Anak Selingkuhan Suamiku

1022 Kata
"Kamu hanya pesan satu kamar?" Aku melihat cardlock yang berada di tangannya. Satu cardlock, berarti satu kamar saja, kan? Jadi nanti kami tidur dalam satu ranjang? Oh, tidak! "Terus harus pesan dua? Rugi dong aku. Kecuali Kak Hera yang bayar!" Adios membalikkan badan dan berjalan menuju lift. "Pesan sendiri tapi, ya!" teriak lelaki yang sepuluh tahun di bawahku itu. Sudahlah! Malas ribet juga, akhirnya aku pasrah. Nanti jika suasana tidak bisa diajak kompromi, barulah aku mencari opsi lain. Bisa sewa kamar lain atau pulang ke rumah. "Sayang, buruan! Nanti kamu nyasar lagi!" Adios menoleh dan melihat ke arahku sambil mengedipkan mata. Secara otomatis orang-orang melihat ke arahnya dan aku secara bergantian. Mendadak otakku tidak bisa diajak berpikir jernih. Dengan tergesa, aku berlari kecil menyusul Adios. Untungnya pakai flatshoes, tidak membayangkan aku kalau berlarian memakai high heels. Terjengkang jelas. "Kamu bisa jaga mulutnya gak, sih? Aku malu. Dasar!" "Makanya jangan kebanyakan bengong! Udah tua masih aja suka ngelamun." "Aku baru tiga puluh, Adios." Tahulah dia yang masih baru beranjak dua puluh, tapi jangan mengataiku tua. Dasar berondong nyebelin! Langkahnya terhenti mendadak, matanya memicing dan seolah melihat sesuatu yang membuat fokusnya terbelah. Lalu dalam sedetik, kembali memasang wajah menyebalkan. "Ya udah, gak usah manyun." Adios melihat ke arah kiri, lalu nampak keraguan di matanya. Aku bisa menangkap jelas hal itu, tapi apa yang membuatnya seperti ada beban tiba-tiba? "Kenapa?" tanyaku sambil melihat ke arah yang sama dengannya. Dia menggeleng. "Tadi hanya seperti ada orang yang kukenal." "Oh, mantan wanita penyewamu? Cantik?" Dengan sadar, aku merasa tidak suka jika fokusnya pada orang lain selain aku. "Gak usah cemburu, Kak. Tetap saja Kakak yang ada di hatiku tujuh tahun ini." Aku menggoyangkan lengannya bertanya dan maksud yang dia katakan. Tapi Adios tidak mau membuka mulutnya lagi. Dia melanjutkan melangkahkan kaki ke arah lift dan aku menyusul dengan panik di belakang. "Kamu jalannya jangan cepet-cepet! Aku ketinggalan tahu!" Entah dapat keberanian dari mana, tanganku mengamit lengan Adios. "Makanya jangan lelet, Kak. Waktuku cukup berharga hanya untuk menunggu Kakak jalan kek keong sawah!" "Songong!" Tadi di pantai, dia juga meninggalkan aku di belakang tanpa mau menunggu. Sekarang melakukan hal yang sama kembali. Well, lelaki memang seperti itu, sih. Mendekat saat butuh, dan meninggalkan saat bosan. Itu yang aku simpulkan dari pengalaman, juga mengamati dari sekitar. Pintu lift terbuka, kakiku mengikuti langkah Adios yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. "Besok bolos kerja aja, Kak!" Lelaki itu menoleh menatapku. "Kenapa? Aku tidak biasa meninggalkan pekerjaan." Kami sampai di lantai enam. Adios melihat nomor kamar yang kami sewa dan aku masih dengan cengo-nya mengikuti lelaki itu sampai di depan kamar ini. Seolah terhipnotis oleh semua perkataannya, atau memang sudah mendapat kenyamanan yang selama ini kucari, hingga akhirnya mengabaikan panggilan Mas Dales yang terus saja menghubungi ponselku. "Gak mau izin sama suami dulu, Kak?" Dia terkekeh mengejek. "Lagian udah tahu lelaki kek gitu masih aja mau bertahan!" "Cerewet!" "Kamu terlalu sabar, Kak!" Adios melepas jaket kulitnya, lalu melemparkannya asal ke tempat tidur. Sedangkan dia sendiri mendekati tembok yang full dengan kaca, hingga seluruh pemandangan kota di bawahnya terlihat dari atas. Aku menyusuri seisi kamar, ini bukan tipe biasa yang harga sewanya under satu juta. Dalam tebakanku, harga per malamnya mencapai lima jutaan lebih. Lalu dari mana dia mendapat uang sebanyak itu? Padahal aku hanya memberinya tiga juta saja. Ponsel di tas kembali berdering. Aku mengambilnya dan melihat siapa yang mengirim pesan. Tapi sebelumnya, panggilan dari Mas Dales kuangkat. "Halo, Mas. Sebentar lagi aku pulang." Tidak ada jawaban di seberang sana. Hanya suara erangan yang terdengar. Di situasi seperti sekarang, aku sadar, mereka tengah berada dalam kubangan gairah menjijikan. Tidak menunggu lama, aku mematikan panggilan itu. Lalu berusaha menetralkan detak jantung yang masih terlingkupi emosi. Ponsel bergetar, kali ini pesan masuk kembali dikirim oleh seseorang. Dan terlihat di sana lima foto di mana wanita itu dan ... Adios sedang berdua. Baru aku sadari, kalau ada kemiripan di antara mereka. Namanya Ganesh dan di sebelahnya itu anak satu-satunya. Dia hamil di luar nikah ketika SMA. Seketika lututku lemas. Kenapa nasib mempermainkanku seperti ini? Orang yang kusewa untuk menyelidiki siapa tentang wanita lain suamiku sudah melapor. Hingga kenyataan menamparku untuk kembali ke dunia nyata. Kembali aku melihat foto itu, salah satunya menampilkan wanita itu dengan Adios dalam versi remajanya. Kali ini kembali ingatan beberapa tahun silam teringat. "Duduk sini, Kak!" Dia menepuk sofa di dekat tiang. Tidak langsung ke tempat di mana Adios duduk, aku memilih untuk berjalan sebaliknya. Menuju pintu keluar. Perasaan nyaman yang tadi sempat kurasakan saat bersama anak itu, kini berubah menjadi benci. Apa wanita itu sengaja mengirim anaknya agar menjauhkanku dari Mas Dales? Hingga mereka bisa bersama tanpa ada yang mengganggu. Tentu saja itu jawaban pasti yang kusimpulkan. Penyesalan selalu datang terlambat, bukan? Dan sekarang, aku menyesal pernah berpikir kalau Adios mempunyai perasaan lebih terhadapku. Karena faktanya, dia hanya utusan wanita selingkuhan Mas Dales yang akan merenggangkan hubunganku dengan suami. "Hei, kenapa? Menyesal karena telah menyewa lelaki panggilan seperti aku?" Suaranya terdengar dari belakang ketika tanganku hampir menyentuh pintu. Aku menggelengkan kepala. "Terus mau ke mana?" Sebelumnya aku menarik napas terlebih dahulu, lalu memutar badan dan menatapnya yang masih berada di posisi semula. Bedanya, kali ini sediki raut kecewa telihat di wajahnya. Bagaimana aku harus mengatakan pada Adios? Kalau bukan karena itu alasannya aku tidak mau satu kamar dengannya. Iya, aku tidak mau berada di sini karena sesuatu dari masa lalu tiba-tiba masuk di memory otak. Tantang pertemuan dengan Adios. Juga tentang siapa dirinya. "Kak, apa kamu sudah mengingatku sekarang?" Adios berjalan pelan mendekat. Tiga kancing kemeja atasnya terbuka, hingga mataku bisa melihat dengan jelas bagian tubuh yang tidak tertutupi pakaian. Setelah sampai di depanku, dia melihat ke dengan tatapan yang berbeda dengan biasanya. "Aku anak itu, Kak. Anak yang kakak selamatkan dari orang-orang ketika ketahuan mencopet. Sekarang ingat, kan?" Dengan sadar kepalaku mengangguk. Tapi ada alasan yang lebih besar hingga aku memutuskan untuk keluar dari sini dan membatkan untuk menghabiskan malam dengan Adios. Aku sudah tahu siapa dia sebenarnya. Dan aku sudah paham dengan situasi yang terjadi sekarang. Yang paling penting, aku kecewa karena dia datang hanya untuk membuatku bertambah hancur. Karena faktanya .... Dia ... anak selingkuhan suamiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN