“Jadi dari semua pembicaraan yang kami lakukan, bagian mana yang kau dengar?” ujarku to the point dengan setenang mungkin. Memastikan tidak ada nada intimidasi sama sekali disana. Aku masih ingat apa yang aku pesankan padanya sebelum keluar dari kamar. Aku hanya ingin menguji seberapa jujurnya putraku dan juga keterbukaannya. Sekaligus ingin membuktikan apa yang tidak aku sadari dan sejauh apa aku tidak mengetahui soal putraku yang sudah aku besarkan sendirian selama ini. “Hanya bagian tentang aku yang bertemu muka dengan seorang pria dikedai kopi Uncle Daiki.” Tak kukira dia benar-benar mau terbuka untuk memberitahuku apa yang dia ketahui meskipun cara dia mendapatkan informasi tidak bisa dibilang benar. Sedikit melegakan tapi juga membuatku jadi semakin cemas. Perasaan yang complicated

