Aku mengempaskan tubuh di atas kursi yang sempat Arya duduki tadi. "Ke mana Om Galak?" Aku menoleh ke arah Fia. "Pulang." Kuusap keningnya lembut. "Kenapa panggil Om Galak?" "Soalnya, waktu Fia tabrak dia di mal, dia marah. Tapi, Om Galak juga baik. Dia mau temenin Fia sampai ketemu Bunda," paparnya dengan wajah polos. Aku tersenyum mendengarnya. "Tapi, Bunda. Kenapa waktu itu, pas Fia tanya Om Galak kenal Bunda apa enggak, dia bilang enggak kenal?" "Oya?" "Iya. Om Galak 'kan tanya nama Fia, terus nama Bunda. Waktu Fia bilang nama Bunda Dinda Almaira, Om Galak kayak kaget gitu, Bunda. Bos Bunda ternyata tukang bohong." "Hust, enggak boleh bilang gitu. Mungkin waktu itu dia enggak sangka kalau Dinda Almaira itu Bunda." Kuusap pipinya. "Mau Bunda kupasin apel?" "Boleh. Buah dari Om

