“Ah, apa kamu tersinggung?” Tanyanya sambil tersenyum lembut.
Ekspresi yang tidak seharusnya dia tampilkan setelah mengatakan hal seperti itu. Mahendra Gunawan, memang pria aneh. Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dia sedang menjalankan sesuatu yang buruk, tapi senyuman dan nada bicaranya yang lembut, membuat wanita di hadapannya tidak bisa memahami apa yang sebenarnya Mahen inginkan.
Renate menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan pria di hadapannya. Orang yang lagi-lagi memamerkan senyuman manis. Namun, sayang sekali, ucapan yang keluar dari mulutnya tidaklah semanis senyuman yang dia tampilkan. Mahendra Gunawan, sebenarnya siapa pria dengan nama tak asing ini? Kenapa dia bisa melihat keputusasaan yang dipancarkan mata Renate. Dia berdeham sekali untuk mengontrol emosinya, lalu balas tersenyum.
“Untuk apa tersinggung, saya memang seputus asa itu.”
Mahen beralih dari tempatnya dan memilih duduk di samping Renate, coba menutup jarak di antara mereka. Tangannya terulur mengelus pipi Renate, begitu lembut, seakan takut melukai wanita yang kini menjadi miliknya. Dari matanya saja Renate tahu, kalau saat ini Mahen sedang menginginkan Renate. Hal yang tidak seharusnya dia tunjukkan pada orang yang baru saja dia hina.
“Saya sudah berusaha menahannya, tapi melihatmu berekspresi seperti ini benar-benar sulit untuk diabaikan. Apa saya boleh melakukan sesuatu padamu?”
Mahen bertanya, sebuah pertanyaan yang jelas tidak membutuhkan jawaban dari yang diajaknya bicara. Sebab dalam sorot mata teduhnya, Mahen sudah menjelaskan bahwa posisi Renate tidak memiliki hak untuk menolaknya.
“Yang pasti, keinginan saya ini akan lebih dari sekadar ciuman.”
“Sebaiknya kita tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, sebelum kamu memperbarui kontrak yang kita setujui.”
Mahen tertawa, kemudian menggeser tubuhnya menjauh dari Renate. Untuk beberapa saat, dia hanya fokus menatap langit-langit, sebelum akhirnya kembali mendekatkan dirinya pada wanita yang sudah menolaknya. Sudah Mahen duga, gadis ini tidak akan pasrah saja seperti kebanyakan wanita yang menginginkan dirinya. Dia suka dengan wanita yang berani terhadapnya. Itu membuat segalanya jadi lebih menarik. Mahen semakin bersemangat untuk memasang tali kekang di leher jenjang wanita di hadapannya.
“Kamu menolak saya? Bukannya kamu sendiri yang tidak mau terlalu memanfaatkan saya. Anggap saja yang saya inginkan ini, sebagai teken kontrak yang sebenarnya.”
Jari telunjuknya mulai menyusuri tengkuk hingga berakhir di d**a Renate, lalu dengan cepat dia menariknya kembali. Pria ini senang bermain-main, membuat targetnya tak berkutik saat dia melancarkan aksinya.
“Apa pendapatmu, Nona Renate Sanjaya?” tanyanya lagi.
“Perlu kamu ketahui, kalau saya bukan orang yang penyabar. Jadi lekas jawab saya.”
“Maafkan saya, tapi saya tidak akan mengizinkan Anda melakukan itu untuk sementara waktu.”
Mahen memang pandai dalam tersenyum manis, anehnya Renate tetap merasa tidak nyaman dengan senyumannya itu. Mahendra Gunawan, pria ini benar-benar tidak bisa ditebak apa yang sedang dia pikirkan. Sebenarnya saat ini dia marah atau tidak dengan penolakan Renate terhadapnya?
“Kamu orang yang sangat berhati-hati, itu bagus. Saya menghormati keputusanmu. Baiklah, saya akan menyelesaikan kontraknya. Jadi sampai saat itu, kamu boleh menolak saya. Sebaliknya, kalau kamu menginginkan saya, kamu bebas melakukannya. Tidak perlu merasa malu atau ragu, saya lebih suka perempuan yang berani meminta sesuatu pada saya.”
“Kalau begitu, saya ingin menciummu. Tidak lebih dari sebuah ciuman.”
Renate menggenggam erat lengan baju Mahen, menahan saat pria itu akan beranjak dari sisinya. Dia menelan harga dirinya dan langsung memberikan satu kecupan pada Mahen. Tindakan gila yang selalu ingin Renate coba sekali seumur hidupnya, mencium pria yang baru dia temui. Entah karena malu atau pengalaman baru. Namun, hatinya benar-benar berdebar keras.
“Untuk sekarang, ini sudah cukup.”
Mahen tertawa menanggapi tingkah Renate yang plin-plan. Benar-benar reaksi yang membuat wanita itu semakin menunduk malu, tapi Renate jelas tidak menyesal. Keinginan gila itu sudah lama dia pendam, dan kalau dipikir-pikir, rasanya tidak terlalu buruk. Setidaknya itu pemikirannya beberapa detik lalu, sebelum Mahen membalas kecupan Renate dengan ciuman panjang yang tidak bisa dia bayangkan akhirnya.
“Sudah cukup untuk hari ini.” Ujar Mahen sambil bangkit dari posisinya.
Mahendra Gunawan memang b******n. Dia pergi begitu saja setelah apa yang diperbuatnya. Membawa Renate terbang ke awang-awang, lantas mencampakkannya seolah yang baru saja mereka lakukan adalah hal sepele. Mahen menjadikan ucapan Renate sebagai senjata untuk mencibir wanita itu. Dia benar-benar berbakat dalam melukai orang lain, jika ada perlombaan untuk orang b******k, maka Mahen bisa dengan mudah memenangkannya. Sejak awal hubungan antara mereka memang tidaklah normal. Hal ini bisa terjadi karena Renate yang memulainya terlebih dahulu, bahkan tepat sesaat setelah dia menolak Mahen. Namun, sikap Mahen pun tidak bisa dibenarkan. Dia seolah ingin mempertegas fakta bahwa Renate hanyalah perempuan yang dibelinya. Seseorang yang disiapkan untuk memenuhi kesenangannya semata.
“Itu tidak terlalu buruk, mengingat hal buruk apa saja yang sempat terlintas di benakku, sebelum bertemu dengannya. Bisa dibilang, dia adalah berkat sekaligus kutukan untukku. Untuk perempuan yang diam-diam bermimpi menjadi Cinderella. Setidaknya aku tidak perlu memikirkan cara untuk membayar hutang-hutang Bapak atau biaya pengobatan Ibu untuk beberapa waktu ke depan. Tidak apa-apa Renate.”
Dia berusaha menenangkan dirinya. Renate mendongakkan kepalanya agar air mata tidak jatuh. Jika dia menangis akan hal seperti ini, Renate akan terus menjadi lebih lemah. Keadaan memaksanya jadi seperti ini. Dia harus membuang seluruh harga dirinya di hadapan uang. Renate tersenyum melihat saldo di rekeningnya, tapi disaat bersamaan kebencian terpancar dari mata indahnya. Dia membenci dirinya, tapi berusaha bangga akan usahanya yang akan memperpanjang usia ibunya.
“Selamat Renate, kamu sudah resmi menjadi pelacur.” Gumamnya, sembari menyeka air mata.
Setelah mengancingkan kembali bajunya yang berantakan karena ulah Mahen, Renate menghela napas panjang, coba mengusir sesak yang tak terjelaskan. Sebelum akhirnya bergegas bangkit dari duduknya, lantas meninggalkan tempat yang sudah memberinya harapan, serta menghancurkan sisa harga diri yang selama ini Renate pertahankan. Sepuluh juta rupiah adalah nominal yang sangat besar. Wanita biasa sepertinya, bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan satu kali melayani seorang pria.
“Aku beruntung. Kamu benar-benar ketiban untung, Renate.”
Lagi dia coba menghibur dirinya sendiri. Ucapan yang jelas tidak berguna. Dari sorot matanya saja masih terpancar rasa jijik, yang dia tujukan pada dirinya sendiri.
“Harga dirimu hanya sebesar sepuluh juta Renate, wajar kalau Danise terus menyebutmu perempuan munafik.”
Sepanjang perjalanan meninggalkan rumah Mahen, Renate terus mengatakan hal-hal yang bertolak belakang satu sama lain. Setelah memuji, dia akan langsung menghina, memuji, selanjutnya mencaci maki dirinya sendiri. Padahal tidak akan ada yang menyalahkannya, atas apa yang baru saja terjadi. Agar bisa bertahan hidup dalam neraka ini, dia harus melakukannya. Sebab, impian sederhana yang pernah dia bangun dengan penuh harga diri, justru porak-poranda ditangan orang-orang terdekatnya. Kini dia sedang duduk di kursi kayu di warung kopi, yang sepertinya sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
Menatap kendaraan yang berlalu lalang. Renate ingin mengunjungi ibunya, menceritakan segala yang dia alami, akan tetapi dia tidak mampu. Dia benar-benar merasa jahat jika mengeluhkan keadaan ini pada ibunya, yang bahkan tidak pernah menuntut apa-apa darinya.
“Lo kelayapan ke mana aja sih, Nate? Debt collector yang kemarin, datang lagi, tuh. Barang-barang di rumah bisa habis kalo begini ceritanya. Cepetan balik, jangan keluyuran aja!”
Sesaat setelah dia membuka pesan suara yang baru saja masuk, seketika itu pula suara makian kakaknya mengudara. Nada bicara Rudy memang selalu tinggi, dia nyaris tidak pernah bersikap layaknya seorang kakak. Jadi, mengabaikan pesannya adalah tindakan tepat untuk mencegah peperangan setibanya Renate di rumah. Sejujurnya, dari semua tempat di muka bumi, rumah adalah tempat yang tidak ingin Renate datangi. Anehnya, hanya ke bangunan sederhana itulah kakinya melangkah saat hari mulai senja. Untuk terakhir kalinya dia menatap ke arah menuju rumah Mahendra, tempat yang beberapa saat lalu dia tinggalkan. Entah kenapa, Renate sedikit berharap Mahen akan mencarinya, menahan dirinya agar tidak pergi dan mengajaknya membicarakan banyak hal. Membahas apa saja, tanpa ragu mengutarakan isi pikiran masing-masing. Meski dia menghina dan berkata pedas pada Renate, itu terasa lebih baik daripada pulang ke rumah dan mendengarkan hinaan dari keluarga sendiri. Namun, selayaknya Cinderella yang harus kembali ke kehidupan aslinya saat jam berdentang, begitu pula dengan Renate, dia harus kembali ke tempat di mana dirinya berasal.
“Anggap yang terjadi hari ini cuma mimpi, Nate. Aku harus sadar, demi Ibu. Setidaknya sampai hutang-hutang kami lunas.”