Lamaran Dadakan 2

1461 Kata

“Iya.” “Iya, apa?” “Aku menerima lamaran Pak Arayan.” Aku menarik nafas dalam dan mencoba menahan tangis setelah menjawab lamaran dari Pak Ayang. Rasanya seperti mimpi dilamar pria yang selama ini aku kejar dan menolak ku. Namun, siang ini aku tak bermimpi lagi. Ini nyata, Pak Ayang benar-benar datang membawa kedua orang tuanya untuk melamar ku. Bahkan seserahan yang dibawanya jumlahnya sangat banyak. Umi Fatim berdiri, beliau akan memakaikan cincin yang tadi dibawa oleh Pak Ayang. Kakiku terasa lemas hingga aku tak bisa berdiri sendiri. Tau, jika anaknya tengah gugup, Mama langsung membantuku. “Bismillah ya, Sayang. Semoga niat baik ini di beri kelancaran dan kemudahan oleh Allah,” ujar Umi setelah memakaikan cincin ke jari manisku. “Amin, terima kasih Umi.” Hanya itu yang keluar d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN