33. Kejujuran Dinda

2015 Kata

Aku mengerjapkan mata. Mengatur bias cahaya yang terasa menyilaukan. Ah, kenapa bisa sampai pingsan seperti ini? Apa karena aku menangis terlalu lama? Bahkan kepalaku masih terasa pusing. Aku mencoba bangkit, meski badan terasa lemas. Bagaimana tidak, aku belum makan sejak siang. Nafsu makanku tidak ada karena melihat wajah muram Fia, sebelum berangkat ke pesta. Ah, kini itu semakin membuatku menyesal. Kenapa aku harus memaksakan keinginanku untuk pergi ke sana? Seandainya, aku bisa menahan keegoisanku. Berdiam diri di rumah tanpa harus menuruti kemauanku ... tidak! Aku tidak egois. Justru aku melakukan ini demi Fia. Ya, demi Fia. Aku berencana untuk mengatakan isi hatiku pada Pak Roy. Bahwa aku ... tidak bisa terus-menerus menerima apa pun darinya. Karena ternyata, sebaik apa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN