Dua Puluh Enam

715 Kata

Amelia bersikap sebiasa mungkin, meskipun dengan mata bengkak dan hidung merah. Setelah turun dari atap gedung, semua mata menatapnya penuh keheranan. Amelia hanya menunduk lesu mengabaikan tatapan orang-orang. Ia juga hanya tersenyum ketika orang-orang menyapanya. Semua adegan tadi terekam jelas dalam benaknya perkataan Ajiz dan juga Seira. Amelia meringis kembali meneteskan air mata. Ternyata ia tak bisa menahan gejolak sakit dalam dadanya. Amelia berbelok menuju arah gudang. Tubuhnya meluruh menangis menutupi wajahnya. Sakit sekali, padahal dia sudah menebak dirinya akan seperti ini. Namun, tetap saja sakitnya begitu kentara. Amelia menangis tersedu di sana sendiri. Memeluk lututnya menekan ulu hati yang semakin berdenyut pilu. Tolong hentikan! Hentikan semua drama dan juga rasa s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN