Dira merasa sangat sulit untuk berkonsentrasi sekarang. Untuk sebuah alasan yang tidak dia mengerti dia masih memikirkan anak laki-laki yang menurutnya tidak biasa menurutnya beberapa jam lalu. terlebih lagi tempat mereka bertemu adalah sebuah café yang tidak diduga adalah milik dari pria yang dahulu pernah menjadi saingan cintanya. Melihat kebersamaan mereka sedikit mengganggunya. Apalagi Dira merasa bahwa anak laki-laki itu mengingatkan dirinya di usia itu. masa kecilnya yang seperti memaksanya untuk bercermin pada bocah itu. seperti sebuah Salinan karbon yang benar-benar versi mininya. Apa mungkin? Pikirnya. Alisnya menyatu menjadi satu. Sesungguhnya dia tidak ingin berpikir macam-macam. Dia menghela napas sekali, dia merasa tidak memiliki cukup banyak waktu untuk memikirkan hal-hal m

