Bab 1 : Berkat Atau Kutukan?

1262 Kata
Menikah adalah hal yang tidak pernah terbayangkan bagi Renate. Sebab, hasrat akan pernikahan sudah lama terkubur di suatu tempat, nun jauh di bawah puing-puing kehidupannya yang pernah luluh lantak. Jika orang yang selalu menyatakan cinta saja bisa berkhianat, apalagi dengan laki-laki yang mengatakan akan menikahinya. Ya, dia adalah lelaki yang baru kali ini Renate temui. Dan menikahi orang yang tidak dikenal, terasa bagai mimpi di siang bolong. Lantas bagaimana Renate bisa memutuskan untuk menikah secepat ini, padahal tidak pernah saling mengenal sebelumnya? Pertanyaan seperti itu, tidak salah. Hanya saja kondisi ini sedikit klasik, dan siapa pun bisa mengira-ngira apa yang terjadi di awal pertemuan mereka. “Karena kita sudah sepakat dengan poin-poin yang tertera di kontrak, jadi sebaiknya kita lekas menyelesaikan masalah pertama. Ibumu harus segera dioperasi, kan? Katakan di mana Beliau di rawat, saya akan menyelesaikan semua tagihannya.” Ya, Ibunya memiliki kelainan pada jantung dan harus segera menjalani operasi jika ingin selamat. Sayangnya Renate terlalu miskin dan terlilit hutang piutang yang ditinggalkan Ayahnya. Biaya operasi dan perawatan ibunya sangat besar, belum lagi setiap hari Renate harus berhadapan dengan para penagih hutang yang semakin kasar. Alasan klasik yang cukup untuk seseorang menjual dirinya, bukan? “Dia dirawat di Shine Hospital. Atas nama Wina Sanjaya, tapi apa Anda benar-benar serius akan melunasi semua tagihannya?” Pria itu tersenyum seraya menuangkan ocha yang baru saja diraciknya, ke dalam cangkir porselen di hadapan Renate. Lantas mempersilahkannya untuk minum. Dia menanggapi pertanyaan serta keraguan yang terpancar jelas di wajah Renate, dengan sangat tenang. Mau dilihat dari sisi mana pun, tidak mengubah fakta kalau pria bernama Mahendra Gunawan di hadapannya ini, adalah orang yang sangat tampan, dengan pengendalian emosi yang sangat bagus. Dan terlebih lagi, dari ujung kaki hingga kepala, semua yang dia kenakan sangat identik dengan status sosialnya. Tanpa banyak berkata-kata pun, pria ini bisa menjelaskan jika dia berasal dari keluarga kaya raya. Hanya itu yang terlintas saat Renate melihatnya beserta rumah di mana kini mereka berada. “Tentu saja. Kamu sudah jauh-jauh datang ke sini, ikut mengantre sedari pagi, bersaing dengan mereka yang tertarik pada acara pencarian jodoh yang saya adakan. Tentu saya harus memenuhi segala kebutuhan wanita yang berhasil lolos seleksi sebagai calon istri saya. Dan yang terpenting, kamu sudah menandatangani kontrak pernikahan kita, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk mundur.” “Tapi, biayanya tidak sedikit. Anda bahkan menyetujui untuk melunasi hutang-hutang saya. Tolong pikirkan kembali sebelum Anda memutuskan. Rasanya saya terlalu memanfaatkan kesepakatan kita. Saya hanya perlu menikah dengan Anda selama dua tahun, Anda tidak perlu merugikan diri sendiri hanya karena merasa kasihan pada saya.” Suara notifikasi dari ponselnya yang lebih dulu menyahuti ucapan Renate. Dia meletakkan benda pipih itu di meja, sebelum mengarahkan fokusnya kembali pada wanita cantik di hadapannya. “Dia akan ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit itu. Sekretaris saya akan segera menghubungimu, perihal tanggal operasi dan dokumen apa saja yang perlu kamu tandatangani, termasuk agar Ibumu bisa pindah ke ruangan yang lebih baik. Jika ada yang kamu butuhkan, jangan ragu untuk mengatakannya pada saya.” Bukan hanya itu jawaban yang Renate inginkan, dia memang senang mendengar operasi ibunya bisa segera dilakukan, dia juga akan dipindahkan ke ruangan yang lebih baik. Ibunya pasti merasa lebih nyaman, dan Renate benar-benar bersyukur jika itu benar terjadi. Akan tetapi, pria ini belum menjawab pertanyaan yang tadi Renate berikan. Renate tidak terbiasa menerima sesuatu yang terlalu sempurna seperti ini, seolah-olah dia sedang menggiring dirinya masuk ke dalam lubang neraka yang lain, demi keluar dari neraka yang ditempatinya selama ini. Yang Mahen tawarkan terlalu sempurna, persis seperti yang biasa para penipu lakukan. Meski demikian Renate tetap ingin berharap semuanya benar. “Anda benar-benar akan melakukan ini? Isi kontrak pernikahan kita bahkan tidak ada yang menguntungkanmu, saya bahkan tidak secantik wanita yang Anda tolak tadi, lantas kenapa saya? Apa Anda tidak takut dirugikan?” Renate memberondongnya dengan pertanyaan. Rasa hausnya akan jawaban jelas sudah sampai di ubun-ubun. Renate bisa melihat kalau pria ini orang kaya, tapi bagaimana dia bisa semudah itu mengeluarkan uang dalam jumlah yang begitu besar, untuk seorang wanita yang baru beberapa jam dia temui? Apa orang kaya memang seperti itu saat sedang bosan? Hari ini bahkan dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk semua orang yang datang ke acara yang diadakannya. “Seorang pebisnis tidak akan pernah menandatangani kesepakatan, yang tidak menguntungkannya. Saya peringatkan untuk pertama dan terakhir kalinya, sudah terlambat untuk merasa ragu. Kontrak yang tadi kita tandatangani, tidak bisa dibatalkan. Jadi, daripada berpikir bahwa yang saya berikan padamu bisa merugikan saya, sebaiknya kamu berusaha untuk membuat dirimu berguna.” Menyuruh Renate menjadi orang yang berguna untuknya, memang tindakan yang tepat. Akan tetapi, dia tetap merasa ini tidak benar. Ada sesuatu yang salah dalam hubungan yang coba mereka bangun, meski menjalani pernikahan kontrak memang suatu yang salah. Terlepas dari kenyataan itu, firasat Renate terus saja mengirim sinyal, agar dia melarikan diri sekarang juga, serta lebih berhati-hati dan tahu diri, jika bertemu seseorang. Apalagi jika orang itu baru saja ia kenal. Renate tentu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Namun, Mahen memperlakukannya dengan baik, dia bahkan tidak ragu membiayai seluruh pengobatan ibu Renate. Membuatnya menepis semua peringatan yang dirinya rasakan, padahal Renate tetap merasa tidak nyaman diperlakukan seperti ini. Sisi dirinya yang lain tetap yakin jika ada yang janggal dari sikap pria tampan itu, sialnya dia tidak tahu apa yang Mahen pikirkan tentangnya. “Itu tidak menjawab apa yang ingin saya ketahui dari Anda. Kenapa Anda memilih saya? Saya yakin Anda bisa mendapatkan lusinan wanita yang lebih cantik dari saya jika mau, tapi kenapa Anda memilih saya?” “Kamu cukup keras kepala dan banyak bicara, untuk seseorang yang menjual dirinya. Baiklah kalau kamu ngotot ingin tahu kenapa saya memilihmu, saya akan jawab. Karena kamu yang paling putus asa di antara wanita-wanita tadi. Akan sangat disayangkan kalau kamu ditemukan hanyut di sungai atau terbujur kaku di atas tiang gantungan.” Sudah Renate duga ada yang tidak beres. Dia tidak mungkin mendapatkan berkat dari Tuhan, setelah tanpa malu menjual dirinya demi uang. “Kamu juga tidak sejelek itu. Kamu cantik, hanya saja kamu tidak menyadarinya. Dan saya benar-benar tidak bisa menerima kemungkinan terakhir, yang akan terjadi pada wanita putus asa sepertimu. Sayang sekali kalau tubuhmu berakhir dijamah bermacam-macam lelaki di rumah bordir murahan.” Semakin di dengar, ucapannya memang terasa semakin memuakkan. Namun, yang dia katakan benar adanya. Mengingat situasi Renate sekarang, memang hal-hal memuakkan itulah solusi yang mampu dia pikirkan. Dan hari ini, Renate tidak datang ke sayembara yang pria itu adakan karena ingin mencari jodoh orang kaya demi melangsungkan hidupnya. Dia juga tidak pernah mengira bahwa dirinya akan lolos hingga tahap akhir, dan bisa duduk berhadapan dengan pria yang mengadakan sayembara pencarian jodoh di sebuah papan iklan raksasa dekat alun-alun kota. Sebaliknya, Renate sudah memantapkan diri untuk mengakhiri hidupnya, berharap jasadnya tidak akan pernah ditemukan. Biar saja ibu dan keluarganya mengira Renate pergi melarikan diri, seperti yang ayahnya lakukan hampir enam tahun lalu. Namun, sebelum melakukan tindakan yang dilarang Tuhan, Renate ingin mencoba banyak hal yang selama ini tidak bisa dia lakukan. Kedatangannya ke sini karena berharap bisa membawa pulang uang yang dijanjikan, jika lolos seleksi ke tiga, untuk mengganti uang tabungan yang dia gunakan di bazar yang didatanginya kemarin. “Jangan lagi berpikir kalau kamu sedang memanfaatkan saya, tapi berpikirlah kalau mulai hari ini saya mempergunakanmu sebagai alat, untuk kesenangan saya pribadi.” Renate bungkam, dia bahkan tidak mengerti mengapa hal memalukan seperti ini harus dia alami? Seharusnya Renate tidak datang ke sini, dirinya pasti sudah berhasil mengakhiri hidupnya di suatu tempat. Renate tahu dirinya sedang dihina, tapi dia tidak bisa menemukan kesalahan dalam ucapan pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN