"Ada apa lagi sih, Mas?" Aku menyandarkan tubuh ke mobil entah milik siapa. Siang tadi, Mas Dales memaksa untuk bertemu. Dengan seribu rayuan yang dia buat, akhirnya aku setuju. "Maaf, karena waktu itu tidak bisa mengantarkan kamu pulang. Aku juga baru tahu sekarang, kalau ternyata kamu tidak kembali ke rumah sejak saat itu!" Lelaki di depanku menatap tajam. Aku mengendikkan bahu. Berusaha tetap acuh dan tidak terpancing. "Jadi ... di mana kamu selama ini?" Pertanyaan yang mengandung tuduhan. "Memang penting aku ke mana, Mas? Harusnya aku yang bertanya, Mas ke mana? Gak mungkin kan weekend seperti sekarang ada meeting dadakan? Ya Tuhan, memang aku sebodoh itu, ya?" "Tapi beneran, Dek! Ada meeting yang harus Mas hadiri kemarin. Kamu jangan mengalihkan pembicaraan deh! Di sini yang haru

