Jika saja Renate tidak dikhianati Danise, seandainya saja ayahnya tidak bersikukuh berhutang untuk merayakan pernikahan Renata yang tak lain adalah kembaran Renate, hari seperti ini tidak akan pernah dia alami. Tanpa terasa air mata kembali mengalir di kedua belah pipinya.
“Sial! Padahal kupikir, air mataku sudah mengering, tapi ternyata ini masih tersedia sangat banyak.”
Setelah hampir enam tahun hal itu berlalu, akan tetapi Renate masih merasa terluka setiap kali mengingatnya. Hari di mana Renata mengatakan bahwa dirinya hamil, dan ingin menikahi pria idamannya, adalah hari di mana langit runtuh tepat di kepala Renate. Seharusnya itu jadi momen bahagia buatnya, tapi Renate justru harus hidup dalam neraka setelah hari itu. Mereka memang benar-benar kembar, terbukti pria idaman Renate ternyata adalah pria idaman Renata. Ayah dari bayi yang lahir beberapa bulan setelah mereka menikah. Pernikahan yang harusnya dilakukan Renate dan Danise, justru menjadi hari pernikahan kembaran dan mantan kekasihnya.
“Kamu terlalu kaku, tidak seperti Renata yang bisa memenuhi kebutuhanku, kamu terlalu takut mengambil risiko. Jadi jangan salahkan aku, kalau aku berselingkuh dengan kembaranmu. Lagi pula wajah dan tubuh kalian sama, jadi tidak ada ruginya bagiku menikah denganmu atau dengan Renata.”
“Cih! Makhluk tidak tahu malu.”
Renate mendecih diakhiri dengan makian, kala ingatan membawanya kembali pada momen di mana Danise akhirnya menjawab pertanyaannya, tentang alasan pria itu berselingkuh dengan Renata. Meski begitu mirip, Renate dan Renata jelas orang yang berbeda. Dia tidak mau pria yang menyentuhnya, juga menyentuh wanita lain. Namun, kini Renate justru berurusan dengan pria yang tampaknya begitu terbiasa menyentuh banyak wanita. Itu terlihat jelas dari caranya mempermainkan Renate beberapa waktu lalu.
“Sebut nama saya, Renate. Tidak perlu menahan desahanmu. Ada sesuatu yang tidak bisa ditahan, dan hal ini salah satunya. Katakan saja kalau kamu suka, seperti yang tubuhmu ungkapkan pada saya.”
Renate memang menyukainya, sudah sangat lama sejak terakhir kali tubuhnya bersentuhan dengan lelaki. Namun, disaat bersamaan dia juga merasa jadi perempuan yang sangat murahan.
“Jangan terlalu membenci dirimu, ini lebih bermartabat daripada memuaskan kekasihmu dengan beralaskan pembuktian cinta.”
Mahen menyeka air mata yang menetes di pipi wanitanya dengan begitu lembut. Namun, lagi-lagi kata yang dia gunakan tepat menyerang ke jantung hati Renate. Sebab memang itulah yang dulu Renate lakukan demi membuktikan cintanya pada Danise. Pembuktian cinta yang sia-sia mengingat kini yang tersisa hanyalah penyesalan.
“Maafkan saya, bisakah kamu berhenti. Saya tidak menginginkannya lagi.”
“Pembohong.” Mahen lekas menyahuti, sembari memamerkan senyumnya.
“Tubuhmu berkata lain, Nona.” Imbuhnya terdengar semakin menghina, membuat wajah Renate semakin memerah karena malu.
“Saya..., tidak tahu lagi apa yang saya inginkan dan tidak. Saya tidak bisa melihat mana yang benar dan salah. Saya terlalu takut menghadapi dan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Maafkan saya.”
“Renate, di jaman yang gila ini, tidak ada lagi yang peduli benar atau salah. Akan tetapi, jika kamu menginginkan pembenaran, tentu saya akan memberikan jawaban untukmu. Melayani saya seorang lebih baik daripada melayani beragam lelaki dengan bayaran tak seberapa, di rumah bordil. Apa kamu mau melihat Ibumu mati, sebelum uang haram hasil jual dirimu terkumpul. Desahkan nama saya, maka saya yang akan menangani semua masalahmu itu. Jangan pikirkan apa pun. Kamu hanya perlu memikirkan cara untuk menyenangkan saya.”
Bisikan Mahen memenuhinya, membuat Renate semakin membenci dirinya yang terlalu menikmati sentuhan pria itu. Pria yang meninggalkan Renate tanpa sepatah kata pun, tepat setelah dia mendapatkan keinginannya. Ironis memang hidup Renate. Seolah dia terlahir tidak memiliki peruntungan dalam percintaan. Namun, setidaknya yang Mahen katakan benar. Ini adalah usaha terakhir yang mampu dilakukan seorang anak untuk orangtuanya, Renate tidak seharusnya menyesali keputusan yang sudah menyelamatkan nyawa ibunya. Meskipun dia harus menjadi putri yang durhaka terhadap orangtuanya, Renate akan menempuh jalan itu agar bisa menyelamatkan ibunya.
“Benar. Ini lebih baik.” Gumamnya seraya memasuki pekarangan rumah.
Belum genap satu menit Renate menginjakkan kakinya di rumah, tapi dia sudah disambut dengan ucapan sinis Dara.
“Abang udah gak dihargai lagi di rumah ini, tuh lihat aja adikmu bebas keluyuran sampai jam segini, kayaknya dia mau kabur dari tanggung jawabnya. Makanya kalo gak sanggup buat bayar hutang, jangan sok-sokan bilang mau lunasin hutang-hutang Bapak.”
Kakak iparnya itu memang terlalu pandai memanasi keadaan, Rudy yang semula fokus menatap layar televisi kini sudah berjalan menghampiri Renate yang masih berdiri di ambang pintu kamar. Kalau sudah begini, dia tahu betul. Pertengkaran tidak mungkin terhindarkan lagi, dan akan bertambah satu lagi lubang di hati Renate setelah semuanya berakhir.
“Lo dari mana aja, Nate?” tanya Rudy setibanya dia di hadapan adiknya.
“Bukan urusan lo, Bang.”
“Jelas urusan gue. Kalo elo hamil di luar nikah kayak si Renata, gue yang bakal repot. Dulu masih ada Bapak yang bisa nutupin aib si Renata, kalo sekarang siapa yang bakal nutupin aib lo. Gue gak mau ketiban malu gara-gara perbuatan elo.”
“Lo repot apaan sih, Bang? Kayak selama ini elo pernah berperilaku selayaknya seorang kakak aja. Lo bahkan gak pernah ada buat gue dan Ibu pas Bapak pergi kawin lagi sama perempuan lain. Urusin aja istri sama pekerjaan elo, gue udah terlalu tua buat elo omelin.”
Renate menyahuti, dan buah dari jawabannya adalah rasa nyeri dan panas di pipi. Rudy memang tidak menamparnya, tapi Dara bisa melakukan hal itu dengan sangat mudah. Bisa dibilang, dia memang selalu cepat dalam mewakili suaminya untuk menghukum sang adik. Ini semacam hobi yang hanya bisa dinikmati oleh Dara seorang. Dia tahu apa pun yang dilakukannya, Renate tidak akan pernah bisa melawan. Sebab ada Rudy yang setiap saat akan membelanya, bahkan jika Dara melakukan kesalahan. Apalagi tadi ucapan Renate memang keterlaluan. Namun, dari semua kata-kata kurang ajar itu, tersirat fakta yang sebenarnya. Saat ayah mereka pergi kawin lagi meninggalkan hutang yang menggunung, Rudy memilih pergi mengontrak rumah di kota sebelah. Dia dan istrinya bahkan memblokir kontak keluarganya, takut mereka akan merepotkannya dengan meminta bantuan untuk membayar hutang ayahnya.
Tidak sampai di situ saja, bahkan saat ibunya jatuh sakit hampir enam bulan lalu, Rudy tega mengusir Renate, tepat sesaat adiknya itu menginjakkan kaki di halaman rumah kontrakannya. Lalu sekarang, saat dia tidak mampu membayar biaya kontrakan, dan diberhentikan dari pekerjaan yang sebelumnya, dia bisa bebas kembali ke rumah ini tanpa merasa malu sedikit pun.
“Bocah Tai! Kalo bukan karena duit dari Bang Rudy, Ibu enggak mungkin bisa dirawat sampai sekarang.”
Rumahku adalah istanaku, kata itu sudah lama terhapus dari kamus kehidupan Renate. Terutama saat kakak dan istrinya memutuskan kembali ke rumah. Rudy memang membayar tagihan rumah sakit ibu mereka, itu pun baru bulan ini saja. Renate jelas tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit, beserta cicilan hutang dan tagihan listrik dengan uang pesangon yang dia dapatkan. Benar, Renate baru saja diberhentikan bekerja akibat pandemi. Meski pandemi hampir berakhir, naasnya dia justru menjadi satu dari ratusan orang yang kehilangan pekerjaan. Lantas apa dia salah jika meminta bantuan dari kakaknya untuk membayarkan dulu tagihan rumah sakit ibu mereka? Renate tidak memintanya membayar setiap bulan. Meski sulit, tapi Renate yakin akan secepatnya mendapatkan pekerjaan lagi. Kalau tahu akan diungkit-ungkit terus begini, lebih baik Renate tidak meminta bantuan pada Rudy. Kasihan ibunya kalau sampai mengetahui ucapan menantunya tadi. Renate benar-benar menyesal karena sempat berpikir untuk mengakhiri hidup dan meninggalkan ibunya bersama mereka.
“Terima kasih, berkat uangmu, Ibu masih bisa dirawat. Oh iya, mbak mending cek isi rekeningmu, aku tadi sudah membayar uang yang kalian berikan akhir bulan kemarin. Mulai sekarang, tolong berhenti mengatakan hal itu apalagi saat Ibu pulang nanti.”
“Gue gak minta uangnya diganti, biar bagaimanapun gue ini anak Ibu juga. Tapi, elo tahu sendiri kalo Dara sebentar lagi lahiran. Lo juga harusnya lebih ngertiin situasi gue.”
“Gue paham.” Renate langsung menyahuti, seraya memasuki kamarnya.
Seperti biasa, hanya ada satu hal yang bisa membuat mereka berteriak atau diam, yaitu perihal uang. Kali ini Renate bisa tidur nyenyak berkat uang dari Mahen. Sebenarnya untuk seorang yang bekerja sebagai SPG event, gaji Renate termasuk tinggi. Itu terbukti dengan dia bisa menutupi seluruh kebutuhan keluarganya. Apalagi jika Renate mengambil lebih banyak tawaran kerja dari berbagai brand makanan, hingga rokok dan minuman beralkohol. Maka penghasilannya akan semakin besar. Namun, sayangnya setelah diberhentikan dari brand utama, Renate kewalahan menutupi segala kebutuhan. Tawaran kerja tidak sebanyak dulu, membuat penghasilannya ikut menyusut. Meski tidak tertarik hidup lama, akan tetapi Renate tetap butuh uang banyak untuk bertahan. Setidaknya sampai ibunya pulih dan hutang-hutang ayahnya terlunasi.