"Halo, Fia!" "Halo, Om." "Ini, Om bawain oleh-oleh coklat dari Singapura. Enak, lho!" "Makasih." "Di makan, ya?" Fia tak menjawab. Aku yang berdiri di pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah, hanya bisa diam melihat mereka. "Hei, Dinda. Sudah siap?" Pak Roy menyadari keberadaanku. "Sudah." Aku pun melangkah. "Bunda berangkat dulu, ya!" Kurundukkan badan ke arah Fia. Fia mengangguk. "Pi, aku berangkat, ya!" "Iya, Din!" "Mari, Pak," ajakku pada Pak Roy. "Dah, Fia." Pak Roy melambaikan tangannya. Sayangnya, Fia tak menjawab. "Sepertinya Fia kurang suka sama aku?" tanya Pak Roy, sesaat setelah mobil melaju. "Maksudnya?" Aku berbalik tanya setelah memasang sabuk pengaman. "Setiap aku ke rumah kamu, dia selalu memasang wajah muram." "Oh, itu." Aku menjawab dengan nada gugup

