Bab 5: Gunawan Grup.

1327 Kata
“Aku ada kerjaan yang kurasa cocok untukmu. Gunawan Grup mengeluarkan produk kecantikan nih, kamu mau mengambil pekerjaan ini tidak?” Bianca adalah satu-satunya teman sesama SPG yang tidak pernah takut tersaingi oleh Renate. Bianca sering memberikan informasi pekerjaan padanya, bahkan sangat antusias kalau mereka berada di event yang sama. “Aku sudah kirimkan link absensinya, kalau kamu tertarik bisa langsung kamu isi dan pelajari juga produknya. Oh, iya Nate, thankful buat cokelatnya. Itu benar-benar menyelamatkan sohibmu ini.” Renate tersenyum saat mendengar suara tawa Bianca yang menggelegar di seberang sambungan telepon. Gadis cantik itu sangat menyukai bola-bola cokelat buatan Renate, dan melihatnya jadi lebih bersemangat setelah memakan cokelat itu, membuat Renate ikut senang. “Jangan makan sekaligus, aku gak mau kamu ceramahin gara-gara coklatku membuat kamu gagal diet. Thanks, Bi. Aku pasti bakal mengambil pekerjaan ini. Oh, iya, event ini untuk berapa lama?” Renate menyahuti diakhiri tanya. “Dua pekan. Gaji bisa diambil harian, bisa juga di hari terakhir kerja. Untuk satu harinya kita akan dibayar tiga ratus ribu, belum termasuk makan dan transportasi. Oh, iya, Nate. Jika berhasil melebihi target, akan ada bonus untuk masing-masing SPG dengan penjualan tertinggi.” Tawaran menarik. Renate bisa menghasilkan uang cukup besar kali ini, sebab dia lumayan percaya diri dengan kemampuan berjualan yang dimilikinya. Tentu saja Renate akan menerima tawaran kerja ini, toh dia memang tidak pernah memiliki pilihan untuk menolak pekerjaan. Terlebih lagi, Renate tahu betul bahwa seleksi di Gunawan Grup itu sulit, jadi mendapatkan tawaran kerja di sana adalah keberuntungan. Renate bersyukur memiliki teman seperti Bianca yang mau mengajaknya bergabung. Bianca adalah satu-satunya SPG yang berhasil dikontrak Gunawan Grup, di antara rekan sesama SPG yang Renate kenal. Siapa tahu event-event selanjutnya mereka akan memanggil Renate lagi, jika dia menunjukkan kualitasnya. Setelah menutup telepon dari Bianca, dia lekas membaca dan mempelajari produk-produk yang akan dipromosikannya. Mulai dari harga hingga kegunaan dan kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya. Gunawan Grup memang tidak pernah asal-asalan dalam menciptakan produknya. Bisa dikatakan, Renate adalah salah satu konsumen setianya. Mulai dari mie instan, hingga pasta gigi dan keset di rumahnya, hampir semua menggunakan produk yang diproduksi oleh Gunawan Grup. Perusahaan tersebut sudah memiliki ratusan brand ternama dengan harga yang beragam, mulai dari harga terjangkau dan ramah di kantong hingga yang harganya melambung tinggi. Hampir tidak ada orang di kota ini yang tidak memiliki produk dari Gunawan Grup, meski hanya satu, produk mereka pasti ada di setiap rumah dan market place. Julukannya di mata dunia adalah Raksasa Nusantara. Awalnya mereka hanya menjual satu produk olahan jamu tradisional, akan tetapi di tangan cekatan seorang Gunawan Adiguna selaku founder dari Gunawan Grup, dia berhasil membuat perusahaan yang dia dirikan mengepakkan sayapnya setinggi ini. Produk-produk mereka terus berkembang pesat di pasaran. Dan kini menjamur di mana-mana, bahkan hingga ke pasar Eropa. Saat ini perusahaan raksasa itu dikelola oleh menantu pertamanya, setelah penerus mereka ditemukan meninggal akibat serangan jantung beberapa tahun lalu. “Ah, mengingat-ingat kembali sejarah Gunawan Grup yang pernah k****a. Membuatku kembali membayangkan, bagaimana rasanya hidup sebagai anggota keluarga mereka. Memiliki uang dan pengaruh sebesar itu, mereka pasti bisa melakukan apa saja. Mengingat tidak ada yang tidak bisa dilakukan, dengan uang yang tidak akan habis meskipun mereka menghambur-hamburkannya. Aku benar-benar merasa iri. Hidup memang tidak pernah adil untukku.” Dering telepon masuk menyadarkan Renate dari rasa iri yang tidak seharusnya dia miliki. Meskipun dalam kehidupan kali ini, Renate harus lebih banyak menelan air matanya, akan tetapi dia pribadi yang mudah bersyukur dengan apa yang sudah dia punya. Merasa iri pada orang kaya raya, tidak akan membuatnya ikut menjadi kaya. Sebaliknya, Renate justru hanya akan semakin menderita dan merasa jadi orang paling tersiksa. Pemikirannya yang seperti itu, yang selalu berhasil menghindarkannya dari iri hati. “Lebih baik aku fokus pada Bianca, yang sepertinya belum puas bercerita tentang pacarnya yang sedang ditugaskan di perbatasan negeri.” Dia tertawa saat mendengar ponselnya kembali berdering. Namun, saat melihat nomor yang tertera di layar tidak memiliki nama, seketika itu pula membuat Renate urung untuk menerima panggilan telepon, yang sedari tadi terus menggema memenuhi kamarnya. Dia terlalu takut menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Renate tidak mau merusak paginya dengan mendengarkan telepon ancaman dari para penagih hutang, yang tidak pernah merasa puas menebar teror padanya. “Mau sampai kapan mengabaikan saya?” Dia membaca pesan yang baru saja diterimanya. Tidak salah lagi, ini pasti pesan dari salah seorang debt collector. Bahkan untuk membalas pesan singkat itu saja Renate tidak berani. Bagaimana kalau mereka datang sambil membawa sajam dan golok seperti beberapa waktu lalu. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk Renate berdiri. Akhirnya dia memilih melemparkan ponsel yang lagi-lagi berdering ke dalam keranjang pakaian kotor. Lebih baik berpura-pura tidak melihat pesan dan telepon darinya. Lagi pula belum genap sepekan, sejak terakhir kali dia menyetorkan uang yang didapatnya dari Mahen pada mereka. Seharusnya mereka memberi Renate sedikit kelonggaran. “Nate, buka pintunya.” Suara Rudy yang kali ini menarik perhatiannya. “Makannya di kamar aja, lo harus sarapan biar kuat cari duitnya.” Itulah yang dia katakan tepat saat Renate membuka pintu. Terkadang Rudy memang bersikap seperti ini, diam-diam mengkhawatirkannya. Dia menyebalkan, hanya saat berhubungan dengan hal yang menyangkut uang dan istrinya. Bisa dibilang kalau Rudy terlalu menuruti apa pun yang istrinya katakan. Dulu sebelum dia menikah, Rudy tidak menyebalkan seperti sekarang. Rudy pernah menjadi sosok kakak yang baik dan perhatian pada kedua adik kembarnya. Renata yang tiba-tiba hamil, serta ayahnya yang memilih pergi demi wanita lain, jelas mempengaruhi sikapnya. Renate tahu, Rudy tidak sepenuhnya salah bersikap seperti sekarang, akan tetapi dia juga tidak bisa menanggung segalanya seorang diri tanpa mengeluhkan keadaan. Jika kedua saudaranya memilih menutup mata dan telinga, maka biarkan Renate yang menjadi manusia pengeras suara, yang berteriak dan marah di hadapan mereka. Kita semua sebagai manusia, sejatinya memiliki cara yang berbeda untuk menghadapi masalah yang ada. Dan bagi Renate, melawan saat Rudy dan Renata bertingkah keterlaluan, adalah cara ampuh untuk menyalurkan emosi yang nyaris merenggut kewarasannya. Meski terkadang hal itu pun tidak berhasil menghempaskan sesak di dadanya, tapi Renate merasa lebih baik setelah melakukannya. Bukan hanya mereka yang bisa menjadikan Renate sebagai objek bulan-bulanan emosi mereka. Sesekali Renate pun membutuhkannya. Namun, saat Rudy bersikap seperti ini. Perasaan yang dia miliki pada Rudy hanya rasa bersalah dan rindu. Penyesalan timbul setiap kali kakaknya itu memberikan Renate makanan hingga camilan, tanpa sepengetahuan istrinya. Renate rindu tertawa bersama keluarganya di ruang tengah, sambil menonton acara komedi. “Cih..., dasar Abang bodoh. Pasti tertukar dengan bubur ayam milik istrinya. Padahal dia tahu, gue gak suka daun bawang mentah.” Renate mengeluh, tapi senyuman tidak sedikit pun luntur dari wajahnya. Dia semakin tertawa saat mendengar rengekan Dara dari kamar sebelah. Mendengar kakak iparnya merajuk bukanlah hal baru bagi Renate, apalagi amarahnya yang meledak-ledak itu hanya disebabkan bubur ayam kesukaannya tidak memiliki daun bawang. Dan seperti biasa pula, suara Rudy yang mencoba untuk menenangkan istrinya terdengar semakin lucu di telinga Renate. Meski terdengar aneh, tapi faktanya hal seperti ini memang bisa sedikit menghiburnya. “Ah, aku harus lebih serius mencari uang. Harus, agar orang yang terus saja menelepon itu bisa diam setelah dibayar.” Lagi, dia menggerutu sembari melirik ke arah ponselnya yang terus-menerus menjerit dari dalam keranjang pakaian kotor. Lama-lama mendengar deringnya terasa menyebalkan juga. Ini masih terlalu awal untuk menagih hutang bulan depan. Apa mereka benar-benar tidak memiliki pekerjaan, selain mengganggu waktu orang lain. Sebenarnya apa yang ada di pikiran ayahnya, sampai dia meminjam uang dari rentenir bergaya ABG bucin begini. Sejujurnya Renate sangat lelah meladeni telepon-telepon berisi ancaman seperti ini, padahal dia sudah sangat berusaha untuk membayar hutang setiap bulannya, tapi masih saja mendapatkan teror begini. “Atau memang semua rentenir seperti ini. Toh, ini memang bagian dari pekerjaannya.” Renate menghela napas panjang, sesaat setelah mengucapkan itu. Dia lekas menyelesaikan sarapan, dan bergegas membersihkan diri. Hari ini, Renate berniat untuk menjenguk ibunya terlebih dahulu, sebelum berangkat ke tempat event yang baru. Ini hanya event kecil yang akan berlangsung selama tiga hari, dan lokasinya tidak jauh dari rumah sakit tempat ibunya dirawat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN