Sepulang dari Jogja, Gama terlihat kembali pada sosok awalnya. Cerewet, bermulut pedas, tukang komentar, dan perfeksionis. Semua anggota Senat mulanya merasa aneh dan mengira Gama sudah mulai tak waras. Tapi semakin diperhatikan lagi, mereka tak merasa ada keganjalan yang signifikan kecuali tawa renyah cowok itu yang kadang-kadang membahana di tengah diskusi serius. Mereka hanya tak tahu Gama berusaha menyembunyikan patah hatinya lebih dalam lagi. Terkadang sesekali tanpa sadar ia ingat akan Nessa. Terakhir kali mendengar suara gadis itu, ketika Diana menghubungi Nessa dan membiarkan mereka berdua bicara satu sama lain. "Kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang?" "Bukannya kita udah putus?" "Kapan?" "Kamu sendiri yang bilang waktu itu." "Kapan? Di mana? Jam berapa? Hari apa? Tanggal

