“Terima kasih,” ujar Pak Arayan setelah mencium keningku. Hanya sebentar karena dia juga sama gugupnya sepertiku. Bagaimana aku bisa tahu? Tubuh kami menempel hingga aku bisa merasakan debaran jantungnya. “Bisa jalan? Kita harus ke tempat acara untuk tanda tangan buku nikah dan melanjutkan acara.” “Sepertinya bisa, tapi pelan-pelan.” “Mau aku gendong?” “Bee ...” rengek ku pelan, tanganku masih gemetar tidak bisa mencubit atau memukul lengannya. “Jangan jahil!” Pak Arayan berdiri lebih dulu. Kedua tangannya menjulur ke arahku. Senyumnya semakin lebar saat wajahku mendongak ke atas. “Rouhi, pegang tangan suamimu,” ucapnya dengan lembut. Rasanya ingin menggigit pipi Pak Ayang yang sejak tadi menggoda imanku. Ngeselin dia! Mentang-mentang sudah halal suka banget menggodaku. Lagian aku

