"Mmm. Bos Bunda yang barusan sama Pak Arif itu sama. Kalau ketemu Fia suka nanya sambil senyum. Kalau Om Galak enggak. Kayaknya, Om Galak enggak suka sama Bunda." Kata-kata itu terus terngiang di telinga. Ucapan Fia tadi sore. Bahkan hingga menjelang tidur, aku masih memikirkannya. Apa maksudnya? Pak Arif. Dia memang selalu terlihat ramah dan lembut pada Fia. Kadang aku berpikir, dia terlalu berlebihan. Seperti ketika Fia ulang tahun. Pagi itu dia mengirim pesan singkat. Mengajakku keluar dan makan siang bersama. Aku menolaknya secara halus, mengatakan jika sudah memiliki janji untuk keluar bersama Fia. Tanpa diduga, dia menelepon dan bertanya akan ke mana. Dan ternyata, tiba-tiba dia datang ke restoran tempat kami makan sambil membawa boneka. Hal serupa terjadi lagi ketika dia ingin

