Kondisi kesehatan Aqna semakin hari semakin memburuk. Dia sudah tidak dapat berjalan, lantaran kanker otak yang dideritanya menyerang sistem pusat pengendali tubuh. Sehingga kini Aqna mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas fisik. Zaina memegang semangkuk bubur. Dia duduk di depan ibunya. Anak itu tak berhenti mengurai air mata. Tangannya terus mengambil satu sendok bubur dan menyuapi ibunya dengan perlahan. Aqna menatapnya tegar. “Bunda memang sakit,” ucapnya kemudian menghela napas. Dia tersenyum sembari menyeka pipi Zaina. “Doakan Bunda sembuh, ya.” Anak itu merenggut menatap ibunya sembari mengangguk. Dia memang merasa berdosa sekali karena telah memaksa ke taman tempo hari. “Maafin Zaina, ya Bund.” Dia tertunduk. “Loh, minta maaf untuk apa?” tanya Aqna, sudah tiga kali da

