"Aku juga enggak tau, kenapa masih suka pusing, mual-mual, bahkan muntah tiap pagi. Padahal sebentar lagi udah mau empat bulan," keluh Opi. "Mungkin karena jaraknya kejauhan sama kehamilan Khanza. Jadi, kamu kesulitan buat membiasakan diri," tukasku. "Bisa jadi," sahut Opi lemah. "Imbasnya ya, gitu. Aku jadi sering marah-marah sama Khanza. Telat siapin sarapan juga. Akhirnya, dia jajan sembarangan di sekolah. Makanya jadi sakit. Maaf, ya. Kamu lagi repot buat siapin pernikahan, aku enggak bisa bantu apa-apa." "Enggak apa. Lagian kamu 'kan harus banyak istirahat." Kutepuk punggung tangannya. "Pak Arya udah pulang?" tanya Opi. "Udah. Cuma nganterin, doang. Dia enggak mampir, kok," paparku. "Tumben?" Opi tampak keheranan. "Mau cepet-cepet istirahat mungkin." Aku pun tersenyum. Tak ing

