Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam, itu berarti sudah hampir satu jam sejak Renate ketiduran. Dia bahkan belum sempat mengganti pakaian, atau sekadar membersihkan wajah saking lelahnya sepulang berjalan ke sana-kemari menawarkan produk, pada pengunjung Bazar yang diadakan di alun-alun kota. Sudah hampir satu pekan sejak pertemuannya dengan Mahen, dan sudah selama itu pula tidak ada kabar darinya. Ibu Renate bahkan masih berada di bangsal yang sama, dengan perawatan seadanya. Seperti biasa, Renate pasti ditipu. Percakapan panjang mereka, ciuman serta segala sentuhan Mahen yang menggebu-gebu, nyatanya hanya mimpi semata. Bahkan dunia tidak mengizinkan Renate untuk gundah gulana akan harapan semu yang Mahen berikan. Dia benar-benar dibuat sibuk sampai tidak memiliki waktu untuk meratapi kebodohannya, yang langsung mempercayai orang asing itu begitu saja. Kini Rudy bahkan ikut mengganggu waktu istirahatnya, dengan terus membuat kegaduhan di depan pintu. Bahkan Renate yakin, para tetangga juga mendengar suara gedoran yang Rudy ciptakan.
“Apaan sih, Bang? Berisik banget malam-malam.”
Kakaknya itu menyodorkan beberapa lembar kertas tagihan sembari cengengesan. Bahkan jika Rudy tidak menjawabnya pun, Renate sudah tahu maksud dari tingkah laku kakaknya yang membuat kegaduhan di malam hari begini. Sungguh dia merasa pertanyaannya tadi sangatlah sia-sia.
“Tagihan air, tagihan sampah dan keamanan, tadi Dara yang terima semua struknya. Cepat lunasin, gue dengar elo baru habis kerja di bazar. Oh, iya, Nate kalo besok elo keluar beli pulsa listrik juga, kayaknya udah mau habis.”
Renate hanya mengambil kertas-kertas itu lalu kembali menutup pintu.
“Gue belum kelar ngomong, kebiasaan jelek lo pelihara. Kalo yang tuaan lagi ngomong, dengerin bukannya nutup pintu!” Rudy berteriak sebelum akhirnya memilih meninggalkan depan kamar adiknya.
Bukan niat hati ingin berlaku tidak sopan pada kakak sendiri, tapi Renate benar-benar sudah kehilangan rasa sopannya pada Rudy sejak lama. Renate mendudukkan diri di kasur, lantas bergegas membuka dompet. Memeriksa apakah isinya akan cukup untuk membayar tagihan yang baru saja dia dapatkan.
“Tagihan air dua ratus ribu, uang sampah tujuh puluh ribu, uang keamanan lima puluh ribu, listrik seratus ribu. Aku bisa menghemat untuk biaya makan dengan makan satu kali sehari, kalau sehari lima belas ribu di kali tujuh hari, totalnya seratus lima ribu. Ongkos untuk menjenguk Ibu setiap hari, dua puluh empat dikalikan dengan tujuh hari, sama dengan seratus enam puluh delapan ribu. Total keseluruhannya, enam ratus, sembilan puluh tiga ribu. Ah, aku memang beruntung. Setidaknya aku masih punya uang seratus tujuh ribu di dompet, kenapa aku sampai kepikiran untuk mati hanya karena tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Padahal aku seberuntung ini, aku hanya perlu bertahan hidup. Aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan lagi.”
Meski dia berkata begitu sambil tersenyum, entah kenapa air matanya terus menetes dengan sendirinya.
“Apa hidup yang kujalani ini terlalu menyakitkan, sampai-sampai aku masih saja menangis meskipun berusaha untuk tetap bersyukur. Padahal biaya hidupku untuk tujuh hari ke depan sudah terpenuhi. Bukankah seharusnya aku bisa sedikit berbahagia, sedikit bernapas lega?” Renate bertanya di tengah isak tangisnya.
Jawaban dari pertanyaannya sudah sangat jelas. Dua hal itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Renate tidak akan bisa bernapas lega, jika belum bisa mendapatkan uang yang cukup, untuk membayar tagihan rumah sakit ibu dan juga cicilan hutang ayahnya.
“Apa hidup selalu melelahkan seperti ini?”
Renate kembali bertanya, sebuah pertanyaan yang sudah dia ketahui jawabannya. Hanya saja dia tetap mempertanyakannya lagi dan lagi, kala ketidakberuntungan menghampirinya. Berharap apa yang dia pikirkan bukanlah jawabannya. Renate kembali merebahkan diri di kasur, mencoba untuk kembali tertidur. Hanya dengan begitu, dia bisa terlepas dari semua kekhawatiran yang dirasakannya.
“Bagaimana ini, Bu? Kekurangannya masih terlalu banyak, Rudy enggak mungkin meminjamkan uang lagi, apa aku harus meminta bantuan pada Renata?”
Dia tenggelam dalam pertanyaan itu. Bagaimana ini? Selalu kata itu yang muncul pertama, bahkan kalau dia benar-benar meminta bantuan pada Renata, itu sama saja bohong. Renate tahu betul jawaban yang akan kembarannya berikan, pasti sama seperti terakhir kali. Apalagi saat ini Renata sedang mengandung anak keduanya. Dia jelas memiliki alasan tepat untuk menghindari Renate.
“Ini benar-benar lucu, disaat seperti ini aku justru ingin melihatmu lagi, Mahen....”
“Gawat. Aku benar-benar menyukai sentuhannya, bahkan jika dia tidak membayarku hari itu, aku tidak akan menyesal. Apa aku sudah gila? Aku sangat menginginkan dia. Gawat, ini benar-benar gawat.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Renate sudah terpikat sepenuhnya pada pria kurang ajar itu. Mahen memang terasa bagai mimpi bagi wanita biasa seperti Renate. Pertemuan mereka yang tidak pernah terbayangkan, ucapan pedas dengan wajah tersenyumnya, jari-jarinya yang panjang dan dingin, Renate menemukan pengalihan dari semua masalahnya saat dia berada dalam kendali pria itu. Meski orang itu sudah memperlakukannya seperti p*****r, Renate tetap berharap suatu saat bisa bertemu lagi dengannya. Sepertinya isi kepala Renate sudah rusak parah gara-gara terlalu banyak berkhayal. Dia harus berhenti menonton drama atau membaca novel-novel romantis. Jangan sampai dia lupa, kalau di antara dirinya dan Mahen terdapat jurang yang sangat besar dan dalam. Jurang yang mustahil bisa dia seberangi tanpa meregang nyawa.
“Ini bukan waktunya goyah akan cinta semu, Renate. Kamu bahkan tidak tahu yang kamu rasakan ini cinta, nafsu atau sekadar menginginkan uangnya. Lagi pula tidak ada jaminan dia akan mengenalimu meskipun suatu saat mendapat kesempatan bertemu kembali.” Renate memarahi dirinya sendiri, dia coba menepis Mahen dari kepalanya.
Dia tidak tahu, kenapa dirinya tiba-tiba jadi terobsesi memikirkan Mahen. Seburat merah tercipta di pipinya, saat menyadari isi pikirannya yang begitu kotor.
“Aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan pria itu. Aku bukan lagi remaja yang menangisi seorang pria, hanya karena merasa dibohongi atau karena merindukannya. Aku tidak boleh berharap seseorang akan menarikku keluar dari seluruh masalah. Aku tidak membutuhkan mereka, cinta dan pertolongan, itu hal yang tidak bisa kupercayai.”
Sepertinya monolog ini akan berlangsung cukup lama, sebab ucapan di kepala dan hatinya jelas bertolak belakang. Faktanya air mata Renate tidak mau berhenti mengalir, nyatanya dia memang membutuhkan seseorang untuk membagi lukanya. Renate benar-benar butuh seseorang yang akan membelanya di hadapan dunia. Dia membutuhkan seseorang yang bisa diandalkan. Dan Renate ingin memiliki harapan layaknya wanita di luaran sana. Hidup seperti ini benar-benar melelahkan. Memikirkan hal-hal itu sembari menangis adalah cara ampuh untuk mengatasi insomnia. Dan saat terbangun di pagi hari, bayaran untuk tidur nyenyak semalam adalah wajah yang membengkak. Bagian mata dan hidung jadi yang paling berdampak parah. Sembab ini tidak akan mudah hilang hanya dengan mengompresnya.
“Aku memang menyedihkan. Pilihan yang kuambil tidak pernah membuatku merasa lebih baik sesudahnya. Entah sampai kapan aku akan hidup menjadi orang bodoh seperti ini.” Renate mencaci diri sendiri, saat melihat wajahnya yang membengkak di cermin.
Lagi asyik-asyiknya dia menghina dirinya sendiri, Renate dikejutkan dengan dering panggilan masuk. Bianca yang menelepon, padahal sudah lebih dari sebulan mereka tidak saling bertegur sapa. Itu wajar terjadi kalau mereka tidak terlibat dalam pekerjaan yang sama. Bianca dan Renate bisa dikatakan berteman baik, tapi mereka juga bukan teman yang saling memberi kabar setiap harinya. Keduanya sama-sama tidak suka terlalu banyak membicarakan tentang kehidupan sehari-hari, mungkin karena kemiripan inilah mereka bisa akrab seperti sekarang.
“Kenapa, Bi? Tumben banget kamu telepon.”