Ranjang berukuran besar didalam kamar yang aku tempati dan Pak Ayang pinggirnya terasa dingin. Hanya, di tengah saja hawanya mulai menghangat karena aktifitas yang kami lakukan. Setelah aksi cium-cium dan raba-raba kini kami saling menatap dengan senyum-senyum sendiri. Aneh, sungguh aneh tapi aku dan suami bingung mau mulai dari mana. Harusnya sih pakai insting? Aku mau mengatakan itu pada Pak Ayang tapi malu. Kesannya aku yang tidak sabaran untuk melakukan malam pertama. “Rouhi ...” “Iya.” “Sudah siap?” “Sejak tadi, saking siapnya aku bahkan sampai mengantuk. Sudah pukul 1 pagi, waktunya bobok biar besok gak kesiangan bangunnya.” “Jangan!” Pak Ayang membuka lebar mataku menggunakan ibu jari dan telunjuknya. “Aku masih kepengen.” “Ya, sudah ayo lakukan. Makin dingin nih!” “Kamu ca

