Nessa tergopoh menuju kamar mandi. Tubuhnya masih lunglai, kakinya makin nyeri merasakan sakit yang menjalar dalam persendian. Ia mengguyur diri dengan air keran. Tangisnya pecah mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Brian terbangun menghampiri pintu kamar mandi. Ia mengetuk-ngetuk dan memanggil Nessa. Tapi tak ada sahutan. Hanya suara gemericik air terdengar nyata bersamaan rintihan tangis. "Nes, ke luar, kita bicara baik-baik. Gue pasti tanggung jawab. Please, Nes," pinta Brian setengah memohon. Tetap tak ada jawaban. Brian makin cemas. Ia memutuskan untuk mendobrak pintu dengan sisa tenaganya. Pintu tetap tertutup. Jelas saja tak semudah dalam adegan sinetron. "Nes, buka pintunya atau gue panggil anak-anak buat bantu dobrak pintu?!" ancam Brian tak tanggung-tanggung.

