Tatapan itu? Ke mana tatapan sayang yang sempat aku temukan di mata Adios? Kenapa kini tidak terlihat lagi? Apakah benar selama ini yang kupikirkan tentang tujuannya mendekatiku?
Ah, entahlah.
Yang jelas saat ini posisi hatiku tidak sebaik sebelum bertemu Adios. Lelaki itu menjadi orang yang menempati separuh sisi lain di hati.
Sedikit aneh, karena hanya beberapa kali kami bersama, ditambah dengan perjumpaan tak sengaja beberapa tahun silam, aku bisa memberikan hatiku pada lelaki itu. Tapi itu fakta, aku tidak mengada.
"Heh, lo gak denger gue ngomong apa?" Adios memegangi punggungnya, lalu meringis dengan masih menatapku.
"Kenapa? Biar polisi yang cari pelakunya. Kamu gak mau apa mereka ketangkep dan dipenjara?" Aku masih mencoba mempertahankan agar pelakunya cepat tertangkap.
"Lo mau semua orang tahu kalau gue lelaki panggilan? Gitu?" Adios menatap garang. Napasnya naik turun, tidak ada lagi sekarang tatapan lembut yang kemarin membuatku candu ingin selalu di dekatnya.
Bahkan dia sengaja tidak menggunakan kamu ketika berbicara denganku dan memilih ber-lo gue. Seolah memang kita dua orang asing yang belum pernah terjebak suatu perasaan yang sama.
Well, mungkin bisa saja aku yang mempunyai rasa, sedangkan dia tidak. Bukankah hanya karena menjauhkanku dari Mas Dales adalah tujuannya?
"Bukan begitu, tapi kan niatku baik."
"Tapi gak baik buat gue. Udah tutup aja kasus ini. Sana bilang sama polisi!" Dia mengibaskan tangannya mengusirku.
"Kenapa kamu berubah?" Tidak tahan lagi rasanya untuk berpura-pura menjadi orang asing padahal sebelumnya pernah menghabiskan waktu bersama.
Yang menginginkan dia tidak mengganggu hidupku memang aku, tapi tidak pernah menyangka jika rasanya sesakit ini.
Jika disebut labil, iya, memang aku seperti itu.
Adios menyunggingkan senyum sinis, lalu menatapku dengan pandangan yang berbeda. "Bukankah ini yang Kakak inginkan? Gue hanya mengikuti permainan yang lo buat. Udah."
"Tapi, haruskah ...."
"Tidak usah berharap kembali seperti dua minggu yang lalu, karena itu tidak akan mungkin."
Aku mengambil tas kecil yang ada di atas meja lalu pergi keluar dari ruangan Adios. Menghindar adalah satu-satunya cara untuk tidak membuat hati semakin sakit.
Apa keputusanku kemarin untuk menjauh dari Adios sudah benar? Semoga saja.
Di depan ruangan, polisi masih berjaga, aku menemui mereka dan mengatakan bahwa mencabut laporan penganiayaan yang terjadi pada Adios. Tentu saja dengan sejuta alasan yang bisa membuat para polisi tersebut percaya. Dan pagi hari besok, aku harus datang sendiri ke kantor untuk pencabutan berkas secara resmi.
Setelah semua selesai, aku duduk termenung di depan ruang perawatan. Apa yang kulakukan ini benar? Ataukah sebaliknya?
Menunggu dan memastikan Adios baik-baik saja selama lebih dari dua hari. Biasanya memang aku tidak se-khawatir ini. Apa lagi dengan orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali, hanya pernah saling membuat hubungan simbiosis mutualisme. Dia butuh uangku, dan aku butuh teman bercerita. Sudah, hanya itu saja.
Seiring berjalannya waktu, perasaan yang lain muncul, perasaan ketergantungan kepadanya. Sayangnya, hanya aku yang merasakan. Sedangkan dia, tidak!
Baru selesai mengusap wajah untuk mengurangi rasa kalut, telingaku mendengar suara benda pecah dari dalam. Dengan tergesa, aku masuk dan mendapati Adios sudah berada di bawah ranjang dengan memegangi perut.
"Kamu mau ngapain?" Aku berlari dan berusaha membantunya berdiri.
"Gak usah!" Dia menepis uluran tanganku.
Kembali rasa kecewa itu muncul lagi.
"Gak usah aneh-aneh, aku hanya ingin bantu kamu ...."
"Gak perlu, memang lo kira gue butuh bantuan lo? Tidak sama sekali!" Adios masih keras kepala ingin naik ke ranjang sendirian, sedangkan aku hanya bersidekap dan melihatnya.
Biarkan anak tengil itu merasakan susahnya tanpa bantuan. Memang dia kira sekarang sekuat itu? Setelah beberapa hari koma karena pengeroyokan beberapa hari lalu.
Keringat keluar dari pelipis Adios, sepertinya dia mengerahkan semua kekuatannya untuk bisa kembali berbaring di atas ranjang. Tapi percuma, tenaga yang dia punya belum sepulih itu.
"Nyerah? Sudah tahu baru saja bangun dari koma. Masih sok merasa kuat!" Aku yang tidak tahan lagi memutuskan untuk membantu Adios.
Kali ini dia tidak menolak.
"Makasih!" Dia kembali berbaring setelah aku dan suster membantunya untuk kembali ke tempat tidur.
"Hem. Sebentar, aku ambilin minum dulu. Haus, kan?"
Dia mengangguk.
"Makanya jangan gengsi, biar bagaimana juga aku yang menyelamatkan nyawa kamu. Coba kalau hari itu aku tidak ada di sana, pasti kamu sudah sampai ke neraka sekarang!" Tanganku menyodorkan gelas berisi air putih dan sedotan untuk dia minum.
"Kok neraka?" protes Adios. Dia sudah selesai minum dan kembali beristirahat.
"Memang kalau lelaki seperti kamu ke mana lagi kalau bukan neraka? Surga? Mimpi!"
Kali ini dia tertawa. Benar-benar tertawa dalam artian tidak dibuat-buat. "Lo lucu, Kak. Tapi bener, emang lelaki panggilan kek gue bisa masuk surga? Kecuali surga dunia, itu sehari bisa lima kali."
Bangke! Aku menepuk keras di lengannya. Mulutnya memang perlu di sekolahin.
"Ngomong-ngomong, nama kamu bagus. Theos Tarumanjaya. Kenapa memakai nama Adios?" Aku bertanya kepo.
Ketika ingin mendaftarkan dia di bagian administrasi, aku mendapati KTP atas nama Theos Tarumanjaya di dompetnya. Di sana tertulis tanggal lahir lelaki itu memang sepuluh tahun di bawahku.
"Memang lo pikir kalau gue pakai nama katepe, orang gak akan kepo dengan kehidupan asli gue? Dan asal lo tahu, gue juga hidup normal di dunia nyata dengan nama Theos."
Baiklah! Alasan yang memang masuk akal, karena banyak yang tidak memakai nama lahir ketika profesi yang digeluti seperti Adios.
Mengabaikan Adios, aku mengambil ponsel dan memilih melihat story ig. Dari pada kesal hati karena omongannya yang semakin ke sini semakin pedas.
Baru saja akan tenang suasananya, tiba-tiba terdengar lagi gelas yang jatuh dan pecah. Aku melihat ke objek yang pasti dia pelaku utamanya.
Dan sekarang, kembali lagi Adios terkapar di bawah.
"Lo bisa diberi tahu gak sih? Heran gue. Udah dibilang kalau perlu apa-apa gak usah ambil sendiri, minta tolong. Bisa gak minta tolong? Lo gak bisu, kan?" Aku yang sudah kesal kepada Adios segera meluapkan kekesalan ini.
"Ya udah! Gue juga gak mau ditolongin elo. Gue bisa sendiri. Lagian siapa yang minta lo nolongin gue?"
"Eh dasar, kalau lo gak gue tolong udah mati, tahu! Lo tahu berapa kantong darah yang masuk ke tubuh lo itu? Lima kantong. Dan itu gak gratis. Gak ada terima kasihnya sih jadi orang."
Kali ini habis sudah kesabaranku. Mengikuti gayanya, aku juga membiasakan ber-lo gue agar dia tahu kalau hati ini sudah terlanjur kecewa. Kecewa karena tatapannya berubah, dan kecewa karena tanpa sadar sudah masuk dalam pesonanya.
"Ya, udah besok gue ganti duit buat perawatan gue."
"Terserah. Gue males ngurusin orang gak tahu terima kasih kayak elo. Sana urus dirimu sendiri. Permisi!" Aku menyambar tas yang ada di kursi dan meninggalkan Adios yang masih terbaring di lantai karena jatuh.
Bodo amat!