Di depan pintu masuk apartemen suasana hatiku makin buruk, Caroline sudah menunggu dengan muka nyalang. Aku hendak berpaling pergi, namun ia menengok tepat di saat kakiku memasuki pintu lift. "Oh, sudah pulang kamu anak haram?" dengan kesal kupalingkan muka. "Aku sampai mau muntah melihat kamu di sini. Apa yang sebenarnya kamu mau?" ia membalas dengan tatapan penuh benci kemudian menarik tanganku lalu menunjuk di depan hidungku. "Kamu tau, Ibu kamu tinggal dengan suami saya 'kan sekarang?" aku buang muka, agak malas menimpali pembicaraan ini. "Hai, kamu dengar apa yang saya bilang kan anak haram?" cecarnya dengan nada tinggi, hingga ingin rasanya kusobek mulut kasarnya, tapi mengingat dia yang masih merupakan ibu Brian, aku memutuskan tak peduli dan hendak masuk begitu saja ke dalam kam

