Tiga Tujuh

1781 Kata

Kami udah jalan cukup jauh, ninggalin pasar, desa, guild. Eh, ini bener enggak sih arahnya?"David? Apa ini jalan menuju hutan roh?" tanya gue. Seriusan enggak tahu, dari tadi pada diem-diem wae. Si David cuma ngangkat bahunya, sambil manyunin bibir bawah. Ya lord! Gue stop aja tuh rombongan. "Kita kau ke mana sekarang?" "Hutan roh!" jawab si kembar barengan. "Kalian tahu di mana hutan itu? Apa arah kita sudah benar?" Ya, semoga aja mereka emang tahu beneran. Dih! Malah geleng-geleng kepala. Mata gue berpaling sama yang lain. Sama aja, mereka enggak ada yang tahu. Terus ngapain kita jalan jauh-jauh begini? Capek tahu! Oke, sabar, sabar. Tarik napas … hembuskan. Enggak ada cara lain. Kita harus tanya orang. Tapi di hutan-hutan begini, mana ada orang. Krusuk! Tiba-tiba ada suara belus

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN