Seonggok Masa Lalu

1608 Kata

Aqna tidak ingin merasa putus asa dengan semua takdir yang dia terima. Sepuluh tahun dia tidak pernah mengeluh. Namun, cara Zaidan hadir dalam hidupnya membuat dia menginginkan sebuah pengakuan.   Aqna berjalan dengan mantap, masuk ke dalam butik. Dia berharap semoga hari ini Zaidan tidak lagi menampakan wajahnya.  “Pagi mbak. Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”  Dua perempuan muda itu tersenyum ramah. “Saya sedang mencari baju untuk suami saya,” ujarnya.  Aqna mengangguk. “Silahkan sebelah sini, mbak.” Dia kira perempuan itu belum menikah, penampilannya terlihat sangat muda.  “Suami mbak biasa pakai size apa?”  tanya Aqna sembari menunjukan beberapa model.   “L apa M, ya. eh tapi mungkin M.” Perempuan itu tersenyum. “Tapi, saya ragu,” imbuhnya disertai senyum kering yang mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN