Mengaku Istri

1022 Kata
"Kenapa nomorku diblokir?" Adios menarik tanganku ketika aku baru saja keluar dari kantor. Terkejut tentu saja, dari mana dia tahu tempat kerjaku? Bukankah sudah serapi mungkin aku menyembunyikan semuanya? "Kak, aku gak tahu salahku di mana. Tapi aku cukup hancur saat Kak Hera tidak lagi memperdulikanku." Cengkeraman semakin kuat. "Lepasin, Adios! Sakit!" "Aku tidak peduli! Kamu harus jawab pertanyaanku dulu!" "Memang apa hak kamu menyuruhku menjawab pertanyaanmu?" Aku balik menantang. Memang sejak hari di mana aku tahu tentang kebenaran siapa Adios, aku mulai menarik diri. Lebih tepatnya menghilang dari kehidupan lelaki itu. Perlahan, rasa yang pernah tumbuh untuk Adios aku pupuskan begitu saja tanpa sempat berbunga. "Kak, kamu marah sama aku? Tapi kenapa?" Lelaki itu terus saja mencekal tanganku dan tidak mau melepaskannya. Aku bahkan sampai kewalahan untuk menenangkannya. "Gak," jawabku singkat. "Lalu katakan alasannya. Aku tidak mau jauh-jauh dari, Kak Hera." "Please! Setelah pulang kerja saja. Ini masih di kantor." Aku mencoba tetap tenang agar tidak membuatnya semakin nekat. Biar bagaimanapun Mas Dales juga bekerja di sini, dan aku tidak mau jika sampai suamiku tahu jika aku pernah menyewa seorang lelaki panggilan. " Gak. Kakak pasti akan menghindariku lagi! " Kali ini aku menggeleng. Biarkan suasana terkendali dahulu, baru nanti akan aku pikirkan rencana selanjutnya. "Kakak janji, setelah pulang kita bertemu!" Adios menggenggam erat kedua tanganku. Kepala menoleh ke kiri dan kanan, mencari tahu apakan ada orang lain di sekitar yang mencurigaiku. Semoga saja tidak. Karena aku tidak mau kalau sampai nantinya keluargaku akan hancur. Meski memang kenyataanya sudah hancur. "Kak Hera!" "Iya janji," ujarku akhirnya. Dan setelah mendengar jawabanku, Adios pergi dari depan kantor. Dia berjalan di antara mobil-mobil yang terparkir. Tubuh kubalikkan masuk kembali ke dalam, karena mendadak otakku blank setelah melihat Adios kembali. Meski di depannya bersikap biasa saja, tapi ada perasaan lain di sudut hati. Satu hari, dua hari, lima hari tidak ada tanda-tanda Adios datang. Aku sedikit lega, akhirnya masalah selesai. Janji hanya tinggal janji, karena aku sama sekali tidak pernah menemuinya lagi. Terlalu sakit jika mengingat bahwa Adios bekerja sama dengan mamanya untuk menjauhkanku dari Mas Dales. Setelah pertemuan di depan kantor, aku sama sekali tidak pernah lagi melihat dia atau bahkan dihubunginya. Entah kenapa, aku juga tidak tahu. Namun takdir berkata lain. Malam itu, aku sedang berjalan ingin ke rumah teman sekantor yang jaraknya tidak terlalu jauh. Meski telah menjauh dari Adios, tapi tidak ada salahnya melakukan semua ide dan masukan dari lelaki itu, termasuk mencari teman. Aku sampai di Jembatan Salam, ketika dilihatnya sekelompok orang tengah mengeroyok entah siapa. Dari kejauhan, mata ini hanya melihat dengan tubuh tidak berhenti bergetar ketakutan. Banyak pikiran buruk masuk ke otakku. Bagaimana jika orang yang dikeroyok itu mati? Bagaimana jika dijadikan saksi pembunuhan, dan masih banyak lagi yang pikiran negatif yang masuk ke otak. Ingin rasanya berlari dan menolong orang yang menjadi samsak tinju di depan sana. Tapi, mengingat aku wanita, dan pasti tenaganya tidak kuat, akhirnya diputuskan untuk menunggu sampai orang-orang itu pergi. Benar saja, tidak berselang lama, mereka masuk ke dalam mobil. Dua mobil berlalu dari sana, kini tinggal orang yang mereka keroyok tergeletak tak berdaya. Dengan tergesa, aku berlari menghampiri orang tersebut. "Adios," ujarku lirih. Ya, lelaki itu Adios. Lelaki yang beberapa hari menghilang begitu saja. Ah, lebih tepatnya aku yang menghilangkan diri darinya. Dia terlihat kesakitan, luka tusukkan di punggung membuat darah membasahi sebagian baju yang dia pakai. "Adios! Bangun!" Aku mengguncang tubuhnya. Tidak ada jawaban. Panik dan takut kurasakan. Apalagi posisinya aku sendirian. Sambil terus mencari bantuan, aku menggoyangkan tubuhnya yang mulai melemas. "Kakak sayang." Adios berbisik sebelum benar-benar tidak bisa bangun lagi. Beruntungnya ada taksi yang lewat dan berhenti untuk menolong kami. Bersama sopirnya, aku mengangkat tubuh Adios ke mobil dan melarikannya ke rumah sakit. "Mbak, dia kenapa?" tanya sopir taksi yang akan mengantarku ke rumah sakit. "Saya hanya melihat ketika dia sudah terkapar, Pak." Aku menjawab mencari aman. "Lebih baik kita lapor polisi saja, Mbak. Sepertinya ini bukan kecelakaan." Memang bukan, karena aku tahu sendiri ketika orang-orang itu mengeroyok Adios. Tapi tetap saja aku mengikuti perkataan sopir tersebut. Melapor polisi. Sesampainya di rumah sakit, Adios langsung masuk ke ruang ICU karena semakin banyak darah yang keluar. Bahkan bajuku hampir semua terkena darah karena memeluk lelaki itu. "Saya tinggal dulu, ya, Mbak. Jangan lupa untuk lapor polisi." Aku mengangguk, ketika ongkos taksi kusodorkan, bapak tersebut menolaknya. Beruntungnya bertemu orang baik. "Kak, tolong selesaikan administrasinya dulu. Pasien harus segera operasi." Suster yang baru keluar dari ruang ICU memberi info. Aku kebingungan. Ingin menghubungi keluarga Adios tapi tidak mempunyai nomornya. Lalu siapa yang akan menanggung biayanya? "Kenapa harus operasi, Sus?" tanyaku cengo. Tentu saja karena pisau menancap di punggungnya, kan? "Pasien kritis. Dan harus segera ditangani." Tadi katanya harus operasi sekarang harus segera ditangani. Yang benar yang mana? "Tapi-saya bukan ...." "Nanti bisa diselesaikan di sebelah sana!" Suster kembali menunjuk meja kasir yang letaknya tidak jauh dari ruang ICU. Dia lalu masuk kembali le ruang ICU dan entah apa yang dilakukan di dalam sana. Aku mengangguk, tanpa pikir panjang lagi, kaki melangkah ke ruang administrasi dan menandatangani surat persetujuan operasi. Tidak lupa menadatangani kesanggupan membayar biayanya. Biarlah nanti dia pikir belakangan sisanya. "Di bagian ini tolong di kasih keterangan hubungannya dengan pasien apa." Suster jaga menunjuk kolom yang belum kuisi. Hubungan dengan pasien? Tidak ada. Masa aku harus bilang kalau anak selingkuhan suamiku. Kan, tidak mungkin banget. "Mbak!" Perawat itu kembali memanggil. "Hubungannya dengan pasien apa?" "Istrinya, Sus. Saya istrinya." Aku menjawab asal. ** "Uh." Terdengar suara lirih tapi cukup kuat masuk di telingaku Aku melihat pergerakan dari Adios, dengan tergesa menghampirinya. Hampir tidak menyangka ketika akhirnya Adios membuka mata dan dapat melewati masa-masa kritis. Beberapa hari aku khawatir karena lelaki itu tidak menunjukan tanda-tanda akan sadar. Tapi hari ini, aku lega. "Mau minum?" tanyaku yang kini berada di samping ranjang Adios. Lelaki itu menggeleng, ia melihat ke arah dua polisi yang berada di depan pintu. "Mereka ngapain?" tanya Adios. "Oh, karena kemarin kamu ditusuk orang dan dianiaya aku dan pihak rumah sakit melaporkan ke polisi. Biar mereka ketangkap." "Gila, lo! Cepat usir polisi itu dari sini." Adios terlihat panik. "Cepat usir mereka!" Dia kini bahkan melotot dan terlihat marah. Tapi marah kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN