Zaidan merasa dunianya yang hampir dalam genggaman itu kembali menjauh, sehingga dia harus mengulangnya dari awal. Zaina menjauhinya karena pengaruh Haris yang begitu besar terhadap anak itu. Bahkan Aqna seolah menghilang di telan bumi membuat Zaidan semakin frustasi. Kini Zaidan tengah berdiri di depan resepsionis kantor Haris. “Apa bapak sudah ada janji?” tanya seorang perempuan. Zaidan tidak menyangka ternyata Haris bukan orang sembarangan, pantas betapa tergiurnya Aziz untuk menjodohkan Aqna dengan pria klimis itu. “Tidak.” “Maaf, Pak. Pak Haris tidak menerima tamu, sebelum membuat janji terlebih dahulu.” Zaidan mengangkat sebelah alisnya. Apa Haris memang seperti itu? “Ya udah tolong sampaikan Zaidan ke sini.” “Baik, Pak.” Zaidan berlalu dari hadapan resepsionis itu. Namun s

