Begitu keluar dari pintu utama rumah Max Jasper, Edward langsung bersiul begitu melihat Uncle dan Aunty-nya itu turun dari sebuah motor besar Harley Davidson.
"Motor baru, Uncle Max?" Tanya Ed sambil berjalan mendekati Max.
Max mengangguk bangga. "Bagaimana, keren tidak?"
Ed terkekeh sambil melirik Shayla -istri Max yang baru saja melepas helm-nya dan membenarkan tatanan rambutnya. "Kalau menurutmu bagaimana, Aunty? Bagus tidak?"
Shayla mendecih kesal. "Jelek! Buang-buang uang!"
"Bukankah kau jadi senang karena bisa bermesraan denganku naik ini?" Max menaik turunkan kedua alisnya menggoda Shayla.
Sedangkan Shayla kembali mencibir dan masuk begitu saja kedalam rumah.
"Sepertinya aunty Shayla tidak menyukai Harley-mu ini, uncle Max." Celetuk Edward dengan santai. "Lagipula untuk apa kau membeli motor baru lagi? Empat motormu di dalam hanya menganggur dan saat ini ditambah satu. Ah, benar kata Aunty Shayla. Kau membuang-buang uang, uncle Max."
Max menyipitkan matanya menatap keponakannya itu. "Apakah ini salah satu rayuanmu untuk meminjam motorku ini, Ed?"
Edward tertawa dan merangkul bahu Uncle-nya itu. "Ayolah, uncle Max. Aku ingin merasakan berkeliling dengan Harley terbaru ini."
Max lalu tertawa dan sedetik kemudian memasang wajah datarnya. "Tidak boleh."
"Kenapa kau pelit sekali pada keponakan tersayangmu ini, uncle Max?" Edward memasang wajah sedihnya. Membuat Max menyentakkan kepalanya.
"Kau ini menyusahkan, Ed. Sama seperti ayahmu dan Claire." Celetuk Max.
Edward membulatkan matanya, menatap Max dengan sok kesal. Sampai ketika Ed hendak balas mengejek Max, hidungnya mencium bau semerbak parfum camomile.
Ketika Edward menoleh, dia sudah mendapati Lily yang berdiri disampingnya sambil memeluk buku dan dengan tas di punggung-nya.
"Daddy membeli motor baru?" Tanya Lily.
Lagi-lagi Max mengangguk bangga. "Bagus, bukan?"
"Bagus!" Lily mengangguk riang. "Lily ingin naik itu!"
"Tapi Daddy tidak bisa mengantarkanmu saat ini, Lily. Sebentar lagi Daddy harus berangkat ke kantor. Bagaimana kalau kau tetap naik mobilmu saja?" Tawar Max.
Lily tersenyum, "Ed bisa mengantarku."
"Wah, iya! Aku bisa mengantarkan Lily, Uncle Max!" Edward membalas dengan semangat sambil mengusap-usap motor baru Max. "Dengan motormu."
Max menghela napasnya. Menurutnya tidak berguna juga berdebat dengan Edward dan Lily.
Maka dari itu, Max berusaha mengikhlaskan Edward yang kali ini menaiki motornya dengan Lily.
"Menyetir yang benar, Ed." Pesan Max.
Edward lalu menyalakan mesin motornya. "Siap, uncle Max!"
"Jangan mengebut dan Lily, kau harus berpegangan pada-"
"Bye, uncle Max!"
"Bye, Daddy!"
Max menghela napasnya. Motor barunya sudah melaju terlebih dahulu.
Tanpa memberikan Max kesempatan untuk memberi pesan lima belas menit sebelum Ed mengantarkan Lily dengan motor baru miliknya.
•••
"Kau masih marah?"
Edward menatap Lily dari spion motornya dan kemudian menggeleng. "Kenapa harus marah?"
Lily mendengus dan kemudian memukul punggung Ed, membuat Ed sok mengaduh kesakitan. "Kemarin kita bertengkar."
"Oh ya? Aku lupa."
Lily mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Berbicara dengan Edward memang membuat dirinya lelah dan harus bersabar.
Sampai kemudian Edward menarik tangan Lily, membuat kedua tangan Lily memeluk pinggang Edward.
Lily terdiam sebentar. Pagi ini Lily merasa begitu tenang. Karena ada Edward bersamanya dan Lily tidak harus bertengkar dengan Edward.
"Ed," panggil Lily.
"Hm?"
"Bagaimana perasaanmu ketika bersama dengan seseorang yang kau cintai?" Lily mengulum bibirnya dan meletakkan dagunya di pundak Edward. "Maksudku, dengan lawan jenis."
Edward tersenyum kecil. "Maksudmu definisi jatuh cinta?"
Lily mengedikkan bahunya. "Sudah jawab saja..."
"Aku merasa selalu senang. Rasanya seperti orang gila. Rasanya ingin tersenyum terus dan aku merasa nyaman." Iris mata biru Ed kembali melirik Lily yang terlihat mendengarkannya dengan serius. "Rasanya aku ingin bersama seseorang yang aku cintai. Menghabiskan waktuku bersamanya."
"Rasanya tidak ingin berpisah, ya?" Tanya Lily.
Edward lalu mengangguk. "Kecuali kalau kau mau ke toilet."
"Astaga, Ed! Kau menghancurkan imajinasi bahagiaku!" Lily kembali memukul punggung Edward dan tertawa. Membuat Ed juga ikut tertawa. "Berarti aku sedang jatuh cinta, Ed."
"Oh ya?" Edward tersenyum. "Dengan siapa?"
Lily memeluk Edward makin erat dan memilih menjawabnya dengan seulas senyuman.
•••
"Sheina!" Lily langsung memanggil Sheina begitu dia melihat gadis berambut hitam legam yang panjang itu baru saja turun dari mobil.
Sheina yang selalu heboh, kemudian berlari kecil menghampiri Lily.
"Kau datang dengan siapa?" Sheina memeluk lengan Lily sambil melirik Edward yang masih diatas motor sambil menatap keseluruhan gedung sekolah Lily.
"Ed," panggil Lily dan kemudian Edward menoleh. "Ini Sheina. Teman sekelasku."
"Ah -senang bertemu denganmu, aku Ed." Edward mengulurkan tangannya. Membuat Sheina menyalami tangan Ed sambil tersipu. "Aku tidak tahu kau memiliki teman secantik Sheina, Lil."
Lily sontak memutar bola matanya dengan malas. Sifat Edward Jasper yang player kembali muncul.
"Kau juga tampan, Ed. Aku sering melihat berita tentang keluarga kalian." Puji Sheina. "Oh, selamat atas kelahiran adik kembarmu ya!"
Edward tertawa kecil sambil mengusap tengkuk bagian belakangnya. "Seharusnya kau memberi selamat pada Mom-ku, Sheina. Dia akan senang bila bertemu denganmu."
"Simpan rayuanmu itu, Ed!" Lily langsung menutup kaca helm Edward yang gelap, membuat tawa Edward pecah. "Ayo kita pergi dari sini, Shein. Kau jangan dekat-dekat dengan player seperti Edward!"
Sheina hanya tertawa tapi tetap saja gadis itu sempat meremas kecil lengan Ed. "Senang bertemu denganmu, Ed."
Edward hanya tersenyum dan tertawa tanpa suara ketika Lily memberinya tatapan tajam.
"Aku masuk dulu!" Pamit Lily.
"Lil!" Edward berteriak memanggil Lily, membuat Lily menoleh. Tanpa bersuara, Edward lalu mengambil ponselnya dan kemudian menggoyang-goyangkannya kearah Lily.
Lily paham maksud Edward, lelaki itu mengiriminya sebuah pesan.
Edward J: see you soon again, Lil. Aku pulang ke London hari ini. Have a nice day. Love you x
Lily langsung membalikkan badannya dan dia tidak lagi menemukan Edward dan motornya.
Lily kemudian menghela napasnya dan mengetikkan pesan balasannya.
Lily Jasper: Take care
•••
Lily baru saja kembali dari cafetaria.
Tapi kini dia berjalan sendirian di koridor sedangkan Sheina harus ke hall teater karena dia harus mempersiapkan teater yang akan datang.
Disaat Lily melewati sebuah papan berisi pengumuman-pengumuman sekolah dan beberapa poster promosi sebuah acara.
Ada satu yang menarik perhatiannya.
Sebuah Jazz festival di Ubud -Bali. Lily mengernyit, cukup jauh dari rumahnya dan Lily juga tidak pernah menonton acara semacam ini secara langsung.
"Jazz festival, ya?"
Lily sontak mendongakkan kepalanya dan iris mata hazel-nya menemukan Mr Dean yang berdiri dibelakangnya.
"Kau juga menontonnya?" Tanya Dean.
Lily tertawa kecil sambil mengusap siku-nya. "Sepertinya tidak."
"Kenapa? Tidak tertarik?"
"Tertarik. Karena aku juga penasaran bagaimana rasanya menonton konser secara langsung." Lily lalu melihat tanggal konsernya. Akhir minggu ini. "Lagipula aku yakin tiket konser ini sudah sold out. Samuel -adikku tidak suka menonton konser seperti ini. Edward juga sudah pulang ke London."
Dean mengangguk-anggukan kepalanya dan kemudian berdiri disamping Lily. Tatapan matanya masih fokus menatap poster Jazz festival dengan kedua tangan yang dimasukka ke saku celananya.
"Kau mau kesana denganku?"
"Eh?" Lily sontak menatap Dean dengan terkejut.
Dean tersenyum kecil, "aku tidak perlu tiket kesana karena temanku adalah ketua team yang mengadakan konser ini. Jadi, bagaimana?"
Lily membalas tatapan Dean, entah kenapa menyenangkan bertatapan dengan Dean seperti ini.
"Kau mau?" Dean bertanya lagi, membuat Lily mengerjapkan matanya.
Dan entah kenapa, kepalanya refleks mengangguk dengan semangat.
Dan Dean juga tidak tahu kenapa dia bisa ikut tersenyum lebar ketika melihat senyum Lily.
"Sampai bertemu akhir minggu nanti," Dean bahkan mengacak kecil rambutnya.
Lily terpaku sejenak. Merasa benar-benar terkejut dengan perlakuan Dean.
"Lily, kau sedang apa disini?"
Lily membalikkan badannya, mendapati Sheina menatapnya dengan heran.
Dan makin heran lagi ketika Lily langsung memeluknya dan memekik tertahan.
"Hei, ada apa?" Sheina balas memeluk Lily dengan bingung. Dia benar-benar bingung saat ini karena temannya yang pendiam bisa menjadi aktraktif saat ini.
"Apa yang harus aku kenakan untuk sebuah konser?" Tanya Lily bersemangat.
Sheina mengerutkan alisnya dengan bingung. "Tergantung."
"Kau harus membantuku berdandan, Shein! Ini sangat penting bagiku!"
"Iya... Tapi kenapa?"
Lily menahan senyumannya sembari menarik-narik tangan Sheina. "Mr Dean mengajakku menonton konser ini."
Sheina sontak mengikuti arah pandang Lily. "Ubud Jazz Festival?"
Lily mengangguk riang.
"Berdua saja?"
Lily mengangguk lagi dan sontak Sheina juga memekik tertahan. "Bagaimana bisa?!"
"Entahlah, Shein... Aku juga tidak tahu."
"See? Kau jatuh dalam pesona Mr Dean." Ucap Sheina dengan telak. "Jujur padaku. Kau menyukainya, bukan?
Lily kembali tersenyum. "Sepertinya aku menyukainya."