Aku baru saja selesai membayar novel Tere Liye ketika ponsel berdering.
Berondong Tengil.
Aku mengeryitkan dahi. Ada apa Adios menghubungiku?
"Tolong!" Setelah dia dengan angkuhnya tidak mau ditolong, akhirnya lelaki itu mau juga mengatakan kata tolong pertamanya.
Biar tahu rasa dia, memang bisa hidup sendiri tanpa orang lain? Nyatanya kalau bukan aku siapa lagi yang akan mengurusnya di rumah sakit? Keluarganya?
Sampai sekarang pun aku belum pernah melihat mamanya atau keluarga Adios ke rumah sakit.
"Apa?"
"Tolong tebus obat."
Senyum terbit dari bibirku. "Gak mau! Kamu ambil sendiri."
"Tolong. Kali ini suaranya terdengar memelas.
Mau tidak mau aku kembali ke ruangan Adios untuk menebus obatnya.
Aku masuk ke dalam ketika seorang suster telihat baru keluar. Wajah wanita itu merona merah, juga kancing atas baju seragamnya terlepas. Entah apa yang dia lakukan di dalam.
Pikiran negatif langsung datang begitu saja.
"Lo ngapain dia?" tanyaku ketika berdiri di samping ranjang.
"Pengen tahu aja lo." Adios melirik meja di samping ranjang, di sana ada resep yang harus ditebus.
Aku mengendikkan bahu, mencoba bersikap tidak peduli. Lagi pula bukan urusanku juga, hanya saja ada setitik rasa cemburu ketika melihat ekspresi suster ketika keluar dari ruangan ini.
Setelah menghela napas panjang, kaki kulangkahkan menjauh dari ranjang.
"Kartu atm gue ada di dompet sana! Pinnya nanti gue kasih tahu," kata Adios setelah aku hampir mencapai pintu untuk mengambil obatnya.
"Gak mau bilang terima kasih?" Tanpa menoleh mengatakannya.
Satu detik, dua detik sampai lima belas detik berlalu. Tapi "terima kasih" itu tidak juga terdengar dari mulut Adios. Se-susah apa sih untuk mengatakan kalimat singkat itu?
"Mana terima kasihnya?"
"Ribet banget sih. Iya, terima kasih," jawabnya singkat.
Kapok. Akhirnya bisa juga dia mengatakan kata keramat itu. Memang kalau ngomong sama anak sombong yang sok ganteng susah, ya. Dia merasa tidak pernah salah, bahkan tidak mau sekedar mengucapkan kata terima kasih doang.
Aku tersenyum dan melanjutkan perjalananku untuk mengambil obat tanpa mengambil kartu atm milik Adios.
Tidak sampai satu jam, kami sudah kembali seperti semula. Mengobrol dan berbagi cerita tentang apa saja. Dia dengan gaya tengilnya membuatku tidak berenti tertawa.
Dia juga bercerita ketika mendapat klien yang aneh dan jarang mandi, bahkan bau tubuhnya tercium sampai satu meter dari si empunya. Dengan tidak punya perasaan, Adios mengusir wanita itu dan membatalkan transaksi.
Ketika kami tengah saling menertawakan nasib masing-masing, dia menatapku lekat.
"Ada apa?" tanyaku yang keheranan. Ditatap sedemikian rupa oleh lelaki seperti dia, siapa yang bisa tahan?
"Kakak lebih suka kita yang sekarang apa kemarin?" tanyanya.
Aku mengambil sebutir apel dan pisau, lalu mulai mengupas dan memotongnya kecil. "Sekarang."
"Kalau memang Kakak nyaman seperti sekarang, ya udah terusin aja!" Adios mengambil potongan buah yang sudah aku kupas, lalu dengan gaya sok cool memasukkan ke mulutnya.
"Ya, setidaknya gue tahu dan bisa merasakan jadi anak muda, setelah dulu masa mudaku berlalu begitu saja tanpa kesan." Pisau yang semula untuk mengupas buah aku letakkan. Satu tangan mengambil ponsel yang layarnya berkedip.
Mas Dales.
Malas sebenarnya mengangkat panggilan suami penghianat itu, tapi setelah dua hari tidak merasa kehilangan istrinya. Wajar sih, dia ada wanita lain.
"Ya, Mas." Aku mengangkatnya. Kali ini tidak ada suara menjijikan seperti waktu itu.
"Kamu di mana?" tanyanya dari seberang telefon.
Aku malas untuk menjawab. Perlahan rasa di hati semaki pudar, seiring dengan semakin gilanya Mas Dales bermain wanita.
Mungkin ketika melihatku yang berubah suasana hati secepat itu, Adios merebut ponselku dan mematikan panggilannya.
"Kamu ngapain?" Aku mencoba merebutnya kembali.
"Gak usah diladenin kalau hanya bikin lo gak semangat." Adios menyimpan ponselku di bawah bantalnya setelah menonaktifkan android itu.
"Tapi dia suami gue."
Adios diam. Dia melanjutkan ceritanya tanpa menyinggung tentang Mas Dales dan juga cerita rumah tangga kami.
Aku khawatir jika nanti Mas Dales kembali marah dan melayangkam tangannya di tubuhku. Tapi, bagaimana lagi, benda itu sudah berada di bawah bantal yang atasnya ada kepala Adios.
Lelaki itu memiringkan tubuhnya, lalu mengambil tanganku dan menggenggamnya.
Perasaan aneh perlahan masuk melalui aliran darah. Pelan tapi pasti, rasa hangat melingkupi hati.
"Lo mau gak jadi kakak gue?" tanya Adios kepadaku. Wajahnya tidak mengiratkan canda.
Aku melebarkan cuping telinga. Sepertinya tidak salah dengar.
"Hah? Kakak? Lo gak lagi kumat, kan? Jangan-jangan obat yang gue beli salah."
Adios mencibir. Tapi tangannya tetap menggenggam erat tanganku.
"Gak lah. Obatnya bener, otak gue yang salah. Gue seumur-umur belum pernah ngerasain punya kakak. Jujur, ya, lo itu beda sama Tante-tante yang pernah menyewa lelaki panggilan. Gak tertarik sama sekali gitu buat nyoba pelukkan laki-laki lain, padahal lo tahu kalau suami udah bermain dengan wanita lain." Dia menjelaskan alasannya.
Sambil mencoba mencerna setiap kalimat Adios, aku menarik tangan dan mengambil air putih untuk melegakan tenggorokan. Agar nantinya maksudnya dan yang kuterima sama, tidak ada kesalahan.
Dia memintaku menjadi kakaknya? Kakak? Kenapa tidak lebih dari seorang Kakak? Istri misalnya.
"Eh, apa? Tante? Emang gue setua itu? Masih ada komitmen yang harus dijaga, kecuali suami gue udah bener-bener kelewatan. Baru gue lepas." Kuungkapkan juga alasan yang sebenarnya.
"Itu sudah kelewatan, Kak. Lo itu kelewat bucin tahu gak?"
"Emang. Masalah? Lo mana tahu ujian dalam pernikahan. Umur masih piyik juga. Lagian gue juga gak yakin lo bisa jatuh cinta sama cewek kalau tiap hari aja tidur dengan wanita berbeda." Sedikit kasar. emang perkataanku, tapi bagimana lagi menjelaskan pada lelaki itu agar dia tahu dan paham dengan yang terjadi padaku. Semua tidak se-simple yang dia pikirkan.
"Emang, gue gak pernah merasakan itu. Tapi bukan berarti gue gak punya. Mau, ya, jadi kakak gue!"
"Ogah. Ntar lo mintain uang jajan mulu, lagi." Aku mencoba memecah suasana dengan candaan garing.
Adios tertawa. Dia memegangi perutnya dan menarik napas. "Mau, ya jadi kakak gue!" Dia kembali meminta setelah selesai dengan tawanya yang terdengar seksi di telingaku.
Hais, pesonanya memang sudah kutolak.
"Ish, anak ini. Maksa banget." Aku merengut.
"Ya udah, jadi istri gue aja!"
Dan kali ini, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. "Apaan sih. Lo mabok, ya!"
"Lah, bukannya kemarin pas masukin gue ke sini ngakunya sama perawat istri gue?" Adios terkekeh.
Jika sekarang ada cermin di depanku, pasti bisa terlihat betapa merahnya wajah ini. "Itu karena gue panik. Ya kali gue harus bilang kalau mantan wanita yang menyewa lo."