"Nih, coklat. Sayang belum Om makan, dari pada dibuang." Arya memberikan sebungkus coklat yang masih utuh. "Buang aja," sahut Fia tak acuh. Dia kembali fokus menonton televisi. Arya memalingkan wajah, lalu menunjukkan ekspresi kesalnya padaku. Seperti biasa, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum. . "Kasian Om Arya, lho. Udah jauh-jauh ke sini, kamunya malah cuek gitu," ucapku ketika menemaninya tidur. "Sekarang lihat Om Arya sama aja kayak Om Arif atau Om Roy. Baik-baik terus sama Fia karena ada maunya," dalihnya. Aku mengembuskan napas. Kenapa bisa secepat ini sikap Fia berubah pada Arya? Padahal awalnya dia begitu suka pada Arya, alih-alih Arya tidak akan merebutku darinya. Kini setelah tahu Arya ingin menikahiku, sikap Fia berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan rumah-r

