Seorang petugas kemanan diskotik menjaga Adri yang duduk terlentang di depan klub malam dengan mulut yang tak hentinya menggerutu keras tak karuan. Sesekali dia menangis atau berteriak kencang membuat sebagian orang mengamatinya dengan tatapan aneh. Langkahku berhenti, iba melihatnya demikian menyedihkan. Sungguhkah aku yang sudah menghancurkan hidupnya demikian rupa? Tidak, aku tidak pernah memintanya mencintaiku, aku bahkan memintanya melepaskanku, tapi dia yang terus memaksakan semua perasaan itu. Tidak sekali pun pernah terlintas dalam benakku hadir dalam hidupnya sebagai perempuan kedua. Wajahnya yang tadi tertunduk dengan isakan tangis seperti anak kecil meratap bangkit perlahan, mengamatiku dari ujung kaki hingga kepala kemudian tertawa dengan gopohnya. "Raina ... " ucapnya kemu

