Zaidan membaringkan tubuhnya, meletakan punggung tangannya di atas kening. Dia menoleh pada Aqna. “Kenapa?” Aqna menangis mengurai air mata, membasahi bantalnya. “Aqna hanya ingin melihat Abang bahagia.” Zaidan berbalik menghadap Aqna, meletakkan telapak tangannya di pipi istrinya itu. “Kamu pikir aku tidak bahagia, hm?” Sekali lagi Zaidan menatap mata Aqna yang berembun. “Bahagia itu bukan soal kebutuhan yang terpenuhi.” Zaidan mendekatkan wajahnya ke wajah Aqna. “Tapi bahagia itu tentang bersama siapa kita saat ini. Dan aku bahagia sama kamu.” Air mata terus mengalir dari kedua sudut mata Aqna. “Jangan lagi kamu meminta aku mencari wanita selain kamu. Aku takut berbuat dzolim.” Aqna hanya terdiam menatap wajah Zaidan yang perlahan memudar dari pandangannya. Akhir-akhir ini keseha

