“Cepat t***l! Dia bisa memergoki kita kalau kau terus mengulur-ulur waktu begini! Kita sudah melakukannya lebih dari dua kali, bukannya itu artinya cukup?” Nana berbisik, setengah mendesak pada pria yang kini sibuk dengan tubuhnya. Yang digertak tidak mau langsung menurut, dia justru malah melesat tegak sembari menyeringai dengan cara yang menyebalkan. “Belum sayang,” ujarnya membalas perkataan Nana. Pria itu malah mencondongkan tubuhnya untuk meraup sesuatu yang tak lebih dari sekadar main-main. Berlama-lama di foreplay adalah caranya. Ciri khasnya. Oleh sebab itu Nana tidak bisa keluar dari jeratnya. Dia mendapatkan sebuah ciuman yang panas dari perempuan itu sebagai gantinya. Membawanya dalam sebuah api birahi yang meletup-letup liar dan tak terkendali. “Sudahlah! Sudahi ini pergi d

