1. Chef Bara.
Siang itu resstoran padat dan ramai. Lembaran demi lembaran pesanan sudah antre manis di ticket holder. Mata itu tajam dalam setiap menatap setiap hidangan yang sudah disajikan stafnya. Dengan sigap mengambil sendok kecil yang selalu bertengger manis di saku chef jacketnya.
“Kurang asin Rafa.” ucapnya dengan pelan tapi sangat mendominasi suasana dapur.
“Panaskan oven dua ratus derajat, jangan lebih.” Ucapnya lagi kepada stafnya yang lain dengan tegas.
“Siap, Chef!”
Tatapannya menajam mengikuti setiap detail. Bara bukan tipe yang mudah puas. Sekalipun pelanggan memuji masakannya, ia tahu masih banyak yang bisa diperbaiki. Bara menginginkan kesempurnaan, tapi lebih dari itu, ia menginginkan jiwa dalam setiap masakannya.
“Coba rasain lagi sausnya.” Katanya pada salah satu cook line. Bara mengambil sendok kecil, mencicipi, lalu menatap diam.
“Oke. Go!” ucapnya menyuruh staf mengantarkan pesanan ke pelanggan. Setelah itu Rafa kembali datang menghampiri Bara sambil membawa semangkuk kecil sop daging sapi.
“Ini, Chef.” Bara mengamati sejenak kuah yang menggenang cantik di mangkuk porselen berwarna putih.
“Ini kuahnya berlemak, Rafa. Buang dulu lemaknya.”
“Gimana Chef, caranya?” Bara tak langsung menjawab. Kedua matanya menatap Rafa, asisten utamanya atau bisa di bilang tangan kanannya di dapur. Rafa hanya meringis dan menggaruk belakang kepalanya yang enggak gatal.
“Kamu udah berapa lama di sini?”
“Hehe, maaf Chef.”
“Amibilin wadah, saringan, sama es batu.” titah Bara dengan nadanya yang tegas tapi tidak mengintimidasi. Rafa langsung melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu. Setelah semua barang-barang yang ia minta sudah di hadapannya, perlahan Bara menaruh es batu ke dalam saringan, menaruh wadah di bawahnya, kemudian perlahan menuang kuah tadi melewati es batu dan saringan. Sambil menunggu kuah beralih ke wadah, Bara menggoyang-goyangkan saringan tadi supaya kuah turun sempurna.
“Ini namanya skim Rafa. Misahin lemak dari kuah. Pegang ini.”
“Oh, iya Chef.” Rafa kemudian mengambil alih memegang saringan tadi.
“Belajar lagi, kalau besok gini lagi, gaji kamu saya potong terus saya bagi-bagiin ke yang lain.”
“Waduh, jangan dong Chef.”
“Sana. Tes lagi rasanya, kuahnya kurang pekat dikit. Tambahin broth lagi.”
“Siap, Chef.” Rafa kemudian berlalu dari Bara dan menyelesaikan pekerjaannya.
Bara mengedarkan pandangnya. Perlahan Bara melepaskan sarung tangannya kemudian berjalan keluar ke samping dapur. Dari balik jendela Bara mengamati restorannya yang selalu ramai dan penuh dengan pengunjung. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tatkala melihat para pelanggannya dari berbagai usia. Wajah sumringah saat menyeruput kuah, mata yang terpejam saat sekali menyuapkan makanan, mata yang membulat saat merasakan perpaduan rasa yang pas, semua tidak luput dari pandangan Bara. Sampai kemudian beberapa stafnya keluar dari dapur dan menyandarkan punggung mereka ke tembok.
“Waaah. Gila. Dari kemarin ramai terus. Bisa nyender gini udah syukur gue.”
“Iya. Bisa minum di tengah-tengah ramainya dapur juga alhamdulillah bange.”
Lalu salah seorang diantara mereka mengeluarkan ponsel dan menggulirnya ke atas, menikmati waktu jeda sejenak dengan berseluncur ria di dunia maya.
“Wah, Safira mau rilis film baru, nih. Nonton yuk.”
“Safira?”
“Yoi. Artis yang baru naik daun itu.”
Seketika wajah Bara berubah. Telinganya mendengar seorang nama disebut. Safira.
“Safira Ardelia Arman?”
“Iya. Yang main film laying-layang untuk Diandra itu.”
“Oh.. kapan emang rilisnya?”
“Minggu depan sih kalau di IG-nya.”
Ya. Safira yang dia dengar adalah Safira istrinya. Safira Ardelia Arman. Orang-orang mengira, diusia Bara yang sekarang menginjak tiga puluh lima tahun, Bara masih betah menjomblo, masih sendiri. Tetapi pada kenyataannya, Bara sudah memiliki istri dan mengarungi rumah tangga selama lima tahun. Pernikahan yang terlalu rapi untuk disembunyikan. Terlintas sejenak dalam pikirannya saat awal-awal pernikahannya dulu
“Aku mohon, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan pernikahan ini. Aku janji ini hanya sementara. Sampai kontrakku dengan agensi ini berakhir.”
“Bagaimana kalau kontrakmu di perpanjang lagi? Apakah kamu akan tetap menyembunyikan pernikahan ini?”
“Enggak. Kalau kontrakku di perpanjang lagi, aku akan jujur kepada agensiku dan media, kita akan menjalankan rumah tangga yang sebenarnya. Aku janji.”
Tapi, janji hanyalah janji. Safira mendapatkan kontrak keduanya, dan Safira meminta dan memohon supaya pernikahan mereka kembali di sembunyikan.
“Aku mohon Bara. Ini kesempatanku untuk masuk ke kancah Internasional. Kesempatan kayak gini enggak akan datang dua kali, kalaupun datang dua kali, pasti prospeknya enggak akan sebagus ini. Please. Tolong ngerti dan dukung aku, ya.”
Begitulah kata-kata Safira di malam itu, di kamar mereka. Saat satu per satu kontrak datang untuk menjalin kerja sama dengan Safira. Bara begitu dalam menatap perempuan yang ada di depannya. Helaan nafasnya sedikit tercekat, mata yang menatap dengan sorot kekecewaan. Dimana Safiranya yang dulu?
“Sampai kapan, sampai kapan Safira?” tanyanya lirih namun jelas terdengar di indera pendengar istrinya. Safira susah payah menelan ludah. Tubuhnya sedikit menegang. Tangan kanannya yang memegang lembaran-lembaran kontrak eksklusif bergetar halus.
“Apakah lima tahun belum cukup? Harus sampai kapan aku menunggu lagi? Aku suamimu, pernikahan kita sah secara hukum dan agama.”
“Aku tahu Bara, aku tahu. Tapi, tapi kamu juga tahu kalau ini mimpiku sejak dulu. Mimpi yang sudah lama aku rajut dan, dan sekarang mungkin waktunya.”
“Apa begitu berat untuk kamu mengakui pernikahan ini?”
“Bukan berat Bara, tapi kalau aku jujur kalau aku sudah menikah, maka aku akan susah mendapatkan peran utama. Mereka hanya, hanya akan memberiku peran pendukung.”
“Hentikan omong kosong mu, Safira!” untuk pertama kali semenjak mereka menikah, Bara yang selalu halus dalam bertutur kata kepada orang yang dia sayangi, menaikkan sedikit nada bicaranya. d**a Bara naik turun, nafasnya memburu, satu tangan bertengger di pinggangnya, tangan yang lain memijat pelipis.
“I’m sick off this marriage, Safira!”
Tanpa melihat wajah Safira, Bara mengambil langkah lebarnya dan kemudian pergi meninggalkan Safira yang diam membisu. Safira terus memandangi punggung lebar Bara yang semakin jauh.
“Chef..” Bara tersadar dari pikirannya yang sejenak melanglang buana.
“Iya, kenapa, Dim?” tanya Bara kepada Dimas, Cook assistant yang sudah hampir dua tahun bekerja di restorannya.
“Izin lapor Chef. Stok d**a ayam tinggal dua kilo lagi. Kalau pesanan terus naik seperti kemarin, sore ini bisa habis. Ditambah ada menu baru, Chef.”
“Aku udah minta bagian pembelian tambahin stok pagi tadi. Tapi kamu pastikan ya, ayamnya jangan campur sama sisa kemarin, biar semua tetap fresh.”
“Siap, Chef.” Dimas mencatat cepat. Dimas kemudian mengangkat wajah dan menatap Bara sekilas.
“Chef?”
“Hm?”
“Chef enggak istirahat dulu? Dari pagi kayaknya belum keliatan makan atau minum sesuatu?” Bara tersenyum kecil.
“Habis ini aku mau ke supermarket sebentar. Aku titip dapur ya, bilang sama Rafa.”
“Siap, Chef.”
Bara menepuk bahu kanan Dimas pelan, sebelum akhirnya melepas chef jacketnya sambil berjalan menuju mobil SUV hitam metalicnya yang daripagi sudah terparkir manis di depan restoran.
Bara sudah sampai di supermarket, dan kini sedang berdiri menghadap rak bumbu-bumbu. Bumbu basah, bumbu kering, dan bumbu-bumbu yang masih dalam bentuk aslinya. Namun saat Bara berbalik tiba-tiba.
BRUUK!
Terlihat seorang gadis menabrak tubuhnya. Gadis itu reflek mengatupka kedua telapak tangannya sambil membungkuk.
“Maaf, maaf Om, saya enggak sengaja.”
“What?! Om?! Setua itu kah, saya?” Bara mengernyit, seakan tidak terima dirinya dipanggil dengan sebutan Om. Gadis itu buru-buru kembali menunduk dan membungkuk beberapa kali.
“O-oh, ma-maaf, maaf, Pak.”
“Pak?” Bara membeo. “Saya bukan bapak kamu.” Lanjutnya.
Bara melihat beberapa berang belanjaan gadis itu berserakan di lantai. Gadis itu berjongkok dan memunguti barang-barangnya satu per satu. Bara tak hanya diam, Bara ikut berjongkok dan membarntu gadis itu.
“Kalau sekiranya belanja banyak, bisa pakai keranjang atau stroller.” Ucap Bara datar tanpa eskpresi.
“I-iya, maaf.”
“Kamu enggak perlu minta maaf.”
“Iya, maaf, eh.”
Bara dan gadis itu berdiri bersamaan.
“Tadi memang enggak ada niatan belanja banyak. Tapi semakin ke sini ternyata semakin banyak yang harus dibeli. Hehe.” Bara menghela nafas sejenak. Kemudian menaruh barang belanjaan gadis itu ke keranjangnya yang masih kosong.
“Pakai keranjang saya, saya bisa ambil lagi. Belanjaan kamu lebih butuh ini.” Ucap Bara mengambil alih barang-barang dari tangan gadis itu dan menaruhnya ke dalam keranjang.
“Eh..” pekik gadis itu. Bara tanpa banyak kata kemudian berlalu darinya. Gadis itu, yang berpenampilan sederhana, dengan kaos polos kebesaran, celana training hitam, rambut yang dikucir asal, dan tas kecil yang terselempang dibahunya, menatap Bara yang semakin jauh. Saat mengambil keranjang belanjanya untuknya lagi, Bara terdiam sejenak. Bibirnya tiba-tiba terangkat ke atas, senyum yang samar, sambil bergumam.
“Om? Pak?” Bara lalu geleng-geleng. Entah kenapa hatinya mendadak merasakan getaran yang aneh.