"Terima kasih!" Aku menarik kedua ujung bibir lalu menatapnya. "Pergi, dulu, ya!"
Dejavu.
Seolah aku pernah mengalami hal serupa dan dengan lelaki muda itu. Persis seperti yang baru saja terjadi. Dia dengan jaket hitam berbahan parasut, sedang bersandar di tembok. Tak lupa senyum tebar pesona dia lemparkan ke semua wanita yang lewat.
Dan sekarang, aku merasa ada sesuatu yang menarik mata ini untuk melihat ke arahnya.
"Kenapa, Kak?" tanyanya.
"Ah, gak. Hanya memastikan!" Aku mengalihkan pandangan ke lain objek.
"Oh, kirain mau ngakuin kalau aku tampan!" Dia mengedipkan sebelah matanya.
Demi Dewa Zeus, ingin pingsan rasanya. Kenapa Tuhan menciptakan mahluk sesempurna dia, sih?
Sayang, profesinya tidak bisa dibanggakan di depan semua orang.
"Udah, Kak. Jangan mencuri-curi pandang. Liat aja. Gratis kok."
Hais, kali ini aku benar-benar ingin menimpuknya. Ketahuan mencuri pandang itu rasanya seperti abis ditembak mantan. Deg-degan.
Dia kembali melempar senyuman ke semua wanita yang lewat. Catat! Semuanya! Bahkan sama wanita yang sedang menggandeng lakinya juga tetap dia berikan senyum tebar pesona.
Kenapa ke semua wanita? Apalagi kalau bukan mencari mangsa. Dasar lelaki panggilan kurang belaian!
"Kak!"
Aku menoleh. "Ya!" Lalu menunggu kelanjutan perkataan Adios.
"Pernah nolong anak gelandangan yang lagi ketahuan mencuri, gak?" tanyanya.
Hah? Pandanganku mungkin menyiratkan pertanyaan balasan. Dan memang itu kenyataannya.
"Gak ingat?" Adios maju dua langkah. "Yang saat itu Kakak akui sebagai adiknya." Harum napasnya tercium sampai di hidungku.
Aku memutar ingatan. Percuma! Sama sekali tidak ada memori tentang apa yang dikatakan. Mungkin lupa. Atau bisa jadi memang tidak pernah melakukannya.
Setiap gajian dan ada rizki lebih, aku selalu berbagi kepada anak-anak jalanan. Kebiasaan sejak muda dan sampai sekarang masih dilakukan. Dengan melihat senyum mereka, aku seolah menemukan saudara senasib.
"Makasih, Kak! Kalau ada apa-apa hubungi aku aja!" Setelah mengatakan itu, dia berlalu dari sana.
Punggung kokoh anak itu terlihat nyaman untuk bersandar. Jika bisa, ingin aku berlari dan mendekap tubuhnya. Ah, terlalu jauh pikiranku melantur.
Aku mengendikkan bahu, lalu menghembuskan napas kasar, mengusir semua pikiran melenceng yang mungkin saja akan membuat hidup ini tidak berjalan sesuai rencana.
Namun, aku bisa apa? Sekuat apa pun mencoba menjalani kehidupan sesuai rencanaku, tetap saja rencana Tuhan yang menang.
Memang sejak hari di mana kami bertengkar, Mas Dales tidak pernah lagi keluar malam lagi. Ia kembali menjadi suami yang perhatian dan penuh kejutan.
Semoga seterusnya seperti ini.
Namun, harapan tinggal harapan. Hari kelima, aku memergokinya tengah menggandeng wanita yang sama dengan yang kutemui waktu itu. Rok mininya berwarna merah cerah, sedangkan blazer hitam membungkus tubuhnya.
"Sialan!" Tanpa sadar aku menendang dinding di samping. Karena terlalu keras, ujung kaki terasa nyeri.
Janjinya palsu! Mas Dales masih berhubungan dengan wanita pemilik klinik kecantikan tersebut.
Rasanya ingin menjambak dan menampar wanita itu. Kalau perlu mencekik lehernya sampai mati. Tapi sayang, aku masih belum siap masuk jeruji besi.
Dalam suasana kalut dan kesal juga marah, aku menghubungi lelaki dua puluh tahun yang pernah kusewa. Kali ini keberuntungan berpihak padaku, karena Adios sedang tidak melayani tamu.
"Tunggu di situ, aku akan jemput!" katanya sebelum menutup panggilan.
Di bawah pohon akasia, aku menunggu Adios. Lalu-lalang orang lewat tidak bisa membuat hati kembali baik. Padahal, sebisa mungkin aku mengabaikan bayangan ketika suamiku sedang berada di atas tubuh wanita lain.
Jika bisa memutar waktu, ingin sekali aku tidak memilihnya. Tapi pasti tidak akan bisa, aku sadar itu.
Mungkin sudah jalan takdirku mendapatkan suami tukang selingkuh, main tangan dan tidak bisa setia.
Cukup mengenaskan memang! Dan aku perlu menertawai diri sendiri atas ini.
Bodohnya aku masih mau bertahan.
Memang jika aku melepaskan, ke mana akan pergi? Keluarga sudah tidak ada, dan hanya rumah itu satu-satunya tempat berteduh.
Beberapa menit berlalu, aku melihat arloji di pergelangan tangan.
"Sudah lama nunggunya, Kak?" Suara bariton seksi terdengar dari belakang.
Aku menoleh. Terlihat Adios sedang melepas helm yang dipakainya.
"Sudah setahun," jawabku asal.
"Oh, aku malah tujuh tahun." Dia merapikan rambutnya yang berantakan. Hanya disisir asal memakai jari, tapi terlihat cool di mataku.
"What?"
"Gak ada pengulangan!" Adios melempar pandangannya ke sekeliling, lalu mengangguk.
"Suami kamu selingkuh lagi?" Tanpa basa-basi dia bertanya.
"Menurut kamu." Aku menghela napas pelas, lalu melepaskannya perlahan.
"Pasti. Di dalam, kan?"
Tanganku masuk ke dalam tas, lalu mengambil uang segepok dan menyodorkannya pada Adios. "Temani aku jalan-jalan!" Tiga juta kutaruh di tangannya.
Dia menatap tak mengerti.
"Aku ingin melepaskan beban. Tugasmu mengantarku ke tempat hatiku bisa merasa ringan." Sekali lagi, kuhembuskan napas kuat-kuat.
Hanya itu yang aku inginkan. Melepaskan himpitan di hati, supaya nantinya ketika pulang ke rumah akan kembali bisa bersikap biasa.
"Oke! Aku punya satu rekomendasi tempat yang bisa menghilangkan kegalauan Kakak." Dia mengambil satu helm yang disimpan di jok motor, lalu mengulurkannya padaku.
"Oh, ya? Di mana?" Aku memakai pelindung kepala tersebut.
"Kamarku!"
Sialan. Dengan reflek kutepuk lengan lelaki yang sangat menyebalkan itu. Dia hanya mengaduh sambil meringis. Telapak tangan kanannya mengelus bagian yang kena tepuk.
"Jangan siksa aku, Kak! Nanti kegantenganku hilang!"
"Ya Tuhan, kamu bisa gak sih, jangan nyebelin?"
"Gak bisa. Yang nyebelin biasanya bikin kangen." Dia naik ke motor, lalu kembali melihat pantulan wajah di spion.
Tampan!
"Bawa baju ganti, gak?" tanyanya.
Aku menggeleng. Buat apa? Kan tidak menginap rencananya.
"Oh, ya udah! Nanti beli aja!"
Aku tidak paham maksudnya. Tapi tidak bertanya lebih lanjut dan memilih untuk bersiap naik ke motor.
"Doa dulu, semoga setelah pulang Kakak gak terbayang-bayang wajahku!"
Tuhan, pede sekali dia.
Setelah selesai, aku naik ke jok belakang motor matic keluaran terbaru itu. Tidak peduli dia mau membawaku ke mana, yang penting, suasana hati harus kembali baik. Biarkan kali ini saja aku melampiaskan segala keresahan bersama lelaki lain.
Well, bukan kali pertama memang, tapi kedua kalinya aku melarikan diri dari masalah dengan menyewa lelaki panggilan. Bukan untuk beradu panas di atas ranjang, hanya sekedar mendengarkan semua curahan hati saja.
"Mau ke pantai, Kak?" Dia bertanya dari balik kaca helm.
"Terserah. Ke mana aja yang penting aku bisa nangis!"
"Lah bukannya sekarang lagi nangis?" Dia melirik dari kaca spion, aku melengos ketika melihatnya.
Sialan.
"Gak ada yang nangis." Aku mengusap air mata dengan cepat.
"Ya udah sih, Kak. Nangis aja kalau mau nangis, gak usah ditahan. Nanti bikin kebelet eek!"