Sore itu Nessa berjalan lunglai di sepanjang koridor rumah sakit. Kepalanya terasa berat memikirkan tagihan janji dari Brian. Mengingatnya saja Nessa sudah pusing sendiri. Baru saja Nessa mengecap manisnya cinta yang terbalas, sekarang malah harus dipaksa menelan pahitnya pilihan yang dibuat Brian. Tidak, bukan pilihan melainkan keharusan. Ia baru saja akan membeli makanan ringan di minimarket dekat rumah sakit. Gama tak mau lama-lama ditinggal sendirian. Tak memberi waktu banyak untuknya sekadar pulang sebentar atau menyiapkan bekal makanan apalagi memasak di rumah. Langkahnya tertahan saat terdengar suara rengekan seorang gadis. Nessa mencari sumber suara. Ia melihat seorang anak kecil duduk di atas kursi roda. Wajah itu sangat pucat dengan bibir yang begitu pudar dan mata sayu. Ha

