukan karena balas budi yang selalu diagungkan Mas Dales, aku malas berurusan dengan orang-orang seperti mereka.
Memang empat tahun kuliahku dibiayai Mas Dales, juga kebutuhan sehari-hari. Dan itu senjatanya untuk membuatku bertahan dengan sifat jeleknya.
Padahal, saat dua tahun pernikahan kami, seorang paman jauh memberikan uang hasil penjualan tanah orang tuaku di kampung. Dan aku belikan rumah ini, ditambah sedikit tabungan Mas Dales.
Namun tetap saja aku tidak berharga di mata mereka semua.
"Kamu sekarang berani sama mertuamu? Menantu gak punya malu. Sudah mandul, gak punya sopan santun!"
"Kalau Mama ke sini cuma mau ngajak ribut, mending pergi aja deh. Aku capek!"
Plak!
Pipi kiriku terasa panas, seiring air mata yang keluar membasahi pipi. Tamparan ini bukan yang pertama, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.
"Itu balasan untuk menantu tak tahu diri macam kamu!" Dia menunjuk mukaku.
Dengan kesal dan emosi, aku kembali mengambil kunci rumah dan pergi dari sana. Harus seatap dengan mertua singa seperti itu? Sorry, hatiku lebih berharga. Dari pada di sakiti setiap detik, mending menghindar. Meski hanya beberapa hari mereka tinggal di rumahku, tapi aku yakin jika stok kalimat julid mereka sangat banyak.
Aku mau tidur di rumah sakit lagi.
Pesan kukirim pada Adios setelah ponsel kembali kuhidupkan. Panggilan dan pesan Mas Dales kuabaikan. Biar dia yang mengurus keluarganya sendiri.