"Udah?" "Udah." Kuanggukkan kepala, menjawab pertanyaan Yuni. "Yuk," ajaknya. Aku pun meraih tas, menggeser kursi agar letaknya lebih rapi. Kemudian mengiringi langkahnya menuju lift. Setelah hampir dua menit menunggu sambil berbincang tentang pekerjaan, pintu lift di depan kami terbuka. Sayangnya, ketika akan masuk, sosok itu sudah lebih dulu menghampiriku. "Aku baru mau ke mejamu," ujarnya santai seperti biasa. "Saya baru mau turun," timpalku. "Oke, kita masuk," ucapnya sambil berbalik. Aku menoleh ke arah Yuni. Dia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk. Selama di dalam lift kami hanya saling diam. Hingga sampai di lantai dasar dan pintu terbuka, aku dan Yuni tidak berbicara sepatah kata pun. "Ayo, Dinda," ucap Pak Roy. Menggerakkan kepala ke arah mobilnya yang sudah terp

