"Kamu masih ingat pulang?"
Mas Dales langsung menyambutku dengan pertanyaan yang merupakan tuduhan terselubung. Setelah selesai melepaskan sepatu, p****t kuhempaskan di samping tempatnya duduk. Memang dua hari ini aku memilih untuk tidak pulang ke rumah karena malas bertemu dengan lelaki penghianat itu.
Ya, seperti itulah Mas Dales, lelaki yang sialnya menjadi jodohku. Melempar kesalahannya dengan mencari kesalahan orang lain. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk melemahkan mental lawan bicaranya.
Namun sekarang, aku tidak selemah dulu yang setiap di dimarahinya selalu menangis. Lebih ke mematikan perasaan sih menurutku. Biar saja alur waktu yang akan membawa hubungan kami entah ke mana. Yang jelas, jika memang harus berakhir, aku pastikan bukan karena alasan sepele yang bisa diselesaikan dengan baik.
"Dari mana? Hp gak aktif lagi."
"Kosan teman, Mas. Lagian berhari-hari Mas Dales ada meeting di luar kota, kan? Kok tahu kalau aku dua hari tidak pulang?" Aku balik bertanya kepada lelakiku.
Dia pikir se-bego itu aku, sampai percaya saja jika ketidak pulangannya karena sebuah meeting. Kami satu kantor, dan pastinya aku bisa bertanya kepada yang lainnya tentang meeting yang selalu dia jadikan alasan. Hasilnya? Semua fiktif!
"Kan aku punya orang untuk menjaga kamu!"
Bulshit! Menahan tawa dalam hati, aku teringat dengan sosoknya bersama wanita itu kemarin. Tidak sengaja, aku melihat mereka berdua tengah memilih sesuatu di toko perhiasan. Oh, mungkin yang dia maksud meeting adalah mengantarkan selingkuhannya belanja.
Miris gak sih? Anaknya sedang terkapar di rumah sakit dan hampir kehilangan nyawa, tapi ibunya malah bersenang-senang dengan lelaki orang.
Dan sialnya, lelaki itu suamiku.
"Sudahlah, Mas. Apa kepulangan kamu hari ini hanya untuk mengajakku ribut? Kalau iya, mending kamu pergi meeting lagi, deh," usirku secara halus.
"Mana bisa meeting dadakan tiba-tiba, Dek!" Dia mengambil tanganku, lalu dikecupnya. "Mas kangen kamu, loh!"
Mendadak perutku mual. Dengan cepat menarik tangan dan menetralkan hati agar bisa tetap tenang ketika berada di sampingnya.
Bayangan dia melakukan hal serupa dengan wanita lain masuk ke otakku. Tidak lagi bisa kubendung, setetes air jatuh melewati pipi.
"Loh malah nangis!" Mas Dales mengambil tisu di meja dan berniat mengusap air mataku.
"Sudahlah, Mas. Aku mau istirahat dulu, capek banget."
Tanpa menunggu persetujuannya, aku berjalan dan masuk ke kamar. Lama-lama berada di dekatnya membuat suasana hati kembali jelek setelah sempat baik karena Adios.
Ah, Adios. Sedang apa lelaki muda itu?
Sebuah rasa hangat masuk ke hati.
"Dek, apa yang lucu? Kenapa senyum-senyum sendiri?" Mas Dales melihat ke tembok tempat aku melamunkan Adios.
Tidak sengaja, bibirku menyunggingkan senyum. Namun, hancur sudah karena suara Mas Dales. Mengganggu saja dia!
"Membayangkan sesosok pria tampan yang sedang tersenyum dan membuka hatinya untukku!" Setelah mengatakan itu, aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Peduli amat dengan pertanyaan menggantung dari Mas Dales.
Selesai membersihkan diri, aku keluar dan tidak mendapati suamiku itu di mana-mana. Tidak di dapur, tidak di kamar dan bahkan mobilnya juga turut menghilang. Tebakan cepat yang kuambil, dia menemui selingkuhannya. Pasti itu.
Oke, jika dia bersenang-senang dengan wanita itu, aku juga bisa menghabiskan waktu dengan Adios. Pastinya lebih tampan, muda dan menggairahkan.
Memang dia sendiri yang bisa mencari hati yang lain, dia kira aku gak bisa? Oh, jangan salah. Seorang wanita selemah apa pun jika sudah disakiti bisa berubah lebih kuat dari pada Thor.
Aku sedang di dalam taksi hendak ke rumah sakit ketika ponsel berbunyi. Nada chatting masuk.
Kak, ini salon milik teman gue. Lo ke sana aja, tadi udah gue boking beberapa perawatan untuk lo.
Aku menutup mulut. Terharu. Diam-diam Adios sepengertian itu. Padahal suamiku saja acuh dan tidak pernah melakukan hal serupa selama kami berumah tangga.
Adios mengirimkan sebuah alamat yang harus kudatangi. Aih, manis pisan euy. Membuat senang wanita tidak susah kok. Hanya seperti ini saja sudah merasa berarti.
Meleleh, Dek. Hati tante meleleh.
Gue gak bawa uang, di dompet hanya ada seratus ribu.
Tak lama balasan datang lagi.
Gak gue suruh bayar, yang penting lo nikmatin aja hidup lo hari ini. Nanti setelah selesai temenin gue di rumah sakit, ya!
Well well well. Baiklah, karena sudah terlanjut dipesankan, mau tidak mau aku harus ke sana. Kapan lagi bisa perawatan gratis dan disuruh menikmati hidup. Biasanya aku yang menyuruh orang untuk melakukan hal itu, tapi kini, aku menemukan orang yang perhatian dan melakukan hal yang sama untukku.
Taksi tidak jadi melaju ke rumah sakit, kami memutar arah dan berhenti di depan sebuah klinik kecantikan. Tapi bukan milik mamanya Adios.
Meski level di bawah klinik wanita itu, tapi ini lebih dari cukup untuk membuatku senang.
Sesampainya di sana, aku disambut oleh pemiliknya langsung dan diberikan fasilitas istimewa. Tidak lupa semua perawatan dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki kulakukan.
Tujuh jam lamanya aku berada di sana.. Hingga jarum sudah menujukkan pukul delapan malam, kaki baru melangkah ke luar. Perut yang baru terisi beberapa potong buah berbunyi.
Aku mau ke sana, kamu pengen makan apa? Send.
Sambil menunggu balasan dari Adios, aku berjalan pelan ke trotoar. Ah ringannya. Ternyata enak sekali bisa menikmati treatment yang diimpikan setiap wanita.
"Loh, Hera!" Suara dari samping kiri mengagetkanku.
Aku menoleh. Ada Sany dan Dena di sana, teman yang akhir-akhir ini dekat denganku di tempat kerja.
"Kamu ngapain malam-malam di sini?" tanyanya penasaran.
"Aku abis perawatan di belakang. Kalian mau ke mana?"
Mereka menoleh serempak ke tempat yang kumaksud. Lalu menggelengkan kepala takjub.
"Gila. Banyak uang kamu? Gaji kita dua bulan loh perawatan di sana!"
Kini giliran aku yang melotot.
"Kamu gak tahu?" Sany yang melihatku terkejut langsung mencecarku layaknya wartawan senior yang tengah berburu berita skandal artis.
Memang benar aku tidak mengetahuinya, karena tidak bayar. Ternyata harganya semahal itu. Duh, tidak bisa lagi aku mengungkapkan perasaan bahagia yang tengah kurasa. Berasa istimewa.
"Kamu gak bayar apa tadi? Kok gak tahu kalau harganya semahal itu?" Dena memicingkan matanya.
"He, ak-ku dibayarin teman. Iya, teman." Akhirnya nemu juga alasan yang bisa untuk menutupi raut keterkejutanku.
Sany menggeleng. "Gak mungkin teman biasa mau membayari sebanyak itu. Ya, gak, Den? Kamu mau bayarin kita perawatan mahal kek gitu?" Sany menoleh.
"Gila. Buat sendiri aja aku mikir sejuta kali."
"Nah. Jadi kesimpulannya ....
"Bukan teman biasa." Dena berucap penuh keyakinan.
Sudah kena. Aku hanya meringis menampakkan gigi.
"Ya udah, kalau kamu belum mau certain sama kita, gak apa-apa. Tapi ingat, kalau ada masalah apa-apa, kita bisa kok nampung curhatan kamu!" Tatapan tulus terpancar dari mata Dena.
Terharu kedua kalinya untuk hari ini. Belum ada sebulan aku berteman dengan mereka, tapi sudah sepercaya ini denganku.
Memang masalah yang dulu kupendam sendiri mulai aku ceritakan kepada orang lain, mereka berdua ini. Tentang Mas Dales, keluarganya dan banyak lagi. Hasilnya, hati lebih tenang.
Mereka juga tahu sebenarnya tabiat suamiku di kantor. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena hanya sebagai bawahan saja.
Dena memelukku, Sany juga melakukan hal yang sama. Kami seperti saudara yang baru bertemu setelah lama terpisah. Padahal tidak ada hubungan darah di antara kami bertiga.
Mengikuti saran, Adios, aku mencari teman yang bisa diajak berteman. Dalam artian tidak hanya saat enaknya saja. Tapi juga susahnya. Dan teringat dengan dua gadis yang sering menyapaku saat berangkat, meski aku tidak pernah meresponnya berlebih dulu.
Sekarang, selain Adios, aku juga punya Dena dan Sany.
"Sekarang kamu mau ke mana? Kalau malas pulang, nginep di rumahku aja, lagi. Dena menawarkan.
Aku menggeleng." Lain kali aja. Ada urusan nih."
Pesan chatting masuk ke ponsel saat aku dan dua sahabat baruku tengah berbincang. Dari Adios.
Gak usah. Sudah makan, disuapin sama suster baru saja.
Aku teringat suster yang keluar dari ruangan beberapa waktu lalu, juga kancing bagian atasnya yang terbuka saat meninggalkan ruangan.
Hais, dasar kadal. Suster juga dijerat.
Jangan-jangan makan yang dia maksud beda dengan yang kumaksud.
Adios, awas saja kamu, ya!