Mencintai seseorang adalah kutukan bagi yang merasakannya. Cinta yang menggebu-gebu tetap akan kalah dihadapan uang. Pria berkemeja hitam yang kini duduk santai dalam kegelapan kamarnya, tiba-tiba saja tertawa sembari melepaskan dasi dari lehernya. Mahendra Gunawan tahu betul rasanya dikhianati oleh orang tercinta karena uang, jadi dia tertawa saat mengingat betapa putus asanya dia saat kekasihnya menikahi pria yang lebih kaya darinya. Pria yang begitu berkuasa sampai seorang Mahendra Gunawan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Saya akan merebutmu kembali, tunggu dan lihat saja."
Gumaman yang lebih terdengar seperti ancaman itu merupakan kata yang selalu dia ulang setiap malamnya, hampir sepuluh tahun terakhir. Namun, kali ini ucapannya bukan sekadar hisapan jempol belaka. Sebab dia sudah menemukan orang yang tepat untuk dimanfaatkan. Segera Mahen akan menemuinya. Wanita yang sudah mengacuhkan pesan singkatnya, wanita yang kabur tepat setelah berbagi kehangatan dengannya.
"Renate Sanjaya, kamu adalah tiket untuk mendapatkan segala yang saya inginkan. Boneka cantik yang tidak berdaya, serta Boneka yang bisa membuat saya b*******h setelah sekian lama tertidur."
Seulas senyum menghiasi wajah tampannya yang terpahat sempurna. Mahen bangkit dari duduknya sembari membawa sebotol wiski, langkahnya sempoyongan menuju balkon. Di bawah cahaya rembulan, Mahen tampak sangat memukau. Namun, dalam sorot mata pangeran yang selalu tersenyum itu, jelas tergambar kesepian yang mendalam. Perasaan terluka yang nyaris tidak ada yang bisa melihatnya. Tangan Mahen merogoh saku celananya, menarik keluar benda pipih yang dia abaikan sejak pulang dari kantor. Ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari ibunya, serta lusinan telepon dan pesan singkat dari sekretarisnya.
"Kondisi Ibu wanita itu semakin memburuk, kamu yakin masih ingin menunda perawatannya?"
Mahen mengusap wajahnya, berusaha mengumpulkan kembali kesadaran yang direnggut oleh alkohol di sisinya. Pesan singkat dari sekretarisnya cukup mengusik Mahen. Dia tersenyum lebar sembari menggosok-gosok dagunya, tampak berpikir sebelum memutuskan mengambil tindakan.
"Wanita tua itu belum boleh mati. Dia tidak berguna kalau mati sekarang."
Mahen mulai mengetikkan sesuatu di atas keypad ponselnya, setelah menggumamkan bahasa yang tidak enak untuk di dengar. Bahkan kata-kata yang dia ketik tidak lebih baik dari yang diucapkannya. Sekretarisnya langsung mendelik tajam, sesaat setelah membaca pesan dari bosnya. Sepertinya Mahen memang sudah hilang akal, bagaimana dia tega mempermainkan wanita malang itu, menggunakan penyakit yang ibunya derita.
"Mulai pengobatannya. Calon ibu mertua saya belum boleh mati, dia adalah tali kekang yang akan mencekik leher putrinya. Tanpa dia, Renate tidak memiliki alasan untuk menjual dirinya."
Dulu Mahen bukanlah orang jahat seperti ini. Mahen bahkan memiliki kepribadian yang begitu manis dan mudah tersentuh saat seseorang mengalami kesulitan. Bahkan saat kematian ayahnya saja tidak bisa mengubah kepribadian Mahen jadi sekejam ini, akan tetapi patah hati akibat dikhianati berhasil membuat Mahen menjadi seseorang yang seperti sekarang. Dia memang selalu merendahkan nada bicaranya, tersenyum manis pada siapapun yang dia temui. Namun, dibalik itu semua, Mahen menyembunyikan iblis dalam kesempurnaan tingkah lakunya.
"Dia sudah meninggalkan kamu lebih dari sepuluh tahun, dia menghinamu selama itu, apa semua perbuatanmu pada Renate sepadan?"
Mahen mendengus membaca pesan singkat dari sekretarisnya. Sepuluh tahun bekerja dengannya adalah waktu yang terlalu singkat untuk membuat seorang sekretaris bisa bebas menasehati bosnya seperti ini.
"Jika kamu memiliki waktu untuk menasehati saya, maka kamu punya banyak tenaga untuk menyelesaikan pekerjaanmu lebih cepat."
"Saya akan menghitung pekerjaan kotor ini sebagai lembur. Jadi, jangan sampai telat membayar gaji dan bonus untuk saya."
"Kamu benar-benar sudah tidak butuh pekerjaan lagi rupanya."
Belum genap satu menit, akan tetapi seseorang yang sedang berkirim pesan dengannya sudah memberinya jawaban.
"Cepatlah naik takhta, supaya saya bisa naik jabatan. Saat sudah kaya, saya akan berhenti sendiri, jadi saya sarankan jangan repot-repot memecat saya. Jujur saja, kamu masih membutuhkan saya."
Jordy Panggabean memiliki kepercayaan diri yang sangat bagus, sama seperti caranya bekerja. Itulah kenapa hanya pria berdarah Batak ini saja yang bisa bertahan hingga sekarang. Jordy bekerja di bawah kepemimpinannya, sejak Mahen masih dalam pengasingan. Bisa dibilang, Jordy adalah orang bayaran Kakeknya yang akhirnya berkhianat dan memilih memberikan loyalitasnya terhadap Mahen. Jordy selalu yakin dengan dia memihak Mahen, kemajuan karir serta isi tabungannya akan terus meningkat. Dan itu keputusan yang tepat. Statusnya memang sekretaris, akan tetapi dia sudah mengerjakan sebagian pekerjaan Mahen, mendapatkan kehormatan setara dengan jajaran direksi perusahaan. Bahkan jika suatu saat Jordy diangkat untuk mengisi posisi Mahen sekarang, tidak akan ada seorangpun yang meragukan kualitasnya. Dan dari semua orang yang ada disekitar Mahen, hanya Jordy seorang yang tahu bagaimana Mahen berusaha bangkit dari patah hatinya hingga sekarang. Jordy menyaksikan kondisi paling rapuh Mahen dan menghiburnya. Menjadi satu-satunya teman untuk Mahen menjadi dirinya sendiri.
"Wanita itu sangat luar biasa, kenapa kamu malah memanfaatkannya hanya untuk mendapatkan kembali orang yang sudah menyakitimu. Asal kamu tahu saja, saya lebih menghormati Nona Renate, daripada dirimu."
Decihan meluncur bebas dari bibir ranum Mahen. Sekretarisnya itu benar-benar orang yang kurang ajar. Apa dia sungguh berpikir kalau Mahen tidak akan bisa mendapatkan penggantinya, sampai dia berani bersikap lancang begini.
"Tidurlah, jangan minum lagi. Besok adalah hari peluncuran produk baru, kamu harus berpidato dalam acara tersebut."
Benar-benar pegawai kurang ajar. Seharian ini dia terus saja menyinggung perasaan Mahen, kini dia juga mengaturnya di luar jam kantor. Sebenarnya, yang bos di antara mereka itu siapa? Kenapa Mahen merasa sekretarisnya itu jauh lebih berkuasa dibandingkan dengan dirinya. Mahen menghela napas panjang, menatap langit malam yang terasa semakin tinggi daripada sebelumnya. Kenapa dia ingin mendapatkan kembali hati dari orang yang sudah memberinya siksaan selama ini? Entahlah, Mahen tidak tahu pasti. Mungkin cintanya yang membuat dia rela melakukan apa saja demi wanita itu. Wanita yang memilih menikahi Kakeknya disaat Mahen menjalani hidup dalam perasingan di negeri orang.
"Kamu menyukai uang, kan. Maka saya akan mengambil semua uang kakek tua itu, agar kamu berpaling darinya dan kembali pada saya."
Cinta memang gila. Hanya cinta yang bisa membuat keluarga yang harmonis menjadi berantakan, menjerat mereka yang mencinta jadi seorang i***t. Mahen adalah satu dari jutaan orang yang menjadi korban dalam cinta. Dia di butakan amarah hingga lupa yang sedang dilawannya adalah kakeknya sendiri.
"Ini tidak akan lama, saya akan membebaskan kamu darinya. Bersabarlah sebentar lagi."
Tidak peduli seberapa besar luka yang wanita itu berikan. Mahen tetap menganggap bahwa yang salah adalah kakeknya. Gadis muda mana yang mau menikahi seorang kakek, jika tidak mendapatkan tekanan atau terjerat masalah keuangan. Namun, itu hanya ilusi saja. Faktanya, Iris secara sukarela menikahi kakek dari pacarnya karena menginginkan kemewahan, lebih dari yang Mahen berikan. Sebab, sejak awal pun tujuannya tidak pernah Mahen, melainkan Gunawan Adiguna. Memanfaatkan kepolosan Mahen, serta kesukaan Adiguna terhadap gadis-gadis cantik, kini akhirnya Iris bisa mendapatkan keinginannya. Jalannya begitu mulus, jika suatu saat Adiguna tiada, Iris masih bisa kembali pada Mahen yang begitu menggilainya. Jadi dalam peperangan Mahen dan Adiguna, Iris tidak pernah menjadi seseorang yang dirugikan. Dia menikmati posisinya sebagai primadona bagi kekek dan cucu konglomerat ini.
Di tempat lain, yang sungguh membutuhkan pertolongan justru Renate. Matanya menatap ke langit malam, beberapa waktu lalu Rudy dan Dara pulang, jadi keadaan tidak menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Namun, ketakutan itu tidaklah berakhir hanya karena Danise sudah berhenti mencoba masuk kamarnya. Pria itu pasti akan melakukannya lagi saat semua orang tertidur, seperti yang sudah sering terjadi selama ini. Renata juga kembali bersama putranya setelah bepergian entah ke mana. Suara tawa dan perbincangan keluarga di luar, bagai ejekan bagi telinga Renate. Gadis itu masih duduk memeluk lututnya di sudut ruangan. Tubuh mungilnya tampak diselimuti oleh gorden yang berada di belakangnya. Dia gemetaran untuk waktu yang lama, bahkan jika dia ketiduran pun teror itu tidak serta-merta menghilang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh, sepertinya demam yang menderanya sejak beberapa waktu lalu, kini bertambah parah.
"Mereka semua tertawa, Bu. Apa melihat deritaku begitu menyenangkan?"
Dia tahu, tawa di luar tidaklah tertuju padanya. Namun, Renate tetap merasa sakit mendengar orang yang melukainya begitu bahagia. Lelaki itu tertawa bersama keluarganya, seolah-olah tidak pernah melakukan kesalahan. Kenapa Renate yang menjadi korban dalam permainan tidak adil ini, kenapa tidak dirinya saja yang menjadi penjahat. Jika itu terjadi, Renate tidak perlu merasakan sakit dan tersiksa seperti sekarang.
"Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri, bagaimana cara agar aku bisa bertahan, Bu."