"Kamu mau kerja?"
Mas Dales sudah duduk di kursi ruang makan ketika aku turun dari lantai dua. Setelah kemarin kami bertengkar dan berakhir dengan perginya lelaki itu entah ke mana, sekarang keadaan sudah kembali seperti semula. Seolah tidak ada masalah di antara kami.
Selalu seperti ini. Melupakan masalah dan bersikap baik-baik saja. Seperti tidak ada tamparan dan tidak ada sumpah serapah darinya.
Dia masih dengan sikap hangatnya, dan aku masih berusaha menolak perhatian yang mungkin saja akan meluluhkanku.
Namun susah, entah kenapa tidak bisa berlarut-larut marah dan mengabaikan lelaki itu.
"Maaf, Hera. Mas gak bermaksud menghianatimu, tapi dia yang menggoda terlebih dahulu. Jadi bukan sepenuhnya salahku!" Mas Dales beranjak, lalu berdiri tepat di pintu. "Kamu mau, kan memaafkan aku?"
Ingin sekali menggeleng dan menyumpahinya, tapi tidak bisa. Padahal susunan kalimat yang rencananya aku lemparkan ke muka Mas Dales, sudah hapal dari semalam. Lidah ini tidak sanggup mengeluarkan kata yang mungkin saja akan kembali membuat pipiku lebam. Cukup sakit di hati, jangan ditambah dengan fisik.
Aku masih diam, lalu melanjutkan langkah dan melewati tempatnya berdiri. Dengan sudut mata, terlihat di wajahnya sebuah penyesalan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mas Dales.
Pertanyaan bodoh. Memang ke mana lagi aku pergi, selain ke kantor? Aku bukan orang yang berkata merah tapi di belakang hitam, tidak sepertinya, pamit lembur tapi menjemput wanita itu, dan berakhir di kamar hotel.
Sialan.
Dan dengan masih tidak tahu malunya, dia meminta maaf padaku.
Lebih mengenaskan lagi, dengan sadar kepala ini mengangguk.
"Masih sakit pipi kamu!" Terdengar langkah kaki menyusulku. Lalu setelah dekat, tubuh tegapnya memeluk dari belakang.
"Tidak. Lebih sakit di hati." Aku menghela napas lelah.
"Maaf juga karena itu. Sungguh, aku hanya cemburu. Membayangkan kamu dijamah lelaki lain dan hampir meninggalkanku membuat lupa diri. Kamu paham, kan? Aku sayang banget sama kamu, lebih dari diri sendiri."
Dekapan ditubuh semakin erat. Aku tersenyum getir. Membosankan.
Menampar dan menarik rambutku adalah perlakuan sayang? Berselingkuh dan mengatai jalang merupakan ungkapan rasa sayang?
"Sudahlah, Mas. Kita selalu begini, kamu yang salah dan aku yang harus menjadi penyebab kesalahanmu."
"Kamu jangan mengatakan itu, Hera! Aku membiayai kuliah, memberikan semua yang kamu inginkan, biaya hidup dari sebelum nikah, dan semuanya itu karena aku cinta kamu. Berkali-kali aku mengatakan itu, kamu tahu, kan?
Ya Tuhan, kenapa naif sekali lelaki ini! Membiayai kuliah dan sekarang merasa berkuasa atas hidupku, bahkan semua yang kulakukan harus atas persetujuannya, selingkuh, main tangan dan ah ... tidak ada sisi baik selain kata-mata manisnya.
Sepuluh tahun bertahan, dan sekarang mulai merasakan jika yang kulakukan adalah sia-sia.
Di rumah, aku menjaganya, memastikan dia mendapat perlakuan terbaik yang kupunya, tapi dengan tanpa dosanya, dia bersenang-senang dengan wanita lain di luar. b******k memang!
Dan sialnya, lelaki b******k ini bergelar suamiku.
"Dan jangan lupakan, kalau bukan karena aku, apa kamu bisa masuk ke perusahaan bergengsi seperti sekarang? Apa bisa dapat tempat tinggal yang nyaman? Semua itu aku lakukan karena sayang banget sama kamu!" Mas Dales membalikkan badanku, lalu mengecup singkat di kening.
"Iya, Mas. Aku ingat semua. Terima kasih sudah menjagaku selama ini."
"Tentu saja. Itulah tugas seorang suami, menjaga istrinya."
Aku mengangguk.
"Kamu gak masak tadi pagi?"
Kali ini, aku menggeleng. Masak? Buat apa? Toh dia suka makan di luar bersama selingkuhannya, buat apa susah-susah masak?
"Ya udah, nanti biar Mas makan di kantor. Mau berangkat bareng?" Dia menawarkan diri.
"Memang, boleh?"
"Tentu saja. Kamu istriku. Masa gak boleh."
Ya, dan pertengkaran kemarin berakhir seperti sekarang ini. Saling menggenggam dan tersenyum.
Jika ingin mengataiku bodoh, itu memang kenyataan.
Terlebih lagi tidak akan ada yang bisa membelaku. Selalu sendiri dan hanya bisa memendam tanpa sanggup menngungkapkan kenyataan.
Jika masalah ini menyebar dan tidak selesai dengan untaian kata maaf, juga penekanan budi apa saja yang sudah dia beri, maka dapat dipastikan kosongnya rahimku akan menjadi bulan-bulanan keluarga yang membelanya. Dan itu lebih menyakitkan.
Di dalam mobil, kami sudah kembali bercanda, tertawa dan menertawakan hal-hal remeh. Dia memang baik, aku mengakui itu. Jika saja tidak suka berselingkuh, maka rasa cinta ini akan sepenuhnya menjadi miliknya seorang.
Namun, separuh ruang di dalam d**a sudah kosong. Cinta yang dulu ada dan hanya untuknya, kini mengikis sedikit demi sedikit. Seiring berjalannya waktu dan perlakuannya yang tidak berubah, perasaanku perlahan menjadi hambar.
Jika tanya alasan kenapa bertahan? Maka balas budi adalah jawabannya.
Sesampai di kantor, Mas Dales turun terlebih dahulu. Sedangkan aku menyusulnya di belakang.
Ya, kami memang tidak semesra seperti di rumah ketika sampai di kantor. Meski semua sudah tahu bahwa kami suami istri, tapi banyak di antara mereka yang menginginkan Mas Dales menjadi miliknya. Dan itu yang membuat lelakiku enggan bersikap mesra, bahkan menggandeng tanganku saja tidak mau.
Kaki melangkah tidak seringan biasanya, ada beban yang mental yang kupikul. Tentang penyesalan kenapa memilihnya, tentang perlakuannya padaku, dan tentang semua yang sudah terjadi.
Aku lelah. Sungguh! Kalau saja aku bisa melawannya.
Namun balas budi menjadi penghalang terbesar.
Jika ada penyewaan bahu untuk bersandar, aku ingin menyewanya sebentar saja. Hanya mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam sendiri. Setelah itu, sudah! Aku kembali pada Mas Dales lagi.
"Hera, baru berangkat?" Salah satu teman menyapa. Dia menarik kedua ujung bibirnya.
Penampilannya modis. Wajahnya cantik, sangat jauh jika dibanding denganku. Entah siapa dia, aku bahkan tidak ingat siapa namanya.
"Pipi kamu kenapa?" Dia melihat ke arah samping, lalu terperanggah. "Ini bekas tamparan?"
Dia hampir menyentuh pipiku dan beruntungnya sempat menghindar.
"Ah, bukan. Hanya terbentur meja. Tidak sengaja tersandung."
Dia terlihat tidak percaya, tapi tidak juga melanjutkan pertanyaannya. Setelah itu, senyum tersungging dari bibirnya.
"Aku, permisi dulu!" Dengan tergesa, aku melangkahkan kaki menjauh dari wanita itu. Dari pada nantinya semakin panjang pertanyaan yang akan dia lontarkan, lebih baik mengakhiri pembicaraan sampai di sini saja.
Salah satu yang kuhindari adalah rasa penasaran orang-orang, karena jika sedikit saja ceritaku menyebar, maka nama baik Mas Dales dipertaruhkan.
Dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi.
Bukan karena apa-apa, tapi meminimalisir perkataan orang yang nantinya pasti akan menyalahkanku. Menyalahkanku karena bertahan pada lelaki toxic, menyalahkanku karena menutupi kelakuannya. Juga menyalahkanku karena telah memilihnya.
Sungguh, aku tidak ingin itu terjadi. Biarkan semua orang melihat jika pernikahan dan hubunganku dengan Mas Dales baik-baik saja.
Dan tentang sifat minusnya, biarkan itu menjadi rahasiaku saja.
Lagi apa, Kak
Aku sedang menyiapkan dokumen ketika sebuah pesan masuk ke ponsel. Nomor tidak tersimpan, tapi sepertinya aku kenal dengan si pemiliknya.
Lipstik Kakak tertinggal di rumahku. Mau diambil atau aku antar?
Dia ... Adios. Lelaki panggilan itu.