“Ada apa, Nak?” Renate menoleh saat mendengar pertanyaan itu.
“Cerita sama ibu kalau ada yang mengganjal di hatimu.”
“Renate baik-baik saja, Bu.”
Tatapannya begitu sedih saat mendengar jawaban yang Renate berikan. Akhir-akhir ini ibunya memang selalu bertanya hal serupa, lalu terlihat begitu sedih saat Renate menjawab seadanya. Wina seolah menyadari peperangan yang sedang terjadi di hati putrinya. Dia lekas membuka tangannya lebar-lebar, membiarkan Renate tenggelam dalam pelukannya. Wina memang seorang ibu yang tidak memiliki uang ataupun kesehatan untuk saat ini, akan tetapi dia masih memiliki pelukan hangat untuk anak-anaknya. Dalam hati berharap, pelukannya bisa sedikit menenangkan kemelut yang mendera putrinya. Dia kenal betul dengan karakter Renate, putrinya itu tidak akan mau menceritakan segala kesulitan yang dihadapinya. Renate terlalu takut untuk membuat Wina khawatir, sudah sejak kecil dia seperti itu. Kepribadian Renate selalu bertolakbelakang dengan Rudy, maupun Renata yang bahkan adalah kembarannya.
“Tidak apa-apa meski kamu tidak mau menceritakannya sekarang, ibu harap segala hal yang mengganggu ketenanganmu bisa lekas terselesaikan.”
Dia merasakan dekapan putrinya semakin erat. Belakangan ini sikap Renate tampak berbeda dari biasanya, Renate sering kedapatan melamun dan tidak fokus. Ini persis seperti yang terjadi saat dia menyaksikan pernikahan Renata dengan Danise, hal itu terulang kembali saat ayahnya memilih pergi bersama wanita lain. Entah apa yang terjadi pada Renate, yang pasti instingnya sebagai seorang ibu tidak bisa diabaikan. Wina takut Renate meninggalkannya, dan tidak akan pernah kembali. Dia selalu melihat Renate pergi menuju tempat gelap dengan wajah sedih dalam mimpinya. Sungguh mimpi buruk yang membuat Wina tidak bisa tenang. Dia menepuk-nepuk punggung putrinya, memberikan seluruh kekuatan serta cinta yang dimilikinya agar Renate kembali ceria.
“Renate, sebesar apa pun masalahmu, seberat dan selelah apa pun kamu, bisakah kamu berjanji satu hal pada ibu?” tanyanya tanpa menghentikan tepukan lembut di punggung mungil putrinya.
Renate mengangguk, dia selalu cepat merespon ibunya. Sungguh anak yang berbakti. Sejujurnya, disaat seperti ini, Renate sangat ingin menceritakan segalanya. Namun, sebesar apa pun keinginannya untuk bercerita, dan berkeluh-kesah pada ibunya tentang apa yang dia alami belakangan ini, Renate tetap tidak bisa melakukannya. Bukan amarah ibunya yang Renate takuti, akan tetapi apa yang dia ceritakan jelas akan mempengaruhi kesehatan ibunya. Kekhawatiran bercampur dengan kekecewaan itulah yang akan membunuh ibunya lebih cepat daripada penyakit yang dideritanya. Renate tahu, ibunya tidak akan berhenti menyalahkan diri sendiri, jika mengetahui segalanya. Dan benar dugaan ibunya, Renate tidak akan tega melukai hati wanita yang sudah memberinya kehidupan, serta cinta yang begitu tulus dalam hidupnya.
“Jangan meninggal mendahului ibu. Kamu tidak boleh berakhir dalam kondisi ini, ibu yakin kehidupanmu akan membaik. Jadi bertahanlah sampai hari itu tiba. Ibu tahu, yang ibu katakan sangat egois, tapi bisakah kamu memegang janji ini, Nak?”
Renate membelalakkan matanya, dia tidak menyangka ibunya akan mengatakan hal ini. Dia tidak pernah memperkirakan ibunya akan membahas kematian di hadapannya.
“Apa kamu sudah menanyakan pendapatnya, sebelum memutuskan itu? Apa kamu yakin, dia akan menyetujui rencanamu?”
Hari itu Renate benar-benar kebingungan dengan pertanyaan yang Mahen layangkan di tengah pergulatan panas mereka. Bagaimana dia tidak bingung, pria itu menanyakan hal yang Renate rasa tidak ada sangkut pautnya dengan aktivitas yang sedang mereka lakukan. Namun, kini dia tahu apa yang Mahen tanyakan, serta arti dari sorot matanya yang begitu sedih. Ternyata Mahen menanyakan pendapat ibunya tentang rencana bunuh diri yang sudah Renate persiapkan sejak lama.
“Kamu tidak berhak merenggut apapun darinya. Suatu saat kamu akan menyadari, kalau hari ini kamu benar-benar beruntung karena bertemu dengan saya.”
Sebelumnya Renate merasa kalau Mahen terlalu bangga akan dirinya. Namun, dia membuktikan ucapannya benar. Lagi-lagi pria itu dapat menebak jalan hidup Renate dengan tepat. Ibu mana yang akan terima, kalau anaknya meninggal lebih cepat dari dirinya. Melihat pemakaman anak sendiri adalah hukuman seumur hidup bagi orangtua. Renate tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Renate terlalu egois sampai berpikir ibunya akan hidup lebih baik tanpa dirinya. Renate menjadi serakah dan tidak pernah memperkirakan perasaan ibunya. Andai saja hari itu Renate tidak bertemu dengan Mahen, dia tidak akan pernah bisa mendengar isi hati ibunya seperti ini. Renate setuju bahwa dirinya beruntung bertemu pria itu. Mahen memberinya pelajaran berharga dibalik ucapannya yang terkadang pedas dan penuh teka-teki, agar lebih menghargai nyawanya sendiri.
"Renate bakal berusaha keras supaya bisa memegang janji itu, Bu. Renate mungkin akan hancur seperti ini, tapi aku janji ibu tidak akan pernah melihat pemakamanku."
Suara Renate terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya. Dia tersenyum lebar guna meyakinkan ibunya, kalau dirinya benar baik-baik saja.
"Dasar gadis nakal." Wina menepuk kening putrinya yang tersenyum lebar sembari mendongakkan kepalanya.
Tangan Renate masih melingkar di tubuh ibunya, bahkan kini dia kembali menenggelamkan dirinya dalam dekapan ibunya. Bermanja-manja sebelum akhirnya sadar kalau ini sudah waktunya dia berangkat bekerja. Renate mencium pipi ibunya lantas berpamitan. Tujuannya kali ini adalah pameran produk hasil karya anak negeri, Renate diminta untuk mempromosikan pakaian dan tas milik brand lokal di daerahnya. Dan bagi Renate, ini lebih seperti sedang berbelanja dan bermain, tapi mendapatkan bayaran. Renate tidak pernah membayangkan apa yang sedang menantinya di rumah. Jika dia tahu, Renate pasti akan memilih untuk tidak pulang lebih cepat setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Renate sudah terlanjur menginjakkan kakinya di rumah, bahkan sudah bertatap muka dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui.
"Kamu pulang cepat hari ini."
Pria itu tersenyum manis, melangkahkan kakinya mendekati Renate. Tanpa ragu berusaha untuk meraih wanita yang sudah dia lukai dengan sangat kejam.
"Jangan melewati batas! Kamu jelas mengenali orang yang berdiri di hadapanmu bukanlah Renata."
Pria itu tertawa terbahak-bahak, "Aku sungguh tidak bisa mengenali yang mana istriku, sebab kalian terlalu mirip."
Jawaban yang membuat Renate mendecih, dia menyilangkan tangan di d**a. Muak adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Renate saat ini.
"Bahkan saat marah, kalian jadi semakin mirip. Bagaimana kalau aku sampai salah menyentuh."
"Menyingkir dari jalanku."
Dia lagi-lagi tertawa, mengangkat tangannya tinggi-tinggi seraya melangkah mundur dari tempatnya berada. Tanpa tunggu waktu lama, Renate lekas berlalu meninggalkan pria itu, orang yang dulu sangat dia cintai.
"Tidak bisakah kamu berhenti bermain-main jadi orang asing di depanku, Renate? Ini benar-benar membuatku semakin menggilaimu. Kamu sangat suka, ya melihatku mengemis padamu seperti ini?"
"Aku enggak pernah memintamu melakukan itu. Kamu harus lebih banyak bersyukur, Danise bukannya bersikap tidak tahu diri begini."
"Yang aku cintai itu kamu, Renate."
"Omong kosong! Kamu bilang mendapatkan aku atau Renata bukanlah masalah buatmu. Tepati ucapanmu itu, jangan pernah berpikir untuk berselingkuh darinya. Sebab kalau kamu melukainya, kamu akan menghadapi dua hantu sekaligus."
Renate langsung menutup pintu dan menguncinya secepat mungkin. Dia takut Danise akan menerobos masuk. Pria itu sering melakukannya, diam-diam memperhatikan Renate saat istrinya tidak ada di dekatnya. Tak jarang Danise tiba-tiba saja memeluknya dari belakang, lalu berdalih kalau dia salah mengenali istrinya. Renate tidak bisa menceritakan perbuatan Danise pada kembarannya atau pada Rudy, sebab saat dia bercerita, mereka pasti akan menyalahkan Renate atau berpikir Renate ingin membalas perbuatan Renata di masa lalu. Dia mengusap wajahnya kasar, sembari memperhatikan knop pintunya terus diputar. Danise masih berusaha masuk, dan entah teror ini akan berakhir.
"Kamu gak akan bisa pergi dariku, Renate! Kamu itu milikku!"
Renate bersyukur dengan respon tubuhnya yang dengan cepat mengunci pintu serta jendela. Mungkin itu refleks yang sudah terasah selama bertahun-tahun lamanya. Namun, dia tetap tidak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir. Renate takut dan muak. Dia jijik pada kehidupannya, dia ingin mengakhiri hidup yang memuakkan ini, tapi janji yang baru dibuatnya pagi tadi mencegah Renate menggoreskan silet di pergelangan tangannya. Setiap kali dia berhadapan dengan Danise, dia benar-benar merasa tidak tahan. Bukan kali ini saja Renate melukai dirinya agar bisa teralihkan dari rasa takutnya pada Danise. Dia sudah sering melukai dirinya, mulai dari menggigit bibirnya hingga berdarah, menampar pipinya sendiri, hingga menggoreskan silet di pergelangan tangannya. Renate tidak ingin mati, dia hanya ingin terlepas dari semua hal memuakkan dalam hidupnya.
"Seseorang tolong aku." Lirihnya, sembari menutupi telinga.
Entah pergi kemana semua orang, sampai Danise bisa sebebas ini menunjukkan sisi buruknya. Renate hanya berharap agar seseorang segera pulang, agar segala kengerian di depan pintunya lekas berakhir.