55. Wedding

1851 Kata

"Bunda cantik banget," puji Fia. "Terima kasih," sahutku sambil mengusap pipinya. "Iya, Anty cantik banget. Khanza juga mau cantik kayak gitu kalau nanti jadi pengantin," timpal Khanza. "Ngomong apa kamu ini, Khanza? Baru juga kelas dua SD, sudah ngomongin jadi pengantin." Opi yang sedang memasangkan sprei baru untuk kasurku berkata dengan nada kesal. "Tuh, 'kan. Mama suka marahin Khanza, Anty," keluh anak itu dengan wajah muram. "Ya, habis. Kamu jadi anak nyebelin banget," dalih Opi. "Hust, enggak boleh gitu. Itu namanya godaan kalau lagi hamil," tukas Ibu Ratmi, yang adalah ibu dari Opi. Beliau sengaja datang jauh-jauh dari Purwakarta demi menghadiri pernikahanku. "Opi cape, Bu. Tiap lihat dia mesti banyak bilang amit-amit terus," elak Opi. Fia menatap Opi yang sedang mengomel.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN