Pagi ini, Keysa telah disibukkan dengan sekarung cucian kotornya. Langkahnya gontai dengan kedua tangan yang mendekap keresek merah besar. Berkali-kali anak itu tengah menguap, menahan kantuk yang menjalar di matanya. Dan benar dugaannya semalam, ia tidak bisa tidur sampai pagi. Membuat kantung matanya kini terlihat semakin menghitam. Rambutnya pun cukup berantakan. Dan beruntungnya, tempat laundry tersedia per lantai. Jadi, Keysa tak perlu capek-capek harus naik turun tangga lagi.
Keysa memasukkan semua pakaiannya ke salah satu tempat cuci di sana. Mengabaikan orang-orang yang tengah menatapnya heran. Terlebih, saat tubuhnya luruh dan bersandar pada kaki mesin cuci. Keysa langsung menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut. Baru saja matanya terpejam, seseorang dengan lancangnya mengguncang-guncangkan bahunya. Otomatis, kepala Keysa mendongak dengan sepasang matanya yang menyipit kesal.
"Hei! Ngapain kamu tidur di sini?" Seorang wanita muda berambut pendek, dengan kaos merah dan celana kuning muda setengah paha bertanya dengan heran.
Keysa terdiam setengah sadar. Kembali memilih menenggelamkan kepalanya.
"Hei! Kok malah tidur lagi!" Wanita itu dengan enaknya menarik tangan Keysa. Mengangkat tubuh anak itu hingga hampir saja oleng ke depan.
"Kalau mau tidur jangan di sini!" Keysa menguap. Kepalanya mengangguk lemah. Namun, dua detik kemudian, sepasang matanya langsung terbelalak saat merasakan semburan air tak manusiawi membasahi wajah beserta sebagian rambut panjangnya.
"Sorry, habisnya aku suka enek lihat wajah orang yang suntuk gini." Wanita itu dengan tak berdosangaya malah nyengir kuda sembari menutup kembali botol minuman yang ada di tangannya.
Keysa mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa kantuk yang sedari tadi menyerangnya pun seketika menghilang. Tergantikan dengan napas yang memburu dengan cuping hidung yang kembang-kempis.
"Kenalin, aku Dania, kamar 308." Wanita itu memperkenalkan dirinya. Memamerkan senyumnya yang menampakkan satu lesung pipi di sebelah kanan. jika dilihat-lihat, usia wanita itu sepertinya sedikit lebih tua dari Keysa.
"Keysa," sahut Keysa menjabat tangan Dania singkat dan sedikit ogah-ogahan.
Dania termangu. Sepasang matanya sedikit memicing menatap Keysa penuh lekat. Dahinya sedikit berkerut, seolah tengah mengingat-ngingat sesuatu.
"Sepertinya aku sering lihat kamu naik turun tangga setiap hari. Kenapa kamu tidak menggunakan lift saja?" tanya wanita itu dengan bingung.
Keysa yang tengah sibuk mengusap rambutnya yang basah langsung terdiam. Bahkan mulutnya langsung terkunci rapat. Kedua tangannya pun mendadak dingin dan berkeringat. Pikirannya sibuk mencari jawaban yang tepat kepada Dania. Karena tidak mungkin jika ia menjawab ada sosok mengerikan di area lift tersebut.
"Emm, aku ... pobia tempat sempit." Keysa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Suaranya sedikit mencicit dalam memberikan jawaban yang cukup masuk akal.
"Ouh ..." Dania manggut-manggut percaya. Hal itu langsung membuat Keysa mengembuskan napas lega.
Selepas itu, Keysa segera mengambil cuciannya yang telah selesai. Ia segera kembali ke kamarnya terlebih dahulu.
•••
Selepas menjemur semua pakaiannya, Keysa langsung merebahkan badannya yang cukup penat pada sofa empuk di ruang utama. Kepalanya menoleh, memperhatikan Elena yang sedari tadi menari balet dengan anggunnya. Lagi-lagi, lantunan musik klasik terdengar mengiringi tarian Elena, entah itu datang dari mana.
Keysa mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas sofa. Rasa penasarannya tentang sosok Elena kembali menguar. Elena terlihat tengah mengakhiri tariannya dengan membungkukkan punggung dan kakinya, seraya tangan kananya berputar-putar ke depan. Seolah memberikan ucapan terima kasih kepada 'orang-orang' yang menontonnya. Dan anehnya, musik klasik itu tiba-tiba berhenti berputar dan lenyap.
"El ...." panggil Keysa dengan menatap lekat-lekat sosok itu. Yang dipanggil langsung menoleh dengan tatapan datar.
"Kenapa kamu masih ada di dunia ini?" tanya Keysa tanpa basa-basi.
Wajah Elena yang pucat tiba-tiba berubah sangat mengerikan. Bibir Elena tersenyum hingga menyentuh ujung telinga. Sepasang matanya melotot dan nyaris keluar. Darah hitam pekat dan beraroma busuk tiba-tiba merembes dari kepala, perut, lengan dan nyaris ke sekujur tubuhnya.
Kedua mata Keysa melebar. Keysa mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya. Jantung Keysa berdetak kencang kala diri Elena terbalut energi hitam dan terasa sangat panas.
Keysa merapatkan kedua matanya. Perutnya mulai terasa sangat mual akibat bentrokan energi. Tubuh Keysa menegang hebat saat Elena mengeluarkan tawa melengking dan sangat mengerikan. Sepasang tangan Keysa langsung menutup erat kedua telinganya. Mencoba menghalau tawa Elena yang sangat menyakitkan. Rasanya seperti ribuan jarum kini menancap-nancap di telinga.
Keysa mengatur napasnya yang teramat sesak. Sepasang matanya mulai terbuka perlahan saat suara Elena tidak lagi terdengar. Sepasang netra cokelat Keysa mulai menyapu seluruh ruangan yang terlihat merah hitam di matanya. Keysa meneguk ludahnya. Ia tersadar jika kini diriya telah berada di gerbang dimensi lain. Tubuh Keysa berputar beberapa saat. Menelisik ruangan yang ia pijak. Sebuah kamar. Cukup luas dan tidak ada pajangan apapun di dindingnya. Keysa mengerutkan dahinya. Dia mulai bertanya-tanya di mana dia sekarang. Keysa bahkan tak pernah melihat ruangan ini sebelumnya. Keysa sendiri berdiri tepat di samping lemari yang besar dan tinggi, berhadapan langsung dengan ranjang putih yang tertata rapi.
Brakk
Diri Keysa cukup tersentak akibat dobrakan pintu yang sangat tiba-tiba. Tubuhnya membeku saat kedua orang memasuki ruangan ini. Keysa menelan salivanya melihat Elena berjalan sempoyongan dibantu dengan seorang pria pri bumi. Elena didudukkan di atas ranjang dengan kasar, sementara pria itu kembali menutup pintu, menguncinya dari dalam.
"Aku sudah memberikan semua padamu, Bima. Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku sangat sayang padamu." Elena merangkul leher pria yang ia panggil Bima. Sorot mata Elena terlihat sedikit merah, sepertinya anak itu habis minum air keras. Keysa dibuat keheranan, bukankah Elena sangat membenci orang-orang pri bumi yang katanya kasta kita jauh di bawahnya?
Bima menyeringai. Pria itu langsung menerjang bibir Elena dengan tenaganya. Membuat punggung Elena terpelanting ke atas kasur. Bima langsung menindihi tubuh gadis itu. Sontak saja, Keysa kontan membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Menutup rapat-rapat kedua telinganya saat mendengar suara-suara desahan yang sangat menggelikan. Dalam hatinya, Keysa langsung merutuki Elena. Yang benar saja! Elena tanpa tahu malu menampakkan dirinya yang tengah b******u mesra seperti ini?! Menjijikkan!
"Terima kasih, El. Tapi, maaf. Aku tidak mencintaimu."
"Maksud kamu? Tapi kamu—Bima, apa yang kamu lakukan?! Bima! BIMAAA!"
Arrghhtt
Elena menjerit keras membuat Keysa langsung membalikkan tubuhnya kaget. Sepasang mata Keysa melotot sempurna melihat kejadian di hadapannya. Keysa sontak menutup mulutnya yang ternganga. Tubuh Keysa terpaku. Tenggorokannya tercekat sesak lengan kedua lutut seperti ditebas melihat darah segar yang menyelimuti tubuh Elena. Keysa dibuat tidak berkedip saat Bima membacok tubuh Elena tanpa ampun menggunakan pisau pemotong daging di tangannya.
"Dia menipuku!" Keysa terhenyak. Ia menoleh ke kanan, tempat Elena kini berada. Terlihat Elena sangat mengenaskan. Bukan lagi berwujud wanita bule cantik, Elena kini menampakkan wujud aslinya saat terakhir kematiannya.
"Dia menjebakku. Dia tidak mencintaiku!" Sepasang mata Elena meotot marah. Keysa sedikit meringis merasakan panas yang luar biasa keluar dari energi Elena.
Tubuh Keysa tiba-tiba melayang menuju ruangan lain. Dan betapa terkejutnya Keysa kala melihat Bima membunuh seluruh anggota keluarga Elena yang tengah tertidur pulas. Tak sampai di situ, Bima merampok semua harta kekayaan keluarga Elena.
"Aku tidak akan memaafkan kamu, Bima!" Teriakan Elena membawanya kembali masuk ke dalam tubuhnya semula. Keysa kini ada di sofa apartemennya. Napasnya tiba-tiba tersengal. Keringat dingin langsug bercucuran. Keysa menatap Elena dengan tidak percaya. Sungguh, hantu yang sangat menyebalkan di hadapannya kini, ternyata mempunyai masa lalu yang sangat kelam. Dan entah mengapa, Keysa cukup iba dibuatnya.
"Aku akan membunuh seluruh keturunan dari Bima! Tidak akan aku biarkan mereka hidup dengan tenang!"
Keysa mengusap bulu kuduknya yang meremang. Menelan ludahnya susah payah melihat amarah Elena yang seakin menjadi. Bebebrapa detik kemudian, Keysa berlari kalang-kabut menuju toilet. Memuntahkan isi perutnya akibat bentrokan energi dari Elena. Keysa mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia lantas membasuh wajahnya yang terasa panas menggunakan air wastafel. Sebelah tangan Keysa memegang kepalanya yang berdenyut menyakitkan. Mulutnya pun terasa sangat pahit. Bibir dan wajahnya langsung memucat. Tubuh Keysa terkulai lemas dan ambruk di sana. Sungguh, tenaganya telah terkuras habis akibat gesekan dengan energi Elena yang sangat besar. Kini Keysa tahu, dendam sebesar apa yang masih meyelimuti jiwa Elena, membuat jiwanya tidak bisa pulang.
•••
Keysa melipat sajadahnya. Hatinya terasa lebih baik setelah beribadah. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu siang. Dan satu jam lagi dirinya harus bersiap-siap menuju kampus.
"Apa yang kau lakukan?"
Tubuh Keysa sedikit terperanjat kaget kala Elena tiba-tiba muncul dari bilik tembok dengan sebuah pelototan.
"Maksud kamu?" bingung Keysa.
"Tubuhku panas sekali. Aku mendengar suaramu. Apa kau sengaja menyakitiku?!"
Bibir Keysa sedikit terbuka. Ia menatap Elena tidak percaya. "Aku tadi hanya mendoakan kamu, El. Agar kamu gak di sini terus."
"Jangan lakukan itu lagi!" Elena membentak. Sosok itu menatap Keysa penuh kebencian. "Tubuhku terasa terbakar sakit! Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum menemukan sisa keluarga Bima!" Setelah berucap demikian, Elena kembali menembus dinding dan menghilang. Embusan napas panjang keluar dari lubang hidung Keysa.
Kepala Keysa tiba-tiba teringat akan sosok Cahyo. Baginya, Elena dan Cahyo adalah sosok yang saling bertolak belakang. Di mana Cahyo sangat menyukai sebuah doa. Karena bagi Cahyo, doa untuknya adalah obat penenang. Jauh berbeda dengan Elena yang justru merasa kesakitan. Dan sepertinya, mulai saat ini, Keysa harus membatasi interaksi dengan Elena. Karena hantu yang takut dan sakit dengan lantunan ayat suci merupakan golongan jin yang tidak baik dan patut dihindari.