"Sana teriak! Luapin aja, Kak!" Adios mengambil soft drink dari kantong putih bertuliskan logo sebuah minimarket. Dengan gaya sok cool, dia membuka tutupnya dan meneguk beberapa kali isinya.
Aku melihat kiri dan kanan tempat kami duduk. Tidak ada orang. Hanya beberapa pasangan yang sedang duduk menghadap laut. Sedangkan di belakang kami, hanya ada pasir pantai dan kesunyian dalam balutan suara angin laut.
"Nanti kita nginep di belakang sana saja. Untuk pakaian bisa beli di market yang berada di seberang jalan." Dengan matanya, Adios menunjuk sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari pantai.
Tidak jauh dalam artian ini sekitar 3,75km. Ya, memang jika memakai sepeda motor tidak terlalu jauh, tapi kalau jalan kaki membutuhkan waktu lebih dari lima menit.
Semenyebalkan itu dia! Bahkan saat aku protes tentang arti "tidak jauh" yang baru saja dikatakan, dia hanya tertawa.
"Tenang saja, Kak. Kalau mau pesan kamar terpisah juga gak apa-apa. Tapi, yang bayar Kak Hera, ya!" Dia menyuapkan sepotong pizza ke dalam mulutnya.
"Iya! Aku tahu kamu gak mau keluar duit."
"Bukan itu. Tapi, Kak Hera menyewaku, jadi semua harus Kakak yang tanggung."
"Begitu? Oke! Deal!" Aku menjabat tangannya sebagai tanda resminya perjanjian di antara kami.
Adios menyunggingkan senyumnya. "Makasih. Kalau begini kan, aku jadi makin semangat dapat job dari Kak Hera!"
"Hais, uang aja yang kamu pikirkan!"
"Lalu apa lagi?" tanyanya. Dia menunggu jawaban dengan tangan kami masih saling mengenggam.
Ah, tidak. Lebih tepatnya aku yang menggenggam tangannya. Entah kenapa rasanya seluruh kesakitan yang kurasa perlahan luruh saat bersama lelaki muda tersebut.
Semoga saja ini hanya perasaan sekilas yang hadir saat aku butuh pelampiasan. Bukan rasa yang hadir antara wanita dewasa kepada pria yang dicintainya.
"Kak! Lah, malah ngelamun!" Dia melambaikan tangan satunya di depan wajah.
Aku melihat kesal ke arahnya. Mengganggu saja!
"Betewe, ini tanganku mau dikekepin sekalian gak? Perasaan dari tadi digenggam mulu, padahal aku baru aja ngupil sebelum salaman tadi." Dia menyemburkan tawanya sambil memegangi perut.
Tuhan, menyebalkan sekali lelaki ini.
Aku menghempaskan tangan Adios dan berkali-kali mengusapkan ke baju. Jijik sekali kalau benar dia habis ngupil. Dasar tengil!
Pandanganku lurus ke depan, di antara air laut dan batas cakrawala yang terbentang. Memikirkan kembali kilas perjalanan pernikahan bersama Mas Dales sepuluh tahun ini. Aku merasa bahagia hanya beberapa bulan setelah menikah saja. Saat di mana Mas Dales belum naik jabatan. Di mana saat itu, perhatiannya hanya kepadaku saja.
Namun sekarang berubah, ketika jabatan dan gaji yang dia dapatkan semakin besar, berganti-ganti wanita adalah hobinya.
"Kak, aku mau ada urusan, tunggu di sini bentar, ya!" Adios menepuk pundakku.
Tanpa mengeluarkan kata iya, dia meninggalkanku. Mungkin ada janji dengan klien yang biasa dilayani, atau ... entahlah.
Tidak mau memikirkan kenapa Adios pergi, aku lebih memilih untuk memikirkan kelanjutan hubungan pernikahanku.
Sampai kapan lagi kuat bertahan? Kalau semakin lama rasanya sudah semakin hambar. Jika sudah mempunyai anak mungkin Mas Dales akan berubah. Sayangnya, sampai satu dasawarsa rahimku belum juga terisi janin.
Dan itu juga yang membuat keluarga Mas Dales mencemoohku. Mereka menuduhku mandul, tanpa tahu yang sebenarnya.
Sengaja tidak memberi tahu kepada orang lain, bahkan keluarganya kalau yang bermasalah adalah Mas Dales. Semua kulakukan untuk menjaga perasaan lelakiku.
Namun, dia dengan sadar, tidak bisa menjaga perasaanku.
Setengah jam kemudian, Adios sudah kembali. Di tangannya ada sebuket bunga tulip beraneka warna.
"Buat kamu!" Dia memberikan buket itu. "Jangan sedih lagi. Soalnya Kak Hera udah jelek, sayang kalau pelit senyum tambah kelihatan jeleknya."
Aku mencibir. Itu bukan rayuan untuk menghibur, dan sialnya aku cukup sadar tentang kejelekan yang dia katakan.
"Dari mana kamu tahu aku suka tulip?" tanyaku penasaran. Bahkan kami baru beberapa hari kenal, tapi dia sudah tahu bunga fovoritku.
"Apa sih yang gak aku tahu dari Kakak. Bahkan bekas luka di paha Kak Hera aja aku tahu!"
What? Dia bilang apa?
"Tapi tenang saja, aku gak akan bilang sama siapa-siapa, kok."
Terserahlah! Biar nanti aku tanya dari mana dia bisa tahu bekas luka yang hanya Mas Dales yang pernah melihatnya.
"Lalu itu apa!?" tanyaku sambil melihat kantong di tangannya.
"Oh, ini? Baju buat Kak Hera. Tadi aku sudah pesan kamar juga untuk kita!" Adios kembali menyodorkan kantong yang dia bawa.
Aku mengambilnya, lalu mengeluarkan baju yang dia beli. Dress salur berwarna biru muda dengan lengan balon. Juga sepasang baju dalam pink dan juga ... flatshoes.
Hei, dari mana juga dia tahu aku tidak suka memakai wedges? Dia bahkan paham betul dengan seleraku.
Apa aku terlalu se-mencolok itu?
"Gak mau cerita, Kak?" Adios duduk di sebelah kananku.
Aku menghela napas. Lalu meletakkan kantong berisi pakaian di atas pasir, dan bunga tulip di atasnya lagi.
"Kalau Kakak tidak kuat lagi, gak usah dipaksa bertahan. Bukan apa-apa, hanya akan menyakiti diri sendiri. Hidup itu cuma sekali, jangan Kakak habiskan bersama orang yang salah." Dengan sok bijaknya, Adios menasihati.
Memang tahu apa dia soal rumah tangga?
"Kamu belum nikah, jangan sok seolah paham dunia pernikahan," ujarku kesal.
"Memang belum. Tapi aku tahu yang dirasakan Kak Hera."
"Apa memangnya? Kamu tahu rasanya satu sisi berjuang untuk mempertahankan dengan berbagai cara, tapi sisi lain mengabaikan dan acuh? Kamu tahu rasanya membayangkan orang yang seranjang denganmu, juga memeluk wanita lain di luar? Gak tahu, kan? Karena kamu sama kayak dia. Laki-laki memang semua sama, tidak bisa setia." Aku meluapkan semua yang kupendam selama ini kepada Adios.
Salah sih sebenarnya jika melampiaskan padanya, tapi bukannya aku sudah menyewanya? Jadi lebih baik aku keluarkan semuanya, agar hati tidak lagi sesak.
"Oke." Dia hanya menjawab singkat. Matanya masih menatapku.
"Kalian bangsa laki-laki semua tidak punga hati. b******k! Gak punya otak! Suka selingkuh! Gak pernah menghargai perjuangan wanita!"
Dan masih banyak lagi sumpah serapah juga omelan, yang seharusnya aku katakan pada Mas Dales malah kulampiaskan pada Adios. Dia tidak menanggapi, hanya menatap dengan pandangan ... mungkin kasihan.
Memang terlihat mengenaskan seorang Hera hari ini. Aku pun sadar itu. Tapi peduli apa? Toh suami saja tidak lagi peduli dengan perasaanku.
"Luapkan sama semua, Kak. Kalau mau mukul, mukul aku saja. Biar lega!"
"Pengen nampar," ucapku cepat.
"Boleh!"
Plak!
"Aduh." Dia mengelus pipinya dan menatapku melas.
"Kenapa?" Aku bertanya dengan tanpa perasaan bersalah.
"Sakit bego. Kakak kira ditampar enak." Kali ini mukanya terlihat kesal.
"Tadi katanya boleh. Lagian kamu kan sudah aku bayar!"
"Tapi bukan bayaran untuk tamparan, Kak."
"La terus? Aku harus bayar lagi untuk tamparan ini?"
"Jelas.
"Oke!"
Plak.
"Kak Hera mau menyiksaku?"