"EDWARD!!!"
Edward yang sedang membaca buku kalkulus tiba-tiba saja tersentak begitu suara Mom-nya kembali menggelegar.
"Ed!!!"
Edward mendecak malas, "i'm coming, mom..."
Claire Xavier —adalah ibu tiri Edward yang begitu dia cintai. Ibu yang bagaikan ibu negara karena begitu baik, pengertian dan kekinian.
Tapi satu yang kadang membuat Edward kesal. Mom-nya itu senang sekali berteriak dan membuat seisi rumah tersentak kaget seketika.
Edward langsung membuka pintu kamar Mom-nya dan menemukan Claire sedang ada di depan kaca sambil memasang anting, sedangkan di kasur ada adik laki-lakinya yang masih balita bernama Cameron Jasper sedang mengigit-gigit ponsel.
"Mom, ada apa?"
"Sebelum berangkat sekolah, tolong ajak Cameron bermain sebentar." Claire lalu berdiri dan menggedong Cameron. "Uh... Cam sayang, mom hari ini harus datang ke gala premier film Dad mu. Jadi, kau diam dulu dengan Ed, ya?"
"Aku akan kesekolah satu jam lagi, Mom." Ucap Ed tak percaya. "Dan kau menyuruhku menjaga Cam? Kau bisa memberi Cam pada pengasuhnya."
"Cam ingin denganmu, Ed." Claire lalu memberikan Cameron yang penuh air liur kearah Edward. "Ambilkan dia biskuit, Ed. Uh, kau lapar ya Cameronku?"
Edward mengerang kesal ketika Cameron yang berumur satu tahun delapan bulan ini memukul-mukul mukanya sambi tertawa.
"Dimana baby's G, mom?"
"Adik kembarmu itu masih menjalani spa baby." Claire lalu mencium kedua pipi tembam Cameron. "Satu jam lagi mungkin Christian akan menjemput Cam dan membawanya ke gedung tempat gala premier nanti."
"Kenapa tidak sekarang saja?" Tanya Edward yang mulai lelah.
Claire menggelengkan kepalanya tegas sambil mengecup kepala Edward. "Cameron ingin makan biskuit dulu denganmu."
Edward tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya menatap Mom-nya dengan tatapan datar.
"Bye-bye, my Cameron..." Claire kembali mengecup bibir Cameron, membuat Cameron tertawa-tawa sambil melambaikan tangannya.
"Bye-bye,"
Edward tertawa kecil ketika Cameron melambaikan tangannya dengan heboh sambil berucap bye-bye.
Cameron memang baru mempelajari kata-kata dasar yang mudah.
"Kau mau makan, Cam?" Tanya Edward.
Cameron tertawa-tawa. "Eat, Ed."
"Okey, baby. Let's eat!" Edward mengangkat Cameron tinggi-tinggi dan menerbangkannya bak pesawat. Tapi tak lama kemudian, Edward mengaduh kesakitan ketika Cameron berteriak kesanangan sambil menjambak rambutnya. "Argh! Stop it, Cam!"
•••
Edward mendudukan Cameron di kursi khusus untuk balita yang sedang makan.
Sedangkan Ed duduk di sampingnya dengan tangan kiri bermain ponsel dan tangan kanan ia gunakan untuk ikut makan biskuit bayi yang sama dengan Cameron.
Sedangkan adik lelaki-nya itu duduk sambil asyik memakan biskuit bayi rasa apel dengan mata yang fokus pada nyanyian Baby Shark yang Edward setelkan melalui Ipad-nya dan Cameron langsung diam.
Iris mata biru Edward melirik Cameron yang makan dengan tenang dan kemudian Edward tersenyum kecil.
Sampai kemudian ada pesan dari Sheina yang masuk ke ponselnya.
Sheina: Hey!
Edward tersenyum. Dia kemudian langsung menghubungi Sheina begitu saja melalui videocall dan tak lama kemudian Sheina menjawab.
"Hey, beautiful." Goda Edward begitu Sheina mengangkat panggilannya.
Dengan jelas Edward dapat melihat Sheina yang tertawa sambil menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
"Hey, Ed."
"Kau sedang ap —hei, bukankah itu Lily?" Ucapan Edward terputus begitu dia melihat Lily melintas di belakang Sheina.
Sheina lalu mengarahkan kameranya kearah Lily yang sedang sibuk memilih baju didepan lemari.
"Lily akan berkencan dengan Mr Dean hari ini."
Edward mengernyit heran. "Berkencan? Kenapa bisa?"
"Shein, kau sedang videocall dengan Edward?" Lily kemudian mendatangi Sheina dan tersenyum kearah kamera. "Hei, Ed! Kau sedang di ruang makan?"
Edward mengangguk apa adanya. "Dengan Cameron." Ed lalu mengarahkan kameranya, memperlihatkan Cameron yang sedang makan biskuit bayi.
"Cameron!!! I miss you!" Lily tiba-tiba saja berteriak kegirangan.
Edward lalu kembali mengarahkan kameranya ke mukanya. "Kau akan kencan dengan Dean, Lil? Seriously?"
Tiba-tiba saja pipi Lily terlihat bersemu merah. "Sebenarnya bukan kencan juga. Aku dan Dean hanya akan menonton konser Jazz festival di Ubud."
"Ubud jauh dari rumahmu."
"Dean membawa motor."
"Kau bisa sakit bila malam-malam pergi sejauh itu dengan motor dan sejak kapan kau menyuikai keramaian?"
Lily mendecak malas, dia mulai malas bila Edward kembali posesif begini. "Tidak perlu berlagak seolah-olah kau lebih mengetahuiku, Ed."
"Aku hanya mengingatkan, Lil."
Sedangkan Sheina langsung mundur begitu saja, menjauh dari Lily dan Edward yang sepertinya akan kembali bertengkar walau melalui videocall.
"Aku mengenal diriku sendiri, Ed. Aku tahu mana yang baik untukku dan mana yang tidak." Lily bahkan sudah memasang tampang marah. "Dan lagipula, bila kau jatuh cinta pada seseorang, maka kau juga akan berusaha menyukai apa yang dia sukai."
"Iya bila itu tindakan yang ben—" Ucapan Edward terputus. Layar ponselnya menghitam tanda videocall mereka berakhir.
Edward bahkan membanting ponselnya begiti saja ke meja. Membuat Cameron menatap ponsel Edward dan kakaknya bergantian.
Edward dan Lily terlalu sama. Terlalu mudah terpancing emosi dan terlalu memasukan setiap ucapan kedalam hati dan menganggapnya begitu serius.
Edward hanya khawatir, trauma Lily waktu kecil akan kambuh lagi.
Maka dari itu Edward langsung menghubungi Mom-nya yang memang psikiater dan pernah menangani Lily dulu ketika kecil.
"Mom, jika Lily berada di keramaian, maksudku —sebuah konser. Apakah tidak apa-apa?"
•••
Untuk bisa datang ke Ubud Jazz Festival, Lily harus mengatakan pada Shayla dan Max —orangtuanya, bahwa dia menginap di rumah Sheina.
Dan hal itu berhasil. Max dan Shayla percaya pada Lily dan bahkan tidak mencurigai bahwa Lily akan pergi ke konser.
Ketika Dean datang, Lily kira Dean akan membawa motor besarnya seperti biasanya. Tapi ternyata malam ini Dean membawa sebuah mobil BMW Hitam yang sama dengan kaos yang dia pakai malam ini.
"Sekarang sedang musim hujan jadi lebih baik aku membawa mobil." Itu adalah alasan Dean yang membuat Lily hanya bisa tertawa kecil.
Sampai di lapangan parkir Ubud Jazz Festival, Dean bahkan membukakan pintu mobil untuk Lily.
"Terimakasih, Mr Dean."
Dean terdiam setelah mengunci mobilnya secara otomatis. Terdiam menatap Lily dengan intens. Sampai membuat Lily menelan salivanya dengan gugup. "Ada apa?"
"Apa yang aku katakan tadi? Jika diluar sekolah dan kita hanya berdua, panggil saja..."
"Dean?"
Dean tertawa dan mengangguk. Kemudian dia mengacak rambut blonde Lily dengan gemas. "Good girl."
Lily tidak tahu mengapa. Tapi seketika dia merasakan seperti banyak kupu-kupu berterbangan dan menggelitik perutnya. Menimbulkan sebuah rasa yang aneh serta debaran-debaran kecil itu terasa ketika tanpa sengaja lengan Lily dan lengan Dean bersentuhan.
"Sudah mulai ternyata." Ucap Dean ketika dia dan Lily sudah masuk ke area Jazz festival.
Lily dan Dean sama-sama terdiam. Sesekali Lily mendengar Dean ikut bernyanyi. Mengikuti irama dan lirik dari band Jazz asal Indonesia yang bahkan Lily tidak tahu siapa dan apa yang dinyanyikan.
Lily hanya menyukai bagaimana petikan gitar itu terdengar, menimbulkan ketenangan.
"Ingin melihat lebih dekat?" Tanya Dean, sedikit berteriak karena suara sound yang begitu keras.
Lily hanya mendongakkan kepalanya. Lalu mengangguk sembari tersenyum tipis.
Dan tanpa di duga-duga, Dean menggenggam tangannya dan menarik Lily ketengah-tengah penonton yang berdiri.
Dean kemudian melepaskan genggaman tangan mereka ketika sudah berada di lima baris terdepan dari panggung.
Lily mendongakkan kepalanya, ikut melihat seorang penyanyi wanita yang menyanyi dengan suara merdunya.
Lightning yang meriah, sound yang keras, orang-orang yang berteriak senang menyambut penyanyi terkenal diatas panggung itu, sampai gerimis yang perlahan jatuh membuat kepala Lily tanpa sadar berputar.
Lily menarik napasnya, lalu menghembuskan napasnya perlahan begitu keriuhan dan kesenangan para penonton ini memerangkapnya dalam sebuah keramaian.
Lily lalu menggenggam kedua tangannya. Menekan-nekan ibu jarinya sebagai terapi agar tidak panik.
Tapi itu semua sia-sia. Perlahan, kenangan buruk masa kecilnya yang mengakibatkan Lily menjadi anti sosial kembali lagi.
Bagaimana pertengkaran kedua orangtuanya sebelum akur seperti sekarang, bagaimana dirinya yang diincar banyak wartawan karena Daddy dan Mommy-nya termasuk orang berpengaruh dalam dunia bisnis di London.
Dan itu semua membuat Lily perlahan kehilangan keseimbangannya.
"Lily!" Dean langsung menggapai Lily dalam rangkulannya. "Kau baik-baik saja?"
Lily membasahi bibir bawahnya yang terasa kering dan berusaha mengangguk.
"Kita bisa kembali jika kau ma—"
"Aku masih ingin menonton." Lily menyela ucapan Dean. "Aku masih ingin menonton, Dean."
"Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja."
Lily hanya tersenyum, "aku baik-baik saja."
Dean terdiam beberapa saat. Mengabaikan band yang bermain diatas panggung.
Dean lebih memperhatikan Lily yang berdiri dengan wajah sedikit pucat di sampingnya dengan kedua tangan terkepal erat.
Sampai kemudian Dean merangkulkan lengannya ke leher Lily dan tangan kirinya menarik kedua tangan Lily yang terkepal.
Dean menggenggam tangannya. Memberikan kehangatan dan perasaan aman disaat bersamaan.
Lily kemudian mendongakkan kepalanya, menoleh menatap Dean yang fokus menatap keatas panggung.
Dean menggenggam tangannya begitu erat dan merangkulnya seolah tidak membiarkan siapapun mengenai Lily.
Dalam diam Lily tersenyum malu.
Selama bersama Dean, Lily akan baik-baik saja.
Karena baginya saat ini, kenyamanan adalah berada dalam dekapan Dean.
Dibawah gerimis kecil ini, ditemani lantunan lagu cinta yang dimainkan, Lily menemukan cinta pertamanya.
•••
Seusai konser, Lily berada di dalam mobil. Menunggu Dean yang beralasan ingin membelikannya cokelat hangat.
Tapi Lily memandang kedepan melalui kaca mobil, hujan diluar begitu deras dan Dean belum juga kembali.
Lily kemudian mengambil ponselnya di tas. Hendak menghubungi Dean sampai kemudian pintu mobil terbuka lalu menutup dengan cepat dan membuat Lily memekik terkejut.
"Astaga, Dean!" Pekik Lily sambil melihat kondisi tubuh Dean yang basah karen kehujanan. "Kau kehujanan..."
"Yeah." Dean hanya mengedikkan bahunya dan kemudian memberikan segelas cokelat hangat pada Lily. "Ada kaos ganti di belakang."
"Kau tidak perlu repot-repot membelikanku cokelat hangat."
"Kau kehujanan tadi."
"Itu kan hanya..." Suara Lily memelan dan terasa tercekat ketika Dean membuka kaosnya begitu saja. "Gerimis."
"Hm?" Dean yang sudah hendak sedikit memiringkan tubuhnya untuk mengambil kaos di jog belakang sampai menghentikan gerakannya.
Membuat Lily menelan salivanya ketika tubuh shirtless Dean yang berotot sedikit mendekati dirinya.
"Kau bicara apa tadi?" Tanya Dean.
Tapi sebenarnya, dari jarak sedekat ini, dia dapat mencium aroma parfum camomile yang dipakai Lily dan juga dapat memandangi iris mata hazel Lily yang ternyata begitu indah.
Lily kemudian berdeham, "bu-bukan apa-apa."
Dean mengangkat kedua alisnya, kemudian tertawa kecil dan mengambil kaosnya. Lalu memakainya dengan cepat.
"Ah —panas!"
Dean langsung menoleh kearah Lily. "Kau ini, seharusnya di tiup dulu."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dean lalu mengambil gelas kertas yang berisi cokelat hangat milik Lily dan meniupnya perlahan.
"Mana punyamu?" Tanya Lily ketika tidak melihat ada minuman untuk Dean sendiri.
"Stand minuman disana hanya tersisa satu cokelat ini." Dean lalu memberikan cokelatnya pada Lily dan Lily langsung menyesapnya dengan perlahan. "Minuman lainnya sudah habis."
Lily langsung menghentikan minumnya. "Kenapa baru bilang? Kau mau?"
Dean tertawa kecil dan menggeleng. "Aku tidak suka makanan atau minuman yang terlalu manis."
Lily bergumam pelan, "berbeda sekali dengan Ed yang sangat suka makanan manis."
"Hah?"
"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa." Jawab Lily dengan cepat. Lalu dia tersenyum canggung.
Dalam hati Lily merutuk kesal. Bisa-bisanya dia membandingkan Dean dengan Edward!
Lily kemudian melirik Dean sedikit, Dean masih belum menjalankan mobilnya dan tangan lelaki itu saling mengusap satu sama lain.
Lily tahu, Dean kedinginan. Maka dari itu Lily mematikan pendingin di mobil Dean.
"Kenapa tidak bilang kalau kedinginan?"
"Aku tidak kedinginan." Dusta Dean.
Lily tersenyum geli sambil meletakkan cokelatnya dan kemudian menarik kedua telapak tangan Dean begitu saja.
Lily kemudian menggenggam kedua telapak tangan Dean sambil menggosok-gosokkannya dengan telapak tangannya dan meniupnya perlahan.
"Tanganmu dingin sekali."
Dean hanya terdiam, memperhatikan Lily yang meniup-niup telapak tangannya.
Perlahan menjalarkan rasa hangat yang ia rasakan ke genggaman tangannya.
"Bagaimana? Terasa lebih hangat?" Lily sedikit melirik Dean melalui bulu mata lentiknya. "Ed yang selalu melakukan ini ketika aku kedinginan saat berkunjung di London ketika musim semi atau musim dingin."
"Lebih baik." Ucap Dean secara perlahan.
Lily kemudian melepaskan kedua tangan Dean dan tersenyum. "Aku senang dengan konser ini. Yah, walaupun di iringi gerimis."
Dean belum menjawab. Iris matanya fokus menatap bagaimana gadis didepannya ini menampilkan senyum yang menawan. Seakan senyum itu menghipnotisnya dan membuat Dean sampai berkali-kali menatap kearah bibir merah muda Lily yang indah.
"Apa kau sudah mempunyai pacar?"
Pertanyaan Dean yang tiba-tiba itu membuat Lily tergagap bingung. "Eng —belum. Eum, aku tidak pernah berpacaran." Jawab Lily.
Dean lalu mengarahkan tangannya kearah Lily, menyalipkan anak rambut Lily kebelakang telinga gadis itu.
"Kalau begitu,"
Lily terdiam. Dean menggantungkan kalimatnya dan makin mendekatkan wajahnya kearah Lily.
"Kau tidak pernah merasakan ini."
Dalam sepersekian detik itu, tubuh Lily menegang ketika bibir Dean menyentuh bibirnya.
Hangat dan lembab. Menimbulkan sensasi aneh yang membuat jantung Lily seakan ingin meledak.
Tapi ketika Dean mulai menggerakan bibirnya dan seperti mengajak Lily merasakan ciuman ini bersamanya, Lily memejamkan matanya. Berusaha menikmati bibir Dean yang bergerak menyentuh bibirnya.
Dean sendiri tidak tahu mengapa, Dean bisa merasakan bagaimana Lily menyukainya dan tidak keberatan akan ciuman ini.
Sampai Dean mengigit pelan bibir bawah Lily, membuat Lily tersenggal dan membuat Dean berkesempatan memperdalam ciumannya.
Lily tidak bisa berpikir lagi kali ini. Yang dia rasakan, hatinya serasa ingin meledak seiring Dean yang makin intens menciumnya.
Ciuman pertamanya, diberikan untuk cinta pertamanya.